Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juni 2015

Catper Sumba Hari Ketiga : Gua Waikelo Sawah, Desa Adat Tarong, Savana Lapale dan Air Terjun Lapopu

Hai hai, akhirnya saya mengumpulkan niat untuk menyelesaikan catata perjalanan yang sudah berlalu satu tahun lamanya. Hahaha.

Hari Ketiga kami meninggalkan Tambolaka mengarah ke Sumba Tenagah. Hari ketiga ini kami masih ditemani oleh Markus dan si om supir. Mereka akan mengantar kami seharian sampai ke tujuan akhir : penginapan Sumba Nautil Resort, resort nomor paling ciamik di Sumba versi tripadvisor tahun 2014. Setelah itu untuk besok sampai nanti kami balik ke Denpasar, akan pakai supir dan kendaraan baru yang dicarikan oleh ownernya Suma Nautil Resort.

Kami mengawali hari dengan pergi ke SD Kristen Baliloura untuk memberikan buku-buku dan majalah yang sengaja dibawa dari Jakarta. Kenapa kami pergi ke sana? Karena salah satu guru di sana adalah juga penduduk desa adat Bondo Kapumbu. Menurut saya ada baiknya kalau jalan-jalan ke tempat baru yang memang terpencil, main ke salah satu sekolahnya. Lalu saya diajarin sama salah satu relawan Kelas Inspirasi Lombok. Katanya kalau jalan jalan, bawalah alat tulis barang 1-2 lusing atau juga majalah-majalah bekas, lalu sempatkan untuk main ke salah satu sekolah di sana. Supaya lebih berasa kalau sama-sama orang Indonesia. Supaya kita bukan cuma turis yang datang seperti tamu. Menurut saya sih itu baik dijalankan :)

Bersama para guru SDK BaliLoua. Sebagian guru-guru ini kayaknya seumuran saya.
Jam 10 pagi, kamu sudah selesai main ke SD dan melanjutkan perjalanan panjang kami berikutnya : Gua Waikelo Sawang dan desa adat Tarong.

Gua Waikelo Sawah

Saya lupa-lupa ingat dengan arti nama Waikelo Sawah ini, tapi intinya nama ini memiliki makna sumber air bagi sawah-sawah di sekitarnya. Jadi gua ini adalah gua yang di dalamnya terdapat mata air. Nah dari gua ini, mengalirlah sungai yang menjadi sumber air bagi sawah-sawah. Kalau tidak ada mata air ini, sawah-sawah ini tidak akan punya sumber air.

Jalan setapak menuju ke gua

Kondisi Dalam Gua. Agak susah mengambil foto bagian dalamnya. Oiya di dalamnya banyak kalelawarnya loh.
Di mulut gua

Pemandangan dari mulut gua

Desa Adat Tarong

Destinasi berikutnya adalah Desa Adat Tarong. Desa adat ini termasuk desa adat yang lebih dahulu populer dibandingkan Bondo Kapumbu ataupun Ratenggaro. Jadinya ya komersil banget. Ketika kita sampai, kita langsung disuguhi berbagai macam barang dagangan dan orang-orang sibuk menawarkan barang.

Baru sampai sudah disambut jualan kain >_<

Letak desa adat ini benar benar di atas puncak bukit. Konon katanya, ketika masih marak perang antar suku di Sumba, orang Tarong melempari batu dari puncak bukit ke musuh-musuhnya yang mendekat. Cara ini terbukti efektif karena sampai saat ini desa adat Tarong masih tegap berdiri. Hahaha.

Kami berkesempatan memasuki salah satu rumah ada dan mendapatkan beberapa penjelasan filosofi dari rumad adat Sumba. Seperti lambang taring babi dan taring kerbau yang mewakili banyaknya upacara. Lalu juga tungku memasak yang bentuknya segitiga, melambangkan organ reproduksi wanita, mengingatkan tugas istri untuk menyediakan masakan. Lalu setiap rumah juga harus memiliki tempat besar yang isinya air, karena air adalah sumber kehidupan. Harapannya supaya rumah tersebut selalu sejahtera dan mengalirkan kehidupan bagi sekitarnya. Dalem ya. Hehehe.

Tanduk kerbau pertanda bahwa keluarga ini pernah mengadakan upacara adat.

Tungku dengan pilar segitiga. 

Kendi yang selalu berisi air.

Rumah adat di Desa Adat Tarong hampir sama dengan rumah adat di Bondo Kapumbu. Hanya saja, di sini sebenarnya ada dua desa yang berbeda. Penduduk desa di sini juga masih melakukan kegiatan sehari-hari. Rumah disusun saling berhadap-hadapan, dan di antaranya ada kuburan batu dan juga tempat untuk melakukan upacara adat. Hanya saja, kalau di sini, kuburan tidak diperlakukan istimewa. Sebagian batu kubur dipakai untuk menjemur pakaian, menaruh kayu bakar atau menaruh barang-barang lain. Ohiya, di sini babi berkeliaran dengan bebas layaknya anjing atau kucing kalau di jakarta hehehe.

Kubur batu yang menjadi tempat jemuran dan menyimpan kayu bakar

halaman yang dipakai untuk menjemur kayu dan lihat ada babi jalan jalan!
Di sini kamu juga berkesempatan untuk berbicara dengan salah satu tokoh agama Marapu yang merupakan warga desa sini, orang memanggilnya Mama. Marapu adalah agama asli orang Sumba. Salah satu kekhasan agama ini adalah membaca kehendak yang kuasa melalui isi perut ayam atau kambing. Kemudian agama Kristen masuk, lalu Marapu berasimilasi dengan agama Kristen. Salah satu bentuknya adalah kalau melihat kubur batu orang Sumba, bagian tengahnya itu retak. Itu melambangkan kuburan Yesus yang terbuka di hari ketiga, harapannya supaya yang meninggal bangkit seperti Yesus.


Mama sedang bercerita tentang Marapu
Berbicara dengan Mama membuat saya menyadari betapa sangat berartinya kearifan lokal tiap-tiap daerah. Kata Mama, Marapu tidak punya kitab suci, semuanya dari hasil ajaran omongan ke omongan. Saya sungguh berharap, kearifan-kearifan agama Marapu bisa tetap terpelihara dari generasi ke generasi.

Siang itu langit Tarong sedang biru-birunya. Dan langit biru itu bagus untuk foto-foto. Jadilah akhirnya kita menutup kunjungan ke desa Tarong dengan foto-foto.

Desa Adat Tarong
Ini ga tau kenapa ga mau dirotate, Ya sudahlahya.
Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang. Belajar dari pengalaman kemarin, kali ini kami sudah lengkap membawa bekal makan siang. Jadi sambil makan di mobil, kami meninggalkan Sumba Barat menuju ke Sumba Tengah.

Savana Lapale

Tujuan berikutnya adalah air terjun Lapopu, namun di tengah perjalanan, kami melewati padang savana yang sangat-sangat cantik. Jadilah akhirnya kita memutuskan untuk berhenti dan foto-foto. Agak jauh naik ke atas bukitnya, butuh sekitar 30 menit. Tapi begitu sudah sampai ke atas... surga :)


Waktu itu agak mendung, jadi warna hijaunya kurang keluar, tapi itu pun juga juga bagus. Biarkan foto-foto yang bercerita deh kalau untuk Lapale ini hehehe.

Red between the green

Ini dia lapale :)

pose wajib tampak belakang hahaha

ada kerbaunyaaa

Inu sedang mengambil foto, Sedikit agak nyaru :p

Air Terjun Lapopu

Selesai menikmati indahnya Lapale, kami melanjutkan lagi perjalanan ke Air Terjun Lapopu. Air terjun letaknya agak jauh. Karena kurangnya pengetahuan dari supir dan guide, rute yang kami ambil itu agak muter-muter. Menurut si guide harusnya kita ke lapopu lebih awal. Jadi mungkin saran buat teman teman yang mau kesana, cek lagi di peta tujuannya gimana dan jalannya gimana biar ga muter muter.

Kami baru sampai di lokasi air terjun itu sekitar jam 4 sore dengan kondisi langit mendung. Jadi kita agak sedikit tergesa-gesa karena takut hujan.

Ait Terjun Lapopu terletak di kawasan hutan lindung. Untuk masuk, kita harus mendaftar terlebih dahulu di pos penjagaan. Setelah itu kita harus menempuh trek yang cukup seru sekitar 20-30 menit lah tergantung jalannya pake banyak foto-foto atau engga. Hehehe.

Air Terjun Lapopu dari kejauhan

Jembatan bambu yang terbuat dari bahan alami. Hanya bisa dilewati maksimal 2 orang.

Sungai yang berasal dari air terjun Lapopu

Yeay akhirnya sampai! Selfie duluuuu :p



The beauty of Lapopu

Simply beauty
Air terjun Lapopu ini masih sangat alami. Ga bisa berenang atau main air karena arusnya sangat kencang. Lalu tidak ada tempat duduk atau tempat untuk menunggu, yang ada cuma batu-batuan sebagai tempat duduk saja. Sejauh ini, ini air terjuan nomor dua paling cantik setelah air terjuan Mardikapura di Malang (eh bener ga si itu namanya?)

Perjalanan kami lanjutkan menuju penginapan Sumba Nautil. Seperti yang sudah dibilang sebelumnya, penginapan ini letaknya lumayan jauh. Kami baru sampai sekitar pukul 8 malam dalam keadaan kelaparan hahaha. Sayangnya, karena letaknya yang jauh dari mana-mana, kalau mau pesan makan ga bisa langsung ada, harus kasih tau dari pagi hari.

Penginapan ini BAGUS banget. Paling fancy dan paling trendy dari segi fasilitasnya. Isinya bule semua, sebagian besar om om surfer dan satu pasangan bule yang kayaknya lagi bulan madu.
Ga sia-sialah bayar hampir 2 juta per malam untuk satu kamar sudah lengkap dengan extra bed. Nyaman banget.

Karena hari ini lumayan lelah, saya tidur lebih dahulu. Sementara Inu dan Bita agak bimbang karena mereka ingin melihat pantai Walakiri di Sumba Timur sementara rencana esok hari adalah menjelajah Sumba Selatan, ke pantai Tarimbang. Jadi bagaimana? Jadi nantikan perjalanan kami hari ke empat di postingan saya selanjtnya yaaaa hehehe.

[ ]
*Foto-foto diambil dari koleksi pribadi Bita dan Inu.

Rabu, 25 Maret 2015

CatPer Sumba Hari Kedua : Menapaki Desa Adat Ratenggaro dan Pantai Pero

Jadi kawan kawan, ini adalah cerita perjalanan saya, Inu dan Bita ke pulau Sumba bulan Mei 2014 lalu Cerita hari pertama bisa dibaca di sini, cerita tentang Danau Wekuri dan Pantai Mandorak bisa dibaca di sini.

Menurut rencana perjalanan, hari ini kami masih bisa mengunjungi dua tempat lagi, yaitu desa adat Ratenggaro dan menikmati matahari tenggelam di Pantai Pero.

Desa Adat Ratenggaro

Kami sampai di desa adat Ratenggaro sekitar jam tiga sore. Desa adat Ratenggaro ini termasuk salah satu desa adat yang wajib dikunjungi di Sumba karena memiliki makam yang berasal dari jaman megalitikum, jaman pra sejarah di mana manusia masih menggunakan peralatan yang terbuat dari batu. Desa ini terletak di pinggir pantai Ratenggaro. Salah satu hal lain yang khas dari desa ini adalah atap rumah adatnya yang menjulang tinggi ke atas.




Oiya, asal nama desa ini sedikit agak menyeramkan sih. Rate itu artinya kuburan, sedangkan Garo artinya orang-orang Garo. Mengapa demikian? Jadi begini, ketika masih terjadi perang antar suku, suku dari orang yang sekarang menjadi penghuni desa ini berhasil merebut desa orang-orang Garo. Di jaman itu, kalau kalah perang ya dibunuh semua dan dikubur di situ juga. Jadilah ini tempat dikuburnya orang-orang Garo. pada jaman itu, katanya kalau menang perang, kepala orang-orang yang dikalahkan itu digantung di atap rumah loh. Serem ya.

Hampir sama seperti orang Flores dan orang Toraja, di rumah adatnya, ada rahang babi dan tanduk kerbau yang digantung sebagai simbol bahwa yang punya rumah pernah melaksanakan upacara adat. Lumayan mahal juga loh, kalau buat babi bertaring harganya itu 30 jutaan, kalau kerbau sekitar 35 jutaan.

Rumah adat Sumba memiliki 4 tingkat. Bentuknya adalah rumah panggung. Paling bawah adalah tempat hewan peliharaan. Lalu tingkat kedua adalah tempat manusia tinggal, setelah itu di atasnya ada tempat untuk menyimpan hasil panen, biasanya digantung. Kemudian di atas tempat memasak ada sebuah kotak yang merupakan tempat menyimpan benda keramat. Paling atas, di puncak rumah adat, diletakkan tanduk kerbau sebagai tanda kemuliaan.

Tempat Penyimpanan Benda Keramat
Rumah adat Sumba biasanya didirikan bersama-sama oleh beberapa keluarga. Bila ada rumah adat yang rubuh, dipercaya bahwa telah terjadi perselisihan antara keluarga yang tinggal didalamnya. Orang Sumba percaya bahwa rumah memerlukan pondasi yang kuat supaya tidak rubuh, dan pondasi yang paling kuat adalah keharmonisan antar keluarga yang tinggal di dalamnya. Sungguh dalam dan penuh makna.

Seperti yang sudah saya bilang di atas, Desa adat Ratenggaro ini memiliki kuburan yang berasal dari jaman megalitikum, atau sekitar tahun 900an. Kuburan ini dipercaya adalah kuburan milik seorang raja bernama Ratendalih (semoga bener nih gw baca tulisan tangan gw sendiri, hahaha). Ratendalih punya tiga istri. Istri pertsama diberi desa Ratenggaro, istri kedua diberikan desa yang lain, istri ketiga tidak punya anak, jadi ga dapet jatah desa. Ketika Ratendalih meninggal, dia memililh dikuburkan di desa Ratenggaro.


Di desa-desa adat yang ada di Sumba sendiri, bisa dilihat ada beberapa macam jenis kuburan. Ini menggambarkan perubahan bentuk kuburan adat sesuai dengan berjalannya waktu.
1. Kotak-kotak kecil, ini adalah kuburan yang paling tua, karena waktu itu jumlah orangnya masih sedikit.
2. Kotak dengan atap berbentuk bulat, tidak ada penjelasan lebih lanjutnya 
3. Kotak dengan ukuran yang lebih besar, ini karena jumlah orang semakin banyak,
4. Kotak dari beton, ini adalah kuburan yang palinf modern.
Bila ada ukiran seperti yang terlihat di foto kami di atas, ukiran ini menunjukan jumlah harta kekayaan yang dia miliki ketika masih hidup.


Desa adat Ratenggaro ini terletak di pinggir pantai, kerap juga disebut desa mengapung, karena bila air laut pasang, dari kejauhan desa ini seolah-olah mengapung di atas air.

Desa Ratenggaro dari kejauhan
Di desa ini, sistem pariwisatanya sudah berjalan dengan baik. Ketika kita datang, ada semacam guide yang tak lain adalah kepala desa dari desa Ratenggaro ini yang menyambut, mempersilakan mengisi buku tamu, dan memberikan penjelasan yang sangat rinci mengenai desa ini. Penduduknya juga cukup ramah dan fasih berbahasa Indonesia. Kami  menyempatkan diri mengobrol sambil melihat beberapa barang yang dijual oleh penduduk setempat. 


Tanda Mata dari Ratenggaro
Saya memutuskan membeli sebuah kalung dengan bentuk yang dinamai "mamoli". Waktu saya tanya, katanya ini adalah simbol untuk wanita dari keluarga bangsawan, simbol kecantikan. Belakangan saya baru tahu bahwa mamoli ini menyimbolkan rahim wanita :)

Mamoli

Waktu sudah menunjukan pukul empat lewat, kami lalu bergegas mengakhiri kunjungan. Oiya, sampai sekarang kadang-kadang saya masih SMSan sama kepala desanya. Hehehe.


Pantai Pero

Hari kedua ditutup dengan melihat matahari terbenam di Pantai Pero. Ini adalah pantai dengan pemandangan matahari terbenam paling cantik nomor dua setelah kepulauan Komodo. Cantiknya bukan main. Biar gambar saja yang bercerita ya.


selfie dulu

Pantai Pero di"pagari" oleh barisan karang

Air yang bning dan nelayan yang sedang mencari ikan yang terperangkap
Sunset di pantai ini dramatis!


Dramatis
Tak lupa kita juga merekam video 360 di sini. Hahaha.



Kiss the sun!
Oh iya. Jalan menuju pantai ini belum benar-benar bisa disebut jalan sih. Kita harus melewati hutan hutan dulu. Dan sepanjang jalan ke sini tidak ada lampu jalannya. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Tambolaka sebelum matahari terbenam. Daaaan kami kelaparan setengah mati, belum makan dari pagi karena tidak ada tempat makan sepanjang jalan.

Dan berakhirlah perjalanan hari kedua. Malam ini adalah malam terakhir kami di Tambolaka. Besok perjalanan dilanjutkan ke Sumba Tengah, rencananya kami akan menginap di Sumba Nautil Resort. Agenda besok lumayan padat, ada Kampung Adat Tarong, Wakelo Sawah, Air Terjun Lapopu dan Pantai Marosi! Jadi nantikan catper Sumba hari ketiga dalam waktu dekat ya ;)

[ ]

Minggu, 01 Februari 2015

Catatan Perjalanan Sumba Hari Kedua : Surga itu Bernama Wekuri dan Mandorak

Ini adalah cerita perjalanan saya, Inu dan Bita ke pulau Sumba bulan Mei lalu. Cerita hari pertama bisa dibaca di sini.

Hari kedua di Pulau Sumba dibuka dengan bangun kesiangan dan melewatkan sunrise. Padahal penginapan kita tepat berada di pinggir pantai. Tapi tidak mengapa, masih ada satu malam lagi di penginapan ini.

Sesuai janji dengan Markus tadi malam, pagi itu kita bertemu di persimpanagan dekat SPBU kota Tambolaka. Ternyata Markus membawa dua orang tamunya. Dia bilang kita bisa bersama-sama pergi ke beberapa tempat. Karena sopir dari mobil sewaan kami masih kurang familiar dengan jalan di Tambolaka, kami mengekor mobilnya Markus.

Tujuan pertama hari ini : Rumah Budaya Sumba

Museum Rumah Budaya Sumba
Di museum ini kita bisa mendapatkan beberapa informasi mengenai kebudayaan Sumba, karena ternyata di Sumba ini ada banyak suku dengan adat istiadat yang berbeda-beda.  Sayang di dalam museum ini kita tidak diperbolehkan mengambil foto.

Di dalam museum ini kita bisa melihat beberapa jenis kain tenun dari berbagai macam suku. Orang Sumba juga telah mengenal  perhiasan yang terbuat dari logam seperti gelang, kalung dan juga sisir. Kita juga bisa melihat beberapa alat musik, peralatan memasak yang dibuat dari tanah liat dan juga peralatan bertani seperti alat memeras tebu, alat berburu, palang gerbang rumah adat dan juga alat pacu untuk upacara Pasola.

Museum ini didirikan oleh Pastor Robert Ramon pada tahun 2010. Penanggung dananya adalah seorang wanita yang menduduki posisi cukup tinggi di produksi air mineral Aqua. Tapi kita tidak diberitahu siapa namanya. Salut saya untuk ibu manajer ini atas usahanya untuk melestarikan budaya Sumba lewat museum ini. Ohiya, di dekat museum ini juga ada sbeuah gereja katolik yang sedang direnovasi.

Setelah meninggalkan museum, kami menjemput dulu seorang teman Markus yang bernama Kitty. Kitty bergabung dengan mobil kami, tujuannya supaya mobil kami tidak terlalu bergantung dengan mobil Markus kalau-kalau ternyata nyasar.

Lanjut ke tujuan ke dua, tujuan yang paling dinanti-nantikan semua orang :

Danau Wekuri!

Perjalanan ke Danau Wekuri ini memakan waktu lebih lama dari yang kami kira : 2 jam saja sodara sodara! Padahal kalau lihat di peta, tempatnya harusnya ga jauh-jauh amat. Infrastruktur di Sumba Barat ini memang masih jauh dari ideal. Jalan yang harus ditempuh menuju ke Danau Wekuri masih berupa jalan setapak yang pas-pasan untuk dilewati mobil. Karena masih setapak, mobil tidak bisa melaju kencang. Maksimal 20 km/jam. Sepanjang jalan juga tidak ada petunjuk arah, sinyal GPS, ataupun lampu jalan. Saya pribadi sedikit agak parno kalau-kalau kita kesasar, karena sopir nya agak kurang meyakinkan. Huhuhu.

Kebayang ga menelusuri jalan seperti ini selama lebih dari 1,5 jam tanpa sinyal GPS
Waktu sudah menunjukan pukul setengah 12 ketika kami tiba di Danau Wekuri. Dan perjalanan dua jam yang sedikit menegangkan itu terbayar sudah.

Kalau katanya surga itu terpecah menyebar di penjuru dunia, maka Danau Wekuri adalah salah satu pecahannya.

Danau Wekuri


clear sky, clear water, i couldnt ask for more
Ketika kami sampai, ada empat orang asing yang juga sedang bersantai di pinggir danau. Ternyata salah satu dari mereka adalah orang yang menemukan danau ini! Jadi ceritanya, waktu mereka lagi naik pesawat terbang, dari atas mereka melihat ada danau. Lalu selama tiga hari dengan menggunakan kuda, mereka mencari tempat ini dan voila, di sinilah kami sekarang menikmati keindahan danau Wekuri :) Bule ini sempat menawarkan untuk main ke tempat mereka, katanya tidak jauh dari sini. Penasaran sih, karena seingatan saya, tidak ada apa-apa sepanjang perjalanan.

Air danaunya sangat jernih dan tenang, kita sampe bisa bikin video ini hahaha. 



Setelah sekitar satu jam bermain-main di Danau Wekuri, kami pindah tempat ke tujuan berikutnya, yaitu pantai.

Pantai Mandorak

Letaknya tidak jauh dari Danau Wekuri, tidak sampai 10 menit naik mobil. Dan begitu kami sampai dan melihat pantainya, saya langsung teriak teriak kegirangan. Ini adalah pantai terindah yang pernah saya datangi :')

itu saya, yang udah kegirangan main main di pasir

Pantai ini adalah pantai kecil yang dikelilingi oleh batu karang. Pasirnya haluuus banget. Airnya biru kehijauan. Dan, para nelayan juga menggunakan pantain ini sebagai tempat berangkat dan pulang melaut. Indah bangetlah pokoknya, udah ga tau harus ngomong apalagi.


I can spend my whole day just sitting here. Tapi habis itu gosong dan kulitnya kebakar sih. Hahaha.

my version of heaven
Pas kami bermain di situ, pas banget ada nelayan yang baru pulang melaut. Ini videonya :


Surga banget kan? Pantai ini dikelilingi bukit karang dan di sisi kiri pantai ini, tepatnya di atas bukit, ternyata ada semacam rumah. Sepertinya, ini adalah rumah yang dimaksud oleh bule yang kami temui di Danau Wekuri tadi. Tinggal di tepi pantai macam ini bagaimana rasanya ya..

Rumah di tepi bukit
Dan, pantai ini adalah cocok untuk pose pose kalender. Hahaha. Saya dan Bita langsung bereksperimen dengan berbagai macam gaya hahaha.

Pose kesukaan hahaha. Sok iya banget ya.

Our usual fail yoga pose hahaha
Dan tentu saja kami juga tidak lupa membuat video 360 :D


We are soooo happy!

Dan demikianlah kesimpulan saya sejauh ini, bahwa potongan surga itu ada di Sumba, namanya Wekuri dan Mandorak. Dan mungkin  potongan surga ini bisa tetap demikian karena keterbatasan akses ke sini. Coba bayangkan kalau sudah ada lapak-lapak indomie dan es kelapa di kiri kanannya, mungkin ga sesurga ini lagi.

Egois ga sih kalau Sumba dibiarkan seperti ini saja supaya tidak menjadi seperti Bali? Tapi kalau begitu, bagaimana dengan perkembangan sumber daya manusianya?

Jam sudah menunjukan pukul dua siang dan akhirnya kami memutuskan untuk bergerak ke tujuan selanjutnya, yaitu  Desa Adat Ratenggaro dan Pantai Pero. Kami belum makan siang, dan perjalanan dari Pantai Mandorak ke panti Pero sebelas dua belas dengan perjalanan sebelumnya. Kiri kanan isinya hanya pohon dan semak belukar. Belum lagi ditambah kepanikan ketika di jalan yang sesempit itu tiba-tiba ada mobil datang dari arah berlawanan. Hahaha. Namun karena memang sudah sangat bersemangat, kami semua bisa menahan lapar.

Ok, supaya ga terlalu panjang dan capek bacanya, sampai di sini dulu saya. Cerita tentang Desa Adat Ratenggaro dan Pantai Pero akan saya ceritakan terpisah di postingan berikutnya yes! Layaknya rumah makan Padang, mohon sabar menanti hehehe.

[ ]


Selasa, 25 November 2014

Dua Hari Satu Malam di Tanah Toraja

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali! November tahun lalu saya mendapat rejeki jalan-jalan ke Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Dibuka dengan dua hari di Tanjung Bira yang serunya lumayan absurd hahaha, dilanjutkan dengan jalan-jalan ke Maros hari ketiga (ini ceritanya belum saya tulis, sabar yak :p), hari ke empat dan ke lima adalah spesial untuk Toraja!

Saya semangat sekali pergi ke Toraja ini. Toraja termasuk salah satu tempat yang ingin saya datangi sejak dari kecil. Alasannya? Gara-gara baca cerita tentang kuburannya di majalah Bobo waktu saya SD. Hehehe, maklum anaknya emang suka agak klenik.

Toraja terletak di sebelah utara kota Makassar, sekitar 6-7 jam perjalanan darat.


Ini ceritanya saya uda lupa hari ketiga itu hari apa yah haha, jadi saya Inu Zulfi dan Tendy pergi ke Toraja hari ketiga malam sehingga bisa sampai ke Rantepao, kota besar paling dekat dengan Toraja, hari ke empat pagi. Sebenarnya kalau mau bisa saja ambil jalan siang sehingga bisa menikmati pemandangan yang katanya bagus banget sepanjang perjalanan, tapi karena waktu yang terbatas, kita putuskan untuk jalan malam saja. Hemat waktu dan hemat penginapan hahaha. Lumayan dua malam bermalam di bus kan jadinya.

Bintang Prima si bus malam nyaman
Kita berangkat dari pul bus Bintang Prima yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan KM 12. Tepat waktu, kita menunggu kira-kira setengah jam sebelum akhirnya bis berangkat. Bisnya nyaman banget, ngalahin bis Super Eksekutifnya Harapan Jaya. Hahaha. Harga tiketnya kalo ga salah 180 ribu, tapi sungguh nyaman sekali. tempat duduknya empuk, selimutnya tebal, ada gulingnya pulak. Dan kita dapat tempat duduk paling belakang, jadi bisa jejer berempat, lumayan bisa pillow talk dulu sebelum bobo (baca : curhat hahaha). Saya tidur kayak bayi, bangun-bangun eh udah nyampe aja

Kita sampai di Rantepao sekitar jam 6 pagi. Waktu kita turun, sudah banyak orang yang menawarkan kendaraan atau penginapan. Kebetulan Zulfi punya teman sekantor yang asli orang Toraja. Teman kantor Zulfi ini memberikan rekomendasi guide, namanya Pak Yatim. Pak Yatim ini memanggil Zulfi dengan sebutan Pak Jusi. Tidak peduli seberapa sering kita membenarkan penyebutan nama Zulfi, sampai ketika kami sudah kembali ke Jakarta pun, melalui pesan singkat di telpon seluler, Pak Yatim tetap memanggil Zulfi dengan Pak Jusi! Hahahaha.

Pak Yatim sedang menceritakan sejarah suk
Pak Yatim ini termasuk salah satu guide senior di Toraja, bukan hanya jadi guide, beliau juga menyediakan transportasi untuk kita ber-empat berupa mobil kijang Inova lengkap dengan supir dan bensin. Bener-bener turis mode : ON banget lah ini. Mahal? Yah tentu saja. Kalau mau ala backpacker di sini bisa banget. Bisa sewa motor dan jalan sendiri ke spot-spotnya, tapi karena tempatnya itu jauh-jauh jadi lebih banyak makan waktu, belum termasuk nyasar-nyasarnya. Kalau cuma punya waktu sebentar di Toraja, pake servis guide mungkin jauh lebih efektif.

Tujuan pertama setelah dijemput oleh Pak Yatim adalah ke penginapan tempat kita akan bobo nanti malam, yaitu Pia's Poppies



Pia's Poppies ini termasuk salah satu guesthouse yang paling populer. Tadinya kita memesan untuk dua kamar, tetapi ketika kita datang yang tersedia adalah satu kamar untuk tiga orang. Setelah melihat kamarnya, ternyata cukup besar. Diputuskan, dua tempat tidur ditempel jadi satu, itulah tempat Tendy Inu Zulfi tidur. Saya mendapatkan kenyamanan tidur sendiri di satu tempat tidur di pojokan. Pia's Poppies ini pembayarannya per kamar per orang. jatohnya jadi sekitar 66k - 99k IDR, tergantung 1 kamar diisi oleh berapa orang.

Setelah membereskan urusan penginapan, kami sarapan dulu karena kelaparan. Pak Yatim membawa kami ke sebuah rumah makan khas Toraja, namanya Riman. Restoran ini menjual kopi Toraja juga.


 Sambil sarapan, Pak Yatim bercerita tentang sejarah suku Toraja dan tentang kepercayaan asli Toraja, yaitu Aluk To Dolo. Saya langsung bertanya tentang kemistikan Toraja, tentang mayat yang bisa berjalan sendiri. Menurut pak Yatim, "magic" itu ada karena kepercaraan dari para manuisa itu sendiri. Semakin sedikit yang percaya, maka "magic" itu makin lama ya memdar. Hmmm..

Dua hari di Toraja itu KURANG! Karena waktu yang terbatas, Pak Yatim hanya membawa kita ke tempat yang benar-benar paling OK menrut dia.

Ada segini banyak spot wisata di Toraja, dua hari mana cukuuuuup!
Tujuan pertama kami hari ini adalah kuburan bernama Lokomata. Butuh sekitar 40 menit untuk menuju ke sana. Sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan alam yang indah. Sejuk dan damai. Terkadang di pinggir jalan kita menemui kuburan baru di bukit batu pinggir jalan.

Beuatiful scenery of Toraja
Tapi yang paling unik adalah ketika kita melewati sebuah lapangan di mana ada kulit kerbau yang sedang dijemur. Itu BESAR BANGET. Ya namanya juga ga pernah liat yang kayak gitu ya, kita langsung minta turun dan foto-foto di situ. Hahaha.

Kulit kerbau dijemur
Sesi foto berakhir ketika tiba-tiba anjing penjaga lapangannya mulai ga santai dan menggonggong ke arah kita. Ternyata pada takut anjing. Okesip. Saya engga sih tapinya. Oke, dikit. Hahaha.

Di sepanjang jalan di dekat kuburan kita juga kadang kita melihat ada rumah adat Toraja kecil di pinggir jalan atau di dekat makam batu pinggir jalan yang kita lewati. Namanya Erong, semacam keranda versi Toraja. Nah, menurut adat Toraja, Erong ini akan ditinggal di depan makam yang bersangkutan, bersama dengan barang-barang yang bersangkutan dengan almarhum yang meninggal.

Kubur Batu di pinggir jalan dan salah satu erong yang masih utuh di dekat mulut kubur.
Lokomata

Akhirnya kami sampai juga di tempat tujuan pertama : Lokomata, secara harafiah artinya adalah batu yang memiliki banyak lubang atau mata. Maksud dari lubang atau mata, ya kuburan Toraja itu sendiri.

Lokomata ini terkenal karena merupakan salah satu batu alami terbesar yang bisa memuat begitu banyak orang di dalam dekapannya.

Kuburan batu Lokomata. Batu dengan banyak "mata"

Jejeran Erong

Kira-kira sebesar ini kuburan batunya kalo dibandingin sama Inu 
Batu Tumonga

Setelah puas berfoto-foto di sini, perjalanan dilanjutkan ke Batu Tumonga,  tepatnya ke sebuah restoran bernama Mentirotiku, Toraja. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan di sini. Pertama, menikmati kabupaten Toraja dari puncak bukit. Bagi saya, pemandangannya agak-agak sureal. Jejeran awan, gunung dan pohon dengan corak yang abstrak.

Pemandangan dari Mentikoroti

Kedua, kita bisa melihat kerbau Toraja dari dekat. Ukurannya memang fantastis dan dia sedang sedang dimandikan. Kerbau ini nilainya seharga mobil avanza.


Ketiga melihat aneka ragam ukiran khas Toraja yang diambil dari dinding Tongkonan yang sudah dibongkar. Ukiran - ukiran ini disimpan di sebuah gudang dan memiliki berbagai macam arti. Yang paling saya suka adalah ukiran Tangke Lumu atau Tangkai Lumut, kalau di gambar di bawah ini yang bentuknya muter-muter kayak ombak. Arti ukiran ini adalah bahwa keluarga itu sama seperti lumut, selalu bersama-sama, tidak pernah terpisah. kalau diperhatikan, ukiran lumut ini memang sambung - menyambung.

Macam macam ukiran Tongkonan



Keempat, melihat beberapa bangunan Tongkonan yang atapnya masih menggunakan bambu, bukan seng seperti yang kebanyakan ditemui di sepanjang jalan Toraja.

Tongkonan atap bambu
Kampung Adat Bori

Dari Batu Tumonga, kita menuju ke Bori, kampung adat yang terkenal dengan taman megalitikumnya. Kampung Bori adalah salah satu warisan budaya megalitikum di Indonesia.

Susunan batu megalitikum di kampung Bori
Batu - batu ini berfungsi sebagai salah satu sarana pelaksanaan pesta adat di kampung tersebut. Ini kalau ga salah ya, kalau salah mohon maaf dulu, begini nih ceritanya. Jadi  ketika ada acara adat, kerbau yang akan dikorbankan diikat di salah satu batu, tergantung dari tingkatan kastanya.

Di kampung Bori ini, kita juga bisa melihat Tongkonan yang punya tanduk kerbau yang tinggi sekali, saking tingginya untuk bisa dapet semua tanduknya dalam satu frame harus difoto dari bawah sambil tiduran. Hehehe. Oh iya, di sini juga ada patung kerbau albino yang cukup besar loh. Patung ini dibuat untuk memperingati sebuah pesat adat yang pernah diadakan di kampung ini dan ketika pesta tersebut, keluarga yang merayakan menyembelih kerbau albino sebesar patung tersebut.

Desa Adat Sadan

Dari Kampung Bori, kita menuju ke tujuan terakhir kita hari itu yakni Desa Adat Sadan. Desa ini juga terkenal sebagai desa tenun. Di sini kita bisa melihat langsung proses produksi kain tenun khas Toraja. Sayangnya waktu itu saya sedang bokek luar biasa, sehingga cuma lihat-lihat dan pegang-pegang saja, tidak berani nanya harga, takut sakit hati. Hahaha

Jejeran kain tenun khas Toraja
Selain bisa melihat kain tenun, di desa adat Sadan terdapat jejeran rumah Tongkonan yang asri di tepi sungai. Kami menghabiskan sekitar hampir satu jam untuk berfoto, menikmati pemandangan dan matahari tenggelam dengan duduk duduk di bawah lumbung padi.

Desa adat Sadan di tepi sawah
Ada cerita rakyat yang menarik yang diceritakan pak Yatim kepada kami sore itu. Kalau diperhatikan, lumbung padi yang terletak di seberang tongkonan itu, pondasinya selalu terbuat dari pohon aren. Ini ada alasannya. Jadi dulu, manusia itu bisa mengerti bahasa binatang. Suatu hari ada seorang petani yang sedang mencari kayu di hutan. Dia tidak sengaja mendengar percakapan dari tikus tanah. Tikus itu bercerita bahwa badannya luka luka terkena duri dari pohon aren. Melihat hal tersebut, raja tikus memutuskan untuk melarang tikus tikus lainnya memanjat pohon aren supaya tidak terluka. Mendengar hal itu, petani itu lalu menceritakan kepada teman petani yang lain. Sejak saat itu, tiang tiang lumbung terbuat dar pohon aren supaya tidak ada tikus yang bisa memanjat dan memakan hasil panen.

Cafe Aras

Hari pertama akhirnya selesai sudah. Pak yatim mengajak kami ke sebuah tempat hip namanya Cafe Aras. Cafe ini cafe modern, makanannya juga makanan western. Harganya sih harga jakarta, agak mahal tapi memang konsepnya konsep bule. Kalau memang ingin bertualang mencari makanan khas toraja, ya jangan ke sini hehehe.


Setelah makan malam, kami mencari toko souvenir dan toko kopi. Pada mau beli kopi toraja yang terkenal itu. Banyak warung yang menjual kopi Toraja di Rantepao jadi tidak perlu khawatir.

HARI KEDUA

Pasar Bolu, Pasar Hewan Toraja

Kami cukup beruntung karena di hari kedua kami berada di Toraja bertepatan dengan hari diadakannya pasar Hewan. Seperti namanya, pasar ini isinya adalah orang-orang berjualan hewan. Pasar ini hanya buka tujuh hari sekali. Biasanya orang-orang dari seluruh daerah akan datang ke sini untuk menjual hewan peliharannya. Yang paling mencolok : babi dan kerbau. Satu lapangan isinya babi dan kerbau. Hahaha.

Kerbau, kerbau's everywhere
Babi, babi's everywhere
Pasar hewan ini ga recommended kalau orangnya ga suka jorok dan ga suka bau, hehehe. Tapi kalau ingin mengenal dan mengalami kebudayaan Toraja, pasar ini sangat menarik. Kita bisa melihat tawar menawar kerbau seharga mobil, dan bagaimana orang orang Toraja ini mengorganisir pasar hewan ini tanpa kegaduhan, padahal itu kerbau ada di mana mana. Hehehe.

Kami juga sempat diajak menelusuri pasar tradisionalnya. Kopi Toraja dijual di mana-mana. Wangi kopi dan rempah-rempah sangat tajam sepanjang jalan, membuat saya senang tanpa alasan. Hehehe.

Kopi Toraja
Upacara Adat Kematian di Nanggala

Keberuntungan masih  berpihak pada kami. Hari itu juga sedang diadakan upacara kematian di desa Nanggala. Setelah menghabiskan sekitar hampir 2 jam di pasar hewan, kami menuju ke Nanggala.
Pesta adat kematian di Toraja tidak serta merta diadakan ketika ada anggota keluarga yang meninggal, tetapi tergantung kesiapan keluarganya. 

Upacara kematian  Toraja cukup rumit dan ramai. Orang yang datang harus mengisi daftar hadir terlebih dahulu dan duduk di tempat yang telah ditentukan tergantung hubungan keluarganya. Keluarga dekat duduk di tempat khusus, keluarga yang lebih jauh hubungannya dipersilakan duduk di tempat tempat yang lebih kecil, yang sudah diberi nomor supaya tidak salah. Di acara yang kami datangi, nomor tempatnya itu mencapai enam puluhan, dan satu tempat itu bisa berisi sampai 10 orang. Jadi bayangkan saja berapa banyak orang yang ada di acara ini.



Kami tidak menghadiri acara sampai selesai. Acara dibuka dengan para keluarga inti yang sudah menggunakan baju adat datang dan menjemput para keluarga dekat, berjalan mengitari area upacara, lalu duduk di tempat yang sudah disediakan. Kemudian sekumpulan wanita dengan pakaian adat melayani seluruh undangan dengan menyajikan kue kue dan minuman. Cucu cucu dari keluarga inti mengenakan baju khas Toraja menyambut para tamu. 

Mengantar makanan untuk para tamu

Tak lama setelah itu, pemimpin upacara memulai acara dengan berdoa dan menceritakan hakikat kehidupan manusia dari lahir sampai meninggal, dengan bahasa toraja tentunya. Kemudia kerbaunya tidak disembelih dengan cara orang jawa, tapi ditebas lehernya ketika kerbaunya sedang berdiri santai. Serem.

cukup sekali melihat yang kayak gini :(
Dan setelah adegan horor ini, saya minta pulang hehe. Ga berani liat kelanjutannya. 

Oh iya, setelah prosesi pemotongan kerbau ini, petugas upacara menghitung dan membacakan babi yang telah dibawa ke upacara. Akan disebutkan dengan pengeras suara babi yang ini berasal dari keluarga mana. Ada ratusan babi di arena upacara ini. Jadi kebiasaannya adalah keluarga yang datang akan membawa babi atau kerbau, lalu nanti ketika keluarga ini mengadakan upacara kematian, keluarga yang telah diberikan babi akan balas datang dan membawa babi. 

Kete' Kesu

Pemberhentian selanjutnya adalah salah satu tujuan wisata paling terkenal di Toraja. Kete' Kesu. Di Kete' Kesu, kita bisa melihat Tongkonan yang usianya ratusan tahun. Tongkonan ini terbuat dari kayu dan bambu. Karena atapnya terbuat dari bambu, tumbuhan paku-pakuan tumbuh subur di atasnya.

jejeran tongkonan di kete' kesu
Di sini kita juga bisa masuk ke dalam salah satu rumahnya dan melihat bagian dalamnya. Ada dapur, ada ruang tidur dan ada ruang untuk menerima tamu. Sungguh luar biasa kalau dibayangkan bagaimana nenek moyang dulu bisa hidup dengan keterbatasan ruang seperti ini ya.

dapur di sisi samping rumah. Bagian bawah untuk memasak, bagian atas untuk menyimpan bahan makanan
Selain jejeran Tongkonan purba, di Kete' Kesu kita juga bisa melihat kuburan gantung. Tidak seperti kuburan kemarin di mana mayatnya disimpan di dalam batu, kuburan gantung ini lebih kuno, berasa dari leluhur yang lebih purba. Jadi petinya diletakan saja di sekitar batu, atau ditaruh di atas palang palang yang ditancapkan ke batu, jadi menggantung di atas batu. Satu peti itu bisa berisi lebih dari satu mayat, sehingga beberapa peti yang kelebihan muatan ada yang jatuh dan isinya berserakan.

Kuburan gantung kete' kesu
Coba deh perhatikan ukiran di peti kayunya. Rasanya  menakjubkan sekali bagaimana orang dulu bisa membuat peti seperti ini dengan keterbatasan alat pertukangan. Bagi saya ini adalah tempat yang paling mistik, hehehe. Kalau boleh memberi warna, tempat ini warnanya abu-abu. Seperti ada banyak orang padahal sepi. Semoga mereka beristirahat dengan tenang.

Kambira

Dari kete kesu, kami berhenti untuk makan siang di salah satu restoran cukup mahal yang saya tidak ingat namanya karena mahal dan ga enak enak amat. Kalau sama Pak Yatim ini memang dibawanya ke tempat mahal deh kalo makan x(

Tujuan selanjutnya adalah kuburan anak Kambira. Kuburan ini letaknya bukan di dalam batu, tetapi di dalam pohon. Menurut kepercayaan orang Toraja, bayi yang meninggal di bawah umur tiga hari harus dikuburkan di dalam pohon. Bayi yang berasal dari getah putih (sperma) akan kembali lagi ke getah putih (getah pohon), menyatu dengan pohon untuk tumbuh ke atas dan kembali ke atas.

Kuburan anak Kambira

Royal Grave Sangngalla'

Dan tempat terakhir yang kami kunjungi hari itu adalah The Royal Grave Sangngalla'. Royal Grave terletak di sisi sebuah tebing curam yang cukup tinggi. Dinamakan Royal Grave karena di tempat ini banyak terdapat makan para bangsawan. Hal ini tergambar dari banyaknya patung patung yang diletakkan di muka pintu kubur.

The Royal Grave
Sayangnya ada beberapa patung yang tidak utuh atau ada beberapa tempat yang kosong, tidak ada bonekanya. Ini adalah ulah pencuri yang mengambil patung patung ini untuk dijual di pasar gelap. Peminatnya biasanya adalah para kolektor barang antik.

Karena hujan tiba tiba turun lebat sekali ketika kami sampai ke sini, kami tidak berlama-lama di tempat ini. Selain itu hari sudah semakin sore. Kami akan kembali lagi ke Makassar malam itu juga. Besok malamnya, saya Inu dan Zulfi akan kembali lagi ke Jakarta.

Kami kembali menggunakan bis malam tapi dengan merek yang berbeda. Saya lupa namanya, tapi pul busnya ada tepat di samping Cafe Aras. Jadi kami bisa makan malam terlebih dahulu di cafe Aras.


Fun Fact

1. Agama asli orang Toraja namanya Aluk To Dolo. Saya pernah baca bahwa pemerintah menggolongkan agama ini sebagai bagian dari Hindu (?). Terlepas dari itu, mayoritas ornag Toraja memeluk agama Kristen atau katolik

2. Menurut legenda, orang Toraja dulu menggunakan manusia sebagai korban untuk upacara adat, sampai suatu hari Tuhan menyuruh untuk berhenti mengorbankan sesama manusia dan memberikan kerbau albino sebagai gantinya. Kerbau albino ini hanya bisa ditemukan di Toraja dan menurut pak Yatim belum ada yang berhasil mengembang biakan kerbau ini di luar Toraja

3. Kopi Toraja dapat dibeli di warung-warung kopi di kota. Harganya katanya sih murah. Saya tidak minum kopi, jadi kurang begitu paham.

4. Saya mengirim kartu pos dari Toraja ke Jakarta. Dengan prangko IDR 10k, butuh 2 bulan untuk sampai dengan selamat.

5. Waktu yang paling baik untuk berkunjung ke Toraja adalah bulan Desember karena ada festival namanya"Lovely December". Bulan Desember ini para perantau akan kembali ke Toraja untuk merayakan Natal dan tahun baru.

6. Toraja adalah suku yang sangat mengutamakan keluarga. Patung di setiap kuburan memiliki pose / gestur tangan yang sama, memiliki arti "Respect me and I will bless you". Artinya kita harus menghormati para leluhur kita karena berkat merekalah kita bisa ada di dunia ini. Kelak para leluhur akan memberkati kita dengan rejeki yang berkecukupan



Dan sekianlah catatan perjalanan saya, Inu, Zulfi dan Tendi ke Toraja. Horai!

Budgetnya cukup mahal karena kali ini kita pakai guide profesional dan mobil mewah beserta sopir. Satu hari sekitar satu juta untuk guide plus transport. Dibagi empat karena kita cuma berempat, dan itu belum termasuk makan, penginapan, belanja dan oleh oleh. Tapi memang sebanding dengan informasi dan cerita mengenai adat istiadat Toraja dari pak Yatim ini. Dia sangat profesional dan berpengalaman.

Bila mau berhemat, leih baik sewa motor dan keliling sendiri menjelajahi Toraja dengan berbekal peta ala dora hehehe tapi tentu tidak cukup dua hari satu malam :)

Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di catatan perjalanan lainnya yes :D


Arti Nama Gabriella Kirana Anjani

Gabriella Kirana Anjani Anak kedua yang selalu dar der dor ada aja gebrakannya, ga bisa diem, banyk hobi, banyak mau, suka ngambek, tapi so ...