Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Agustus 2015

Beberapa Hal Tentang ..

Cinta

Haha, ini cheesy berat. Tapi ya memang begitu. Memasuki bulan ke-tiga tinggal sendiri di Bangkok jauh dari keluarga, mulai banyak hal-hal yang saya maknai secara berbeda. Cinta termasuk di dalamnya.

Saya semakin yakin bahwa maskoko adalah jodoh saya. Tepat setelah kami memutuskan untuk bertunangan, saya dapat assignment ke Bangkok, dan maskoko dapet kerjaan di Papua, tepatnya di daerah sekitar Puncak Wijaya. Jauh banget dan sarana komunikasi di tempat maskoko kerja itu ga canggih-canggih amat. Untungnya maskoko kerja di proyek telekomunikasi, jadi kalo pas lagi di mess masih bisa internetan.

Dengan perbedaan waktu dua jam dan komunikasi yang terbatas, kekuatan hubungan kami berdua benar-benar diuji. Saya sih merasanya begitu. Terutama karena dengan jarak ini, saya benar-benar harus mengenal dengan maskoko sebagai seorang individu terlepas dari semua atribut fisik dan materinya. 

Tanpa kontak fisik dan pertemuan tatap muka, satu-satunya yang bisa kami lakukan berdua adalah berbicara tentang banyak hal. Apa saja. Tentang ide. Tentang karakter masing-masing. Tentang analisa di balik berbagai perkara. Dan setiap hari, selalu saja ada hal-hal kecil yang mebuat saya merasa semakin jatuh cinta dengan maskoko.

Saya bersyukur akan hal ini. Semakin ke sini, dengan semakin intensnya komunikasi dan percakapan kami tentang banyak hal, saya semakin merasa mantap dan yakin bahwa orang yang saat ini menjadi tunangan saya adalah orang dengan jiwa dan kepribadian yang pas untuk saya.

Kelak suatu saat nanti, akan ada saatnya di mana cinta akan pudar, gairah seksual hilang, dan mungkin rasa sayang yang menggebu-gebu juga akan padam. Saya sesungguhnya tidak ingin sampai ke fase itu sih. Tapi maskoko adalah orang yang sangat penuh pertimbangan, dan dia masih percaya bahwa ada kemungkinan suatu saat nanti cinta itu akan memudar. Dan ketika hal itu akhirnya tiba, yang dibutuhkan adalah sebuah persahabatan untuk terus bersama-sama menjalani hidup. Saya yakin, kami berdua bisa jadi sahabat yang baik. Sahabat eksklusif dengan kesetiaan satu sama lain. 

Kemarin saya berbincang banyak dengan maskoko tentang masa lalu. Tentang bagaimana dia "mempelajari" saya lewat tulisan-tulisan saya di blog ini. Tentang galau dan gelapnya tulisan curhat saya, yang sangat kontradiktif dengan persona saya yang dia temui di awal-awal perkenalan. Hmm rasanya sangat menyenangkan ketika ada orang yang 'mempelajari' saya dan 'menganalisa' saya.

Dia bilang wajar bila ada saat-saat orang merasa saya "galau", walaupun saya yakin seyakin-yakinnya bahwa saya merasa saya biasa-biasa aja. 

Menurut maskoko, saya orangnya sangat kontemplatif. Apa-apa selalu saya pikirkan dan saya analisa. Hal-hal kecil selalu saya 'dalami' maknanya. Dan setelah itu saya tulis atau saya ekspresikan di media sosial. Mau saya senang kek, saya sedih kek, saya selalu kontemplatif. Ketika orang membaca ekspresi saya di media sosial, mereka akan mengasosiasikan itu dengan pengalaman pribadi mereka. Sebagian besar orang akan menajdi "kontemplatif" ketika mereka mengalami masa-masa "galau". Oleh karena itu, ketika mereka melihat hal-hal "kontemplatif" dari saya, mereka lalu akan berasumsi saya "galau". Dan ketika mereka mengemukakan pendapat bahwa saya "galau" melalu ejekan, kata-kataan atau nanya kenapa, itu adalah bentuk kepedulian mereka, karena dari pengalaman pribadi mereka, ketika mereka merasa "galau" mereka butuh "pertolongan", dan dengan ngata2in saya galau, itu adalah bentuk kepedulian mereka untuk menolong saya dari rasa "galau" itu.

Sungguh-sungguh analisa yang sangat menyenangkan untuk didengar. Semacam pertama kali ada orang yang bisa "membaca" saya dan rasa-rasanya bacaannya itu benar.  Hahaha.

Dan bagi saya, ini adalah bentuk cinta yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Cinta adalah ketika kita mempelajari seseorang secara utuh, bukan cuma mengenal tapi juga berusaha memahami pribadinya dari awal sampai akhir. Saya belum bisa seperti itu ke maskoko karena saya menyadari betapa selama ini dalam suatu hubungan, saya tidak pernah berusaha untuk benar-benar paham tentang pasangan saya.

Ya sudah mau nulis tentang itu saja hari ini. Kayaknya harus mulai banyak-banyak merekam lagi hal-hal menarik soal hidup di sini, dokumentasi digital. Hehehe.



Selasa, 29 April 2014

Kelas Inspirasi Jakarta 3 : Sebuah Refleksi Setelah Akhirnya Selesai

Sudah tiga bulan terkahir ini, sejak awal Februari, hidup saya tercurah untuk Kelas Inspirasi.

SDN 23 Petang Pulogebang
 Kelas Inspirasi adalah kegiatan satu hari di mana para profesional mengajar di sekolah-sekolah dasar, bercerita tentang profesi. Tujuannya adalah memberikan pengetahuan tentang ragam profesi dan memotivasi anak-anak untuk kerja keras demi mencapai cita-citanya.

Saya sudah tahu Kelas Inspirasi sejak pertama dilaksanakan pada tahun 2012. Tapi waktu itu saya tidak tergerak sama sekali, mungkin karena kepala saya saat itu penuh dengan ambisi menginjakkan kaki ke 12 tempat baru sebelum dunia kiama di 12-12-12. Hahaha. Lalu sahabat baik saya, Nagea, gigih menyuruh saya untuk ikut Kelas Inspirasi ke 2. Akhirnya saya ikut. Tapi setelah itu juga kurang tergerak. Karena rasanya seperti gerakan instan dikemas dengan ringan dan sangat pop. Refleksinya lebih ke diri sendiri, merasa harus berbuat sesuatu lagi.
Dan akhirnya saya ikut membantu Nagea di Festival Gerakan Indonesia Mengajar. Di situ, saya mulai tersentuh. Faith in humanity restored. Dari situ saya mendapatkan kembali  semangat dan optimisme terhadap Indonesia. Hahaha.. Silakan ketawa, tapi ini beneran. Bulan November, saya ikut Kelas Inspirasi Tulungagung bersama ayah saya!

Lalu awal tahun 2014, ketika datang ajakan untuk jadi panitia Kelas Inspirasi, saya ga pake mikir untuk bilang iya. Dimulai dari hanya sekedar anggota biasa di Divisi Sekolah dan Acara, jebakan batman bergulir dan di situlah saya menjadi koordinator fasilitator, yang mana untuk pertama kali di KI 3 Jakarta ini, dilakukan recruitmen khusus fasilitator. Saya kira itu bukanlah sesuatu yang besar dan dengan PD mengajukan diri, tanpa menyadari saya menjerumuskan diri ke hal yang jauh lebih besar dari apa yang ada di otak saya yang dangkal ini.

Menjadi koordinator fasilitator adalah pengalaman baru yang melelahkan. Kayaknya otak saya ga pernah bekerja selelah ini selama 3 tahun terakhir hahaha. Capek, banyak dramanya, banyak berantem dan lecet-lecetnya. Hahaha. Belum lagi mencari ruangan gratis yang cukup untuk menampung 1000 orang plus curi-curi waktu untuk mengerjakan printilan ini itu di tengah kegilaan beban kerja karyawan pada umumnya. Hahaha.
Masih ada lagi drama mencari sekolah yang mau didatangi, drama proses seleksi relawan pengajarnya, dan tentu saja drama mempersiapakan workshop dan briefing untuk 75 fasilitator

Dan entah bagaiamana, akhirnya kami melalui semuanya. Hari Briefing, Hari Inspirasi, Hari Refleksi. Kami bisa mengumpulkan 991 relawan terdaftar dan 100an orang panitia. Bekerja bersama-sama untuk memberi inspirasi.

Suasana Hari Briefing.  Kerumunan positif :)
Dan di hari refleksi, pak HH memberikan pertanyaan yang herannya susah untuk saya jawab.
"Hal apa yang paling membuat kamu bahagia selama mengikuti KI?" Saya tidak menjawab. Ga tau apa jawabannya. Hahaha.

Nah tadi malam, koordinator KI3 Jakarta, Vani, menanyakan pertanyaan ini ke para koordinator. Saya ngeles-ngeles menjawab seadanya, Tapi pertanyaan itu benar-benar melekat. Dan pagi ini saya akhirnya berbagi apa yang saya pikirkan dan ternyata tanggapan dan jawaban kawan-kawan lain membuat mata saya berkaca-kaca,

Repost dari blognya vani dengan sedikit pembukaan dari saya.

Apa yang membuatmu paling bahagia dalam perjalanan KIJkt3?
Apa tujuan hidupmu? Hal-hal kecil dan sederhana apa yang ingin kamu raih kelak?

Di Kelas Inspirasi Jakarta 3, kami menemukan apa yang kami pikir kami cari : belajar menjadi orang yang lebih baik.

Belajar berpikir baik-baik sebelum mengambil keputusan.
Belajar konsisten dan komit atas apa yang sudah diputuskan.
Belajar fleksibel ketika keadaan sudah tidak kondusif.
Belajar mengatakan tidak.
Belajar mengabaikan hal-hal negatif dan fokus ke hal positif.
Belajar mengesampingkan ego dan emosi pribadi untuk kepentingan bersama.
Belajar terbuka, tulus dan optimis di dalam situasi seburuk apapun.
Belajar untuk menyederhanakan kerumitan pikiran yang menyulitkan.
Belajar bahwa niat baik itu tidak selalu terbungkus dalam kemasan yang juga baik.
Belajar dewasa.
Belajar sabar.
Belajar minta maaf.
Belajar memaafkan.
Belajar mengumpulkan keping-keping pengetahuan yang berserakan.
Belajar mengaitkan satu keping dengan keping lainnya.
Belajar membentuk sketsa yang sedikit mirip ataupun dengan banyak modifikasi dan kombinasi.
Belajar mengerti karakter setiap pribadi.
Belajar memahami perbedaan di tengah visi yang sama.
Belajar membedakan “leadership” dalam karya ini dengan karya lainnya.
Belajar memotivasi team disaat diri sendiri perlu motivasi.
Belajar memahami dinamisnya karya ini.
Belajar memahami begitu besarnya harapan yang muncul dari karya ini
Belajar begitu berharganya setiap dampak yang terjadi dari karya ini
Belajar arti kata sukarela yang sebenarnya
Belajar arti kata sepenuh hati yang sebenarnya
Belajar arti kata bahagia yang sebenarnya

Proses belajar ini tidak mudah. Kadang harus ada beda pendapat, berantem, marah & tangis. Namun, energi positif di KI ada dimana-mana yang membuat proses belajar ini menjadi tidak terasa berat karena bahagia yang dijadikan bungkusnya. Apapun kejadiannya, teman-teman memberikan aura bahagia yang positif disitu. Energi positif KI selalu membuat kami bisa melupakan hal-hal negatif di sekitar kami. Saat kami selalu bahagia setelah meeting di Galuh atau virtual meeting akan selalu mengalahkan rasa terbeban karena capai dan kurang tidur.
Meeting Koordinator sampai jam 12 malam
 untuk memutuskan pergantian tanggal Hari Inspirasi
Ketika kami melakukan hal baik dan secara bersamaan bisa menjadi manusia yang lebih baik, apalagi yang dicari? Dan ketika pencarian menemukan jawaban, mungkin kami menemukan “rumah” untuk pulang.

Setelah ini, mungkin kami akan sibuk dengan rencana masing-masing. Menikah, berkeluarga, sekolah, buat usaha sendiri, pindah pekerjaan baru, backpacker keliling dunia. Mungkin kesibukan akan buat kami lupa dan jauh satu sama lain. Tidak apa, hidup adalah pencarian yang tak kunjung selesai.

Travelling sejatinya juga satu proses menemukan “rumah” dan mengajarkan arti tentang rumah. Seeksotis apapun tempat yang didatangi, segila apapun pengalaman yang didapat, tidak pernah mengalahkan rasa bahagia ketika menginjakkan kaki ke rumah. Bercerita tentang perjalanan tersebut dan bertemu orang-orang yang harap-harap cemas menunggu.

Analogi yang sama ini juga ditemukan di Galuh, di KI. Ada “rumah” dalam manifestasi yang lain.
Jika suatu hari tiba-tiba segala sesuatu terasa melelahkan dan sulit, kami bisa pulang ke “rumah KI” dan beristirahat sejenak. Menghirup energi positif dari setiap foto, tulisan, lagu dan cerita dari para panitia dan relawan. Re-charge.

Karena rumah sesungguhnya adalah rumah yang tidak melarang penghuninya untuk pergi namun mampu membuat merasa bersalah jika tak segera pulang.

Bagi kami, Kelas Inspirasi adalah rumah.
Rumah yang me-recharge baterai energi positif kita.

Bagi kami, bahagia itu sederhana.
Sesederhana menemukan orang lain yang punya tempat pulang yang sama.
Karena pulang itu selalu menyenangkan. Kemanapun definisi pulang itu sendiri.



Ditulis dalam grup chat WA & path oleh para koordinator #KIJkt3 yang kemudian disatukan dalam tulisan ini

- Yusa | Gea | Meylin | Vani | Stefy | Gita | Aan | Steph -

Sabtu, 01 Februari 2014

Disconnect to Connect




Pas nonton iklan di atas, saya merasa tersindir. Memang kalau sedang asik dengan dunia maya, semua di sekitar rasanya seperti menghilang. Apalagi kalau sedang menunggu, asik dengan gadget itu rasanya benar-benar membantu membunuh waktu. Misalnya lagi di busway, lagi nunggu antrian dokter, perasaan cuma komen-komean foto di path doang, eh tiba-tiba nyampe. Hehehe.

Dan oleh karena itu ketika seseorang tidak eksis di dunia maya, dia rasa-rasanya seperti tidak benar-benar ada di dunia ini. Maksudnya gini. Kalau kita kenalan sama orang dan dia ga punya akun facebook, ga main line, ga main path, ga main instagram, atau ketike di googling juga ga ada, kita semacam mempertanyakan kebenaran dari keberadaan orang ini. Aneh ya. Padahal facebook, line, path, instagram, itu kan sesuatu yang bisa dikamuflase dan ga 100% menjamin keberadaan seseorang juga.

Dan mungkin nanti lama-kelamaan kita lupa bagaimana lagi cara bercengkrama secara analog. Kita gagap beramah tamah, atau saling bertanya kabar. Kita luput memperhatikan detail kecil lawan bicara kita atau luput memperhatikan perubahan signifikan orang di sekitar kita. Dan jangan-jangan apa yang kita lakukan di dunia nyata, semata-mata ya untuk dunia maya. Saya pernah hampir di tahap seperti itu soalnya.

Misalnya nih ya, saya rajin lari semata-semata buat pamer di facebook. Atau travelling, biar dapet foto bagus untuk dipajang di instagram. Tapi kan bukan itu inti dari lari atau travelling.

Kemarin ini nih, hp saya rusak dan ga bisa dinyalakan. Saya sedih karena banyak foto-foto yang  belum dibackup. Selama 24 jam saya tidak bisa dihubungi dari mana-mana. Well,  konyol sih kalau kita berasumsi seseoang tidak "benar-benar ada" atau "menghilang" hanya karena telfon selulernya rusak ya. Tapi dari situ saya jadi sadar ada banyak hal yang bisa saya lakukan selain melototin hp saya seharian. Saya mencoba memperhatikan isi rumah saya, gerak gerik ayah ibu saya, raut muka orang-orang, kalimat yang mereka ucapkan, warna langit, warna rumput, bentuk jalan. Hahaha. Bikin jadi lebih banyak mikir juga sih.

Kesimpulannya, sekali sekali memang harus coba disconnect to connect. Hehehe.

Minggu, 15 Desember 2013

Ketika 'Faith in Humanity Restored' (cerita tentang Festival Gerakan Indonesia Mengajar)

Saya yakin saya tidak sendiri. Generasi usia dua puluhan yang menikmati hidup di level maksimal. Yang punya banyak mimpi jalan-jalan ke luar negri, atau senang menghabiskan akhir pekan dengan jajan di tempat kuliner yang sedang ramai dibicarakan, atau sekedar diam di rumah rally nonton DVD serial populer. Yang memilih sibuk bekerja, meniti jenjang karir, menjadi yang terbaik, kerja keras, menabung demi masa depan. Yang terlalu lelah membaca berita dan menonton televisi karena isinya hanya seputar gosip, korupsi dan bencana. Yang memilih menjadi apatis.

Saya pikir semua orang ada bagiannya masing-masing. Yang idealis silakan menjadi idealis. Yang mau berpolitik silakan berkoar-koar. Yang nyinyir, silakan memaki-maki di media sosial. Yang mau cuek silakan juga, harus ada orang yang cuek supaya orang yang peduli terasa keberadaannya.

Lagi pula kalau berbicara soal bangsa negara, ujung-ujungnya ke masalah politik yang penuh dengan korupsi dan manipulasi. Melelahkan. Kebaikan untuk kepentingan publik sepertinya hampir tidak ada sama sekali. Figur pemimpin yang tidak menginspirasi, kasus korupsi di mana, mana, sekali kalinya ada hal baik eh ternyata ditunggangi kepentingan politik. Bantuan-bantuan atas nama tokoh tertentu, gerakan-gerakan yang ujung-ujungnya untuk tujuan tertentu. Melelahkan dan menyebalkan.

Semakin ke sini keadaan semakin buruk. Saya sempat berpikir bangsa Indonesia ini mungkin sudah sebegitu terpuruknya dan rasanya masa depannya suram sekali.  Saya cinta kok sama Indonesia. Tapi sepertinya tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya. Menikmati hidup dengan jadi manusia baik yang tidak menyusahkan adalah usaha terbaik saya untuk memperbaiki negara ini. Cukupkah? Pastinya tidak, tapi ya sudahlah ya. Kan saya apatis.

Itu adalah saya tiga bulan yang lalu. Kalau sekarang? Saya memutuskan untuk berhenti menjadi apatis. Ini gara-gara saya ikut Festival Gerakan Indonesia Mengajar bulan Oktober lalu.

Jadi saya punya sahabat bernama Nagea yang sudah sering berkegiatan  bersama komunitas Indonesia Mengajar. Tahun ini mereka mengadakan acara Festival Gerakan Indonesia Mengajar (FGIM), sebuah kegiatan dua hari berupa kerja bakti bersama membuat alat bantu belajar untuk sekolah-sekolah yang ada di pelosok dengan akses informasi terbatas. Hasil dari dua hari kegiatan ini bermacam-macam. Mulai dari ensiklopedia, alat peraga sains, video profesi, video dongeng, video lagu anak dan lagu nasional, surat semangat dan paket buku-buku bacaan. Semuanya ini lalu dikirimkan ke sekolah-sekolah yang merupakan tempat relawan Pengajar Muda bertugas. Pengajar Muda sendiri adalah relawan program Indonesia Mengajar, program menjadi sukarelawan untuk mengajar di sekolah terpencil selama satu tahun.

Sekilas nampak seperti kegiatan yang sangat bagus, bermanfaat dan sangat menarik bukan? Nagea sudah mengajak saya berkali-kali untuk ikut serta sejak tengah tahun. Tapi saya yang apatis cuma memberikan seribu satu alasan untuk bilang tidak. Selain karena merasa kegiatan ini ada unsur kepentingan politiknya, saya malas saja. Hahaha.

Nah, Nagea ini kan sahabat saya dari kuliah yang seingat saya bukan tipe aktivis kampus dan bukan juga yang punya nasionalisme tinggi gitu. Sebagai panitia, menjelang hari H FGIM Nagea terlihat sangat bersemangat sekaligus pusing memikirkan teknis ini itu. Tapi bukan itu yang membuat saya heran, melainkan postingannya di media sosial mulai sedikit menjadi sangat nasionalis dan berwawasan kebangsaan. Hahaha. Sesuatu yang tidak saya sangka bisa keluar dari seorang Nagea. Nagea adalah gadis normal yang punya banyak penggemar dan sibuk memikirkan masalah hati atau mimpi punya pabrik coklat, kenapa bisa jadi begini? Hahaha.

Penasaran saya bertambah lagi ketika kemudian Nagea berhasil mengajak Dias, temannya yang juga teman saya, untuk membantu timnya di FGIM. Bayangkan Dias sebagai eksekutif muda penampilan necis dan waktu pas kuliah dulu, dia itu teman saya facial ke n**sha! Saya tidak pernah menyangka Dias ini bisa nyemplung di kegiatan semacam FGIM.

Akhirnya seminggu sebelum hari H, saya bilang ke Nagea untuk bersedia membantu di FGIM. Nagea adalah koordinator wahana Surat Semangat, jadi saya ikut bantu-bantu di wahana Surat Semangat. Dan setelah delapan hari bekerja bersama di lingkungan panitia FGIM ini, saya jadi paham betul kenapa Nagea dan Dias bisa jadi begini. Auranya positif sekali. Sangat positif. Tim Surat Semangat terdiri dari bermacam-macam orang, mulai dari mahasiswa gahul kocak, penyanyi ganteng, muda mudi galau sampai tante-tante hepi. Ok, ini definisinya mungkin agak lebay. Hahaha. Intinya, ini semacam mengumpulkan semua orang baik jadi satu (dan ternyata orang baik itu bentuknya macam-macam yes) dan ketika ini terjadi, ide apa saja bisa jadi kenyataan!

Ketika hari H, pengalamannya lebih luar biasa lagi. Saya bertemu rombongan anak seri rupa dengan pensil warna dan crayonnya, keluarga kecil yang membawa serta anak-anaknya, oma-oma yang harus pakai kursi roda, anak jakarta gaul dengan model rambut masa kini, anak band yang gaul betul, teman SMA saya yang dulunya anak dance nan gaul, mantan pacar saya yang gondrong dengan jins belel yang dulu kerjanya ngerokok dan minum doang, teman kantor saya orang finance yang bawel kalo soal uang-uangan, teman kuliah saya yang sekarang kerja di oil company asing dan dia datang membawa surat dari teman-teman kantornya! Terlalu banyak jenis orang di acara ini dan mereka datang ke sini dengan satu tujuan : mau membantu memperbaiki pendidikan Indonesia :)

Tim Wahana Surat Semangat

Saya adalah orang yang suka membuat stereotype. FGIM telah mematahkan semua stereotype yang pernah saya buat tentang orang-orang di sekitar saya. Bahwasanya setiap orang pastinya memiliki keinginan untuk berbuat baik terhadap sesama. Mungkin sudah dilakukan tapi saya tidak tahu, atau mungkin belum dilakukan karena tidak tahu harus ke mana dan FGIM adalah wahana yang tepat untuk menyalurkan kebaikan itu.

Singkat cerita, setelah FGIM berlalu, saya sempat berdiskusi dengan Nagea, Ais yang juga ikut membantu di Surat Semangat dan Dika, ex Pengajar Muda yang juga salah satu bosnya FGIM. Kita berdiskusi tentang dampak dari FGIM ini dan bagi saya yang sudah beberapa tahun jadi apatis, FGIM telah mencairkan keapatisan saya. Well, saya masih percaya sih apa pun yang terkait Indonesia Mengajar berpotensi ditunggangi kepentingan politik. Tapi sekarang saya tidak terlalu peduli lagi. Indonesia masih punya banyak orang baik, dan bila kebaikan itu dikumpulkan, perubahan sangat mungkin terjadi.

Oiya, soal Wahana Surat Semangat, jadi ini wahana untuk orang-orang mengirimkan surat kepada murid dan guru di sekolah terpencil. Sampai saat ini sudah ada surat yang dibalas loh :)

salah satu surat dari relawan FGIM :)
Surat yang sudah dibalas!

Nagea dan Dias telah menginspirasi dan menggerakan saya untuk kembali mau berpikir dan berbuat untuk kepentingan orang banyak. Saya pun juga harus bisa menginspirasi orang lain. Bila setiap orang baik bisa menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan demi kepentingan bersama, tentu Indonesia bisa jadi lebih baik. Dan memang benarlah adanya pepatah "Mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri!" Saat ini saya sudah punya beberapa hal di kepala mengenai membuat Indonesia bisa jadi lebih baik. Semoga ini bukan sementara, dan semoga benar ada kelanjutannya.

Kesimpulannya?
Faith in humanity : Restored!

[ ]

Senin, 21 Januari 2013

Re-Organisasi - Pembuka 2013

Tahun 2013 dibuka dengan perkara re-organisasi di tempat kerja. Bahasa gampangnya, pengurangan karyawan.  Sedikit agak aneh. Saya kira di tempat kerja sebesar ini, tidak akan ketemu yang macam begini. Eh, kebalikannya. Hahahaha. Ini tertawa satir.

Suasana kerja jadi tidak kondusif. Demotivated semua. Ya iyalah, gimana sih rasanya kalo dibilang "Role kamu tiga bulan lagi bakal dihapus. Kalau sampai nanti bulan Desember kamu ga dapet role baru di perusahaan ini, kita bakal kasih paket pesangon dengan jumlah fantastis lalala."

Bukan saya sih yang kena, tapi salah satu tim kerja saya. Kalau saya yang kena, wah udah deh. Labil galau sepanjang tahun dan pasti tiap hari bakal menye menye. Tapi rekan saya ini tidak. Dia bingung dan kesal sih, tapi tetap positif. Tetap bersemangat. Tetap mencoba mencari solusi dan jalan tengah terbaik. Tetap berusaha meng-engage teman-teman senasib memikirkan bagaimana strateginya. Wow.

Tapi mungkin itulah orang yang sudah menemukan inner peace-nya ya. Positif dan menenangkan. Dan oleh karena itu saya pun mungkin harus juga mereorganisasi isi kepala saya. Hahaha. Mencoba menemukan inner peace. Tahun lalu saya pikir bisa saya temukan dengan travellin gila-gilaan. Tapi ternyata tetep galau bin mellow. Tahun ini saya mau kembali ke basic. Kembali ke diri sendiri.

Adalah satu teman saya di kantor bilang "Git, lo itu ga sober. Lo itu ga ngejejak di tanah."

Hahaha. Gimana ceritanya ga sober. Awalnya saya ngerasa ini teman saya sotoy bin asbun. Tapi berhari hari kemudian, tepatnya hari ini, saya mulau  ngerti maksud dai tidak menjejak tanah itu. Ketika ada hal yang ga saya suka atau ga sesuai ekspetasi saya, saya lansung menghindar bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa. Karena rasanya itu susah banget buat tegar, menghadapi masalahnya, dan dengan besar hati kepala terangkat menyelesaikan satu per satu.

Hari ini, ketika masalah terjadi tepat di depan saya, saya paham betul maksud dari menjejak tanah. Terbuka, menerima dan berani masuk ke dalam benang ruwet dan pelan-pelan mencari ujungnya. Bukannya malah main lempar tangkap benang ruwet warna-warni bernyanyi bahagia tanpa merasa perlu mengurai si benang ruwet itu. Hahaha. Ngerti ga analogi saya barusan?

Tahun 2013 ini bukanlah tahun yang mudah. Dibuka dengan banyak tantangan, saatnya saya diuji. Siap ga saya?

---


Senin, 31 Desember 2012

2012 : Roller Coaster year!

It is a super rollercoaster year. Terlalu banyak emosi di dalamnya.  Ada yang sangat menyenangkan, ada yang juga sangat absurd. Jantung gw sampe ga kuat gini. Hahaha.

Jadi gw memutuskan untuk mereview postingan-postingan gw selama 2012 dan mengambil cuplikan tulisan gw yang paling menggambarkan rollercoaster emosi gw di 2012. Hahahaha.


Januari 2012

"Bulan yang juga memantapkan gw untuk menjadi Gita yang ceria seperti dahulu kala lagi. Gita yang meninggalkan permasalahan hati di belakang, mengambil hikmatnya, dan beriman menerima segala sesuatu. Hahaha. Berkaca-kaca gini gw nulisnya.

Well, beberapa orang memang jatuh cinta dengan orang yang benar di saat yang tepat. Tapi beberapa orang ga seberuntung itu. Jadi gw bersyukur pernah benar-benar jatuh cinta dan dicintai. Pada akhirnya, cinta itu adalah membuat orang yang disayangi benar-benar bahagia. Bisa menerima dia apa adanya. Dan soal menikah atau tidak, itu bukan lagi masalah. Pengetahuan akan rasa sayang itu sendiri bagi gw sudahlah lebih dari cukup. Hidup selalu punya rahasia untuk mendewasakan manusia, dan gw siap untuk itu."

(Januari Adalah, 18 Jan 2012)


Februari 2012

"Kayaknya efek si mushroom ini masih bisa bikin gw happy sampai sekarang. Gw masih happy, masih ceria, masih santai, pokoknya masih feeling so good. I do enjoy my life. Well, ada beberapa luka batin (ceileee.. luka batiiiin..) yang masih terasa perih di sana sini, tapi herannya udah ga sesakit dulu. Semua kayak berasa lebih indah dan lebih gampang.

Gw juga ga yakin apa yang terjadi sih, tapi perjalanan kali ini kayak membantu gw menemukan diri gw yang dulu. Kalo kata Iqbal sih, si "Kugy" dalam diri gw. Yang bisa ketawa, bisa melihat segala sesuatu dengan santai, bisa damai. Mungkin karena gw merasa udah pernah ketemu sama Tuhan saat lagi jalan-jalan di dunia paralel gara-gara si mushroom ini. Hahahaha."
 
(MBTI Personality Assesment, 20 Feb 2012)


Maret 2012

"saya hanya ingin kembali ke sebuah harimenemukan lagi
rasa basah
angin yang bertiup
musik
pantai
sedikit ketenangan
sedikit
lagi"

(11 Februari 2012, 23 Mar 2012)


April 2012

"But i already get what i supposed to get. So it's just so lame, i keep complaining about this unhappy thought. Something missing and I don't know what it is.

Tidak teruji dan belum teruji."

(Random, 7 April 2012)


Mei 2012

"Hahahaha. Ini panjang ceritanya. Intinya adalah bukan ke mana kita pergi, tapi dengan siapa kita pergi. Kali ini gw akan pergi dengan duo dynamite mas agung dan  mas benny plus satu kroconya rendy. Gw ga bisa nebak deh entar ketololan apa yang akan terjadi. In the end bakal ada mbak dina, mbak mita, dan mas adhy sih.

Jadi jadi jadi? Ya suw.. Just wait for my story in the next 2-3 weeks ya! Wish me luck!"

(CT in the next 24 hours :D, 11 May 2012)


June 2012

"November 2010. Sudah 1,5 tahun berlalu. Dan memang benar demikian. Keadaan belum berubah, Masih berlaku sampai sekarang, Juni 2012. Tidak peduli seberapa keras kita berdua berusaha membunuh dan membenci satu sama lain.

Never knew that a feeling could remain the same after all of this time.."

(Kalau, 17 Juni 2012)


July 2012

"Tidak ada yang abadi, namun bukan sesuatu untuk ditangisi.
Tua itu pasti.
Dewasa itu pilihan.
Bijaksana itu pilihan
Bahagia itu pilihan"

(Suatu Hari di Bina Bakti, 21 Juli 2012)


August 2012

"Saya selalu mengagumi orang-orang yang selalu ceria, dan merasa bahwa hal-hal yang sedih tidak perlu diumbar kemana-mana. Kalau dipikir-pikir memang buat apa bersedih. Segala sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa diulang lagi. Tapi ngomong doang kan gampang ya. Makanya kita butuh teman. Buat bercerita, menumpahkan semua-muanya, berkeluh kesah, mewek mewek ga jelas. Dan saya pingin jadi orang yang seperti itu. Orang yang bisa jadi tempat sampah semua orang. Bisa mendengarkan dan kalau bisa memberikan solusi. Jadi orang bijak, hahahaha."

(Semua Orang Punya FTV-nya Masing-Masing,  6 Agustus 2012)


September 2012

"My first 10 K race was on mid September. Adidas King of the Road. 10 K in 1 hour 15 minutes. Seru loh. lari bareng-bareng gitu. Teman teman saya macam Agung, Benny, Gea, mereka happy banget ikut event beginian padahal ga biasa lari.  Yeay yeay yeay. Saya jadi semakin semangat latihan sejak event ini. Semoga enam bulan ke depan bisa lah 10 K satu jam saja."

(I Run, I Have Fun , 25 Sept 2012)

October 2012

"Oiya, buat dapet licensenya, SSI ini cukup cepat. Setelah hari minggu diving pertama turun empat kali, hari Rabu kita sudah dapat email notifikasi bahwa license kita sudah jadi. Ini "gelar" diving saya : Open Water Diver (741072Z3503893050810-ID). "

(#9 - Pulau Pramuka : First Diving Trip, 29 Oct 2012)


November 2012

"I thank God for every blessing He gives me that I can enjoy life to the maximum level. I feel so updated and I can't wait to explore more and more all the universe of life. :)"

(Updated me! 27 Nov 2012)


December 2012

Well, gw ga begitu menulis banyak di Desember. Banyak sekali hal yang terjadi. Dari yang menyenangkan sekali sampai yang menyedihkan sekali. Target untuk mengunjungi 12 tempat di 2012 tidak tercapai. Hanya 11 saja itu pun 2 belum saya post di blog karena terlalu lelah. Target punya pacar juga ga tercapai, masih singel tapi super bahagia. Hahaha. Target berat badan untungnya tercapai. Stabil di angka 50-51.

Tapi saya percaya di hari terakhir tahun 2012 ini saya sudah menjadi lebih dewasa dan lebih sabar. Semoga di tahun 2013, lebih banyak lagi kebahagiaan bisa saya sebarkan ke orang-orang sekitar saya. Semoga.

Happy New Year!!! :D:D


Rabu, 17 Agustus 2011

Mahardika

Luar biasa juga ya membayangkan ada orang seperti Soekarno yang bisa membuat satu dunia percaya kalau Indonesia merdeka. Bayangkan saja. Waktu itu siapa sih yang tahu Indonesia? Cuma tahu itu bagian dari kolonial Belanda.

Pernah terpikir ga?

Papua yang ingin merdeka dari Indonesia itu analog dengan "Indonesia" ingin merdeka dari Belanda. Gerakan Papua Merdeka sama aja dengan pejuang Indonesia yang bergerilya. Tentara Indonesia yang dikerahkan ke Papua sama aja dengan tentara Belanda?

Kalau mendengar berita soal Papua / Irian Jaya, selalu itu yang gw pikirkan.
Apa bedanya Papua dengan Hindia Belanda..

Bagaimana kalau nanti akan ada "Soekarno" nya Papua?

Menurut gw ya, negara itu cuma ide . Batasnya adalah imajiner. Cuma sebatas garis di peta. Merdeka juga cuma ide. Kita sekarang sedang merayakan ide. Ga salah. Manusia butuh ide, makanya manusia butuh Tuhan.

Gw bodoh soal pengetahuan sejarah, politik dan ekonomi. Jadi mungkin pertanyaan-pertanyaan gw di atas adalah terbaca sangat dangkal dan banal.

Okai. Selamat tujuh belasan. Tahun ini, tidak ada perasaan khusus mengenai apa pun terkait kemerdekaan. Cenderung ke a.p.a.t.i.s.

Untuk menutup, "merdeka" berasal dari bahasa San Sekerta "Mahardika". Artinya kaya, makmur dan berkuasa. Mari kita aminkan. AMIN!

Kamis, 31 Maret 2011

Deregulasi

Deregulasi. Kata ini sedang populer di kantor gw. Kita semua menanti-nantikan deregulasi bahan bakar kendaraan. Kalau deregulasi ini benar terjadi, akan sangat berbahagialah perusahaan kerang kuning.

Terus ke mana idealisme kuliah lo git? Kok lo mendukung kapitalisme sih?

Hahaha. Gw sekarang bahkan udah ga tahu lagi mana yang salah dan mana yang bener. Tapi yang gw tahu, jumlah kendaraan di Jakarta menggila, dan banyak mobil bagus membeli bensin dengan harga miring yang sebenarnya diperuntukkan untuk orang-orang yang membutuhkan.

Hey, kalo lo pake mobil cuma buat jalan ke mall, lo berpikir bener-bener butuh bensin seharga 4500 di saat harga aslinya itu 8000an?

Tapi ya itulah. Minyak = politik. Minyak bisa jadi alasan buat sebuah negara ngebom negara lain. Ini gila. Indonesia apa mungkin juga ya suatu hari nanti diserang sama negara lain? Hidup ini memang kadang-kadang mengerikan.

Tadi gw baru dikungjung sama menejer pricing global, dan dia memberi gw suatu gambaran bagaimna nanti pasar yang ideal. Bagaimana harga bisa berubah setiap saat. Menarik karena kembali ke konsep awal ekonomi. Permintaan - Penawaran. Barter. Lo membeli karena lo pingin nuker uang lo dengan sesuatu yang ga bisa lo bikin sendiri. Dan jumlah uang yang lo kasih tentu memiliki korelasi dengan nilai tambah dari sesuatu itu. Di sini fungsi "pricing" menjadi sangat masuk akal dan menyenangkan.

Agak oot , tapi mau tahu kabar mengerikan ga? Kalo tiba-tiba uang dihapus dari muka bumi ini, banyak orang menjerit ga bisa hidup. Karena kita sudah menjadi sangat konsumtif sampai lupa gimana cara biar bisa hidup bahkan ketika di depan kita ada sebidang tanah, beberapa benih tanaman dan sungai yang mengalir. Ini mengerikan bagi gw.

Tapi yang pingin gw bilang sebenernya adalah, deregulasi bisa menjadi sesuatu yang baik. Bisa mengurangi populasi kendaraan mungkin, dan bisa memberika kemungkinan akan adanya harga yang kompetitif. Kalau mau pemerintah Indonesia mungkin bisa menilik bagaimana pemerintah Filipina memberlakukan deregulasi bahan bakar kendaraan bermotor. Dibebaskan, tapi pemerintah bisa intervensi. Misalnya ngasih harga maksimal, atau ngasih subsidi tertentu secara temporer buat produk tertentu.

Bahasa simpel dari deregulasi ini sebenernya gini sih. Mending mana? Pemerintah ngebayarin bensin orang2 bermobil harga di atas seratusjutaan atau ngasih subsidi pupuk atau program asuransi pertanian buat para petani atau ngebangun sekolah dan jalan raya di daerah terpencil?

Hahaha.. Kalo waktu kuliah gw baca tulisan macam ini, pasti gw akan menganggap si penulis ini antek-antek asing. Dunia memang bukan hitam putih.. Hahahaha...

Rabu, 29 September 2010

Pandangan yang Aneh tentang Pertanian di Mata Salah Satu Pendidik Saya

Jadi ini pengalaman saya waktu tingkat empat ketika mengambil kuliah "Kewirausahaan dan Pengembangan Enterprais." Waktu itu kami disuruh memilih sebuah usaha untuk dibuatkan bussiness plannya.

Salah satu teman saya dengan semangat mengusulkan tentang usaha pengelolaan perkebunan dan usaha hasil bumi. Ketika dosen saya membaca usulannya di lembar usulan judul, beliau langsung memberikan sebuah pernyataan yang sangat mengusik saya.

"Saudara, usaha hasil alam atau pertanian dan perkebunan itu sama sekali tidak ada prospeknya. Itu sangat tergantung dari belas kasih alam. Tidak ada tantangannya sama sekali. Ganti dengan tema yang lain."

Otak saya yang sudah hampir tertidur di pojok ruang kelas langsung bangun dan saya menatap dosen saya itu lekat-lekat. Apa saya tidak salah dengar? Usaha pertanian tidak menarik sama sekali? Tapi kan kita ini negara agraris yang artinya sebagian besar sumber daya alam dan mata pencaharian rakyatnya ada di sektor pertanian? Apa saya tidak salah dengar?

Iya, saya tahu. Saya ini mahasiswa teknik yang dididik untuk berurusan dengan mesin dan sistem kelola industri yang tidak bersentuhan dengan pertanian. Saya juga buta soal masalah pertanian atau perkebunan karena memang bukan itu lingkup pembelajaran saya. Tapi apa benar paradigma yang diajarkan dosen saya, bahwa usaha di bidang pertanian itu tidak berprospek karena mengandalkan belas kasihan alam?

Kejadian itu sudah satu tahun berlalu. Saya sekarang sudah bekerja juga. Dan ternyata memang benar begitu keadaannya. Berkarier di bidang pertanian memang identik dengan sesuatu yang tidak berprospek. Tidak berprosepek artinya tidak menarik. Tidak menarik artinya sepi peminat. Sepi peminat artinya kecil ruang untuk improvisasi. Dan mungkin itulah mengapa pertanian kita tidak maju. Karena pertanian ternyata mengalami diskriminasi bahkan dari lembaga akademik. Pertanian tidak berprospek.

Saya tidak tahu apakah kata berprospek itu sama halnya dengan sukses. Punya uang banyak, punya mobil, punya baju bagus, punya telfon genggam terbaru. Tapi apakah itu semua yang dikejar dalam hidup? Apa artinya itu semua kalau akhirnya kita gagal menumbuhkan padi di tanah sendiri?

Saya percaya sistem pertanian yang baik akan memberikan suatu lingkungan dengan daya dukung hidup yang baik. Sistem pertanian yang baik memungkinkan penemuan penemuan dan inovasi di bidangnya sehingga daerha-daerah yang krisis pangan dapat pelan-pelan mengatasi masalah pertaniannya. Kalau begitu dari mana mulainya?

Kita punya Institut Pertanian Bogor. Saya yakin di sana sudah ada banyak ide tentang hal ini. Kita juga punya banyak universitas dengan fakultas pertanian. Saya yakin kader-kader petani modern yang pintar dan inovatif sekarang sedang bergula tentang hal ini. Kalau bukan petani, harus bagaimana dong? Mungkin bisa dimulai dengan berhenti mendukung pembangunan yang merugikan daya dukung lingkungan akan pertanian. Jangan mau investasi di kompleks perumahan atau vila atau apartemen yang dibangun di atas lahan-lahan yang harusnya dipakai untuk pertanian. Saya sendiri sebenarnya juga masih meraba, siapa yang harusnya bisa menyelesaikan masalah ini. Siapa yang bisa menghilangkan jarak yang amat besar antara kita dengan petani. Petani itu identik dengan kemiskinan. Kenapa ya? Lama-lama komunisme mulai masuk akal deh. Hahahaha.

Dari tadi cuma ngoceh, soal ini memang apa yang sudah saya lakukan? Hahaha, saya masih mengawang-ngawang. Tapi saaya masih punya cita-cita. Saya harus punya sawah sendiri. Saya harus belajar bertani. Kakek saya petani, masak saya tidak mengerti apa-apa. Saya tidak mau larut dalam diskriminasi pertanian yang diberikan oleh dosen saya itu. Dan mungkin kalau tua nanti, saya mau menghabiskan sisa usia saya dengan bertani. Hihihihi.

Tulisan ini akan saya tutup dengan lirik lagu tentang petani yang dulu kerap diputar di TVRI. Cermati liriknya. Membayangkan kalau profesi petani tidak diminati lagi bukankah sama saja dengan menyusun rencana bunuh diri. Hahaha. Sarkas. Tapi memang begitu kan. Semoga diskriminasi itu tidak berlanjut selamanya.

Nasi putih terhidang di meja.
Kita santap tiap hari.
Beraneka macam hasil bumi.
Dari manakah datangnya?
Dari sawah dan ladang di sana.
Petanilah penanamnya.
Panas terik tak terasa, hujan rintik tak mengapa.
Masyarakat butuh bahan pangan.
Trimakasih Bapak Tani. Trimakasih Ibu Tanii.
Jasamu sungguh mulia!

[Tulisan ini sempat di post di sini]

Selasa, 14 September 2010

Sebuah Pagi Lagi di Pusat Jakarta

Daster tipis mendekati transparan itu melorot sampai pinggang ketika pemiliknya bangun. Menguap sambil mencari-cari telfon genggam, ia mersakan sakit sekujur tubuhnya. Sudah jam enam lima puluh sembilan menit. Jam delapan ia akan berangkat ke kantor, ia berjanji pada dirinya sendiri.

Lantai rumahnya terasa berdebu. Sudah tiga hari tidak disapu ataupun dipel. Ya ya, nanti malam pulang kantor akan dipel, ia berjanji lagi pada dirinya sendiri. Sambil membuka lemari mengambil gelas dan menyeduh sekantong sereal ginseng, dilihatnya bak cuci sudah penuh dengan piring dan gelas kotor. Sebelum berangkat ke kantor akan dicuci dulu, ia kembali berjanji pada dirinya sendiri. Lalu cucian menggunung. Ah, harus segera di laundry.

Lima belas menit berlalu. Kini rambutnya basah sehingga bagian belakang kemeja warna pastelanya terlihat transparan. Warna tali behanya yang hitam mengudara lewat partikel. Hari ini dia memakai push-up bra. Tapi tidak berefek banyak juga. Badannya yang montok mengarah ke gemuk sudah membuat payudaranya terlihat besar.

Sebuah ilustrasi fisik yang bila dipikir-pikir tidak perlu. Lalu kenapa kalau gemuk atau kurus, bukankah manusia akan dihormati setelah melihat kunci mobil atau blekberi atau merek Zara atau apapun itu selama adalah barang kelas satu. Tidak apa tak punya pembantu asal tinggal di apartemen beken. Masih lebih intelek karena kan apartemen memang bukan untuk manusia yang butuh pembantu.

Hahaha. Itu tidak di Jakarta. Apartemen itu perangkat strata sosial. Hanya yang berada mampu beli apartemen. Itu pun masih harus pakai pembantu. Padahal konsep apartemen ya untuk hidup hemat tanpa pembantu. Karena di luar negeri, bayar pembantu itu suatu kewajiban mewah. Mewah karena begitu mahal upah bulanannya. Apartemen untuk hidup berhemat. Di sini? Sudah punya apartemen masih pakai pembantu. Bayar pembantu lebih murah ketimbang beli hape baru. Cih.

Janji mencuci piring menguap ketika lamunannya buyar pukul delapan lewat lima menit gara-gara pesan singkat masuk ke layar seluler.

“Di mana woy? Presentasi kita hari ini”

Dia melangkah agak cepat memakai sepatu hak lima senti dan menjinjing tas ransel isi komputer. Sambil mengunci pintu ia berdoa semoga hari ini hujan sehingga semura orang telat datang ke kantor dan presentasi dibatalkan.

Membosankan. Sangat. Ya ya ya, sekali lagi pagi yang membosankan di Jakarta. Selamat bekerja kembali! Bekerja untuk entah apa. Digit rupiah untuk baju sepatu celana liburan apa pun itu yang dianggap parameter sukses. Manipulasi sukses ala masyarakat umum demi nama baik. Budak baju bermerek atau gaya hidup masa kini. Dia sudah terjebak lingkaran setan itu. Hahaha. Mari tertawa satir untuk diri sendiri.

Mata yang kosong ketika memandang layar komputer atau tumpukan kertas laporan keuangan.Mata yang nyala ketika slip gaji diterima.Mata yang buas untuk mid-night sale.Mata yang tajam ketika pamer baju baru secara halus.Mata yang kesal mendengar cerita liburan manca negara.Mata yang tertutup membaca berita busung lapar.

Haruskah ia menyalahkan Jakarta? Jakarta mungkin harus ditelan air pasang. Energi paginya beracun, membuat orang lupa ada matahari pagi di sebuah gunung atau laut. Ribuan ton sampahnya memakan manusia lain. Sarang tikusnya luar biasa besar ada di senayan. Lalu manekin manekin di mall lantai mengkilap, lalu pengemis-pengemis bermental ular kobra, manusia gerobak berhati serigala, pejabat berhati tumpul, pekerja kantoran berkacamata kuda. Tidak ada manusia normal di Jakarta. Jakarta harus ditelan air pasang.

“Teeeetttt”

Suara klakson busway mengusir pengendara motor. Pikiran si pemilik-daster-tipis-melorot-sampai-ke-perut-yang-sudah-berganti-menjadi-satu-set-baju-kerja-mahal-yang-dibeli-saat-diskon kembali ke bumi. Kembalilah ke realita. Janji menyapu dan mencuci piring tiba-tiba hinggap lagi di kepalanya. Rasa marah ditelan deru kopaja. Tiba-tiba dia kangen pacarnya.

[ ]

Rabu, 18 Agustus 2010

Itu labu!!!!

Kemarin pas tujuh belasan, gw dan Putra berkunjung ke PS menemui Reka yang sedang kebagian shift jaga stand Unicef. Di stand itu ada banyak permainan anak-anak.

Salah satu permainan yang cukup menarik adalah kartu bulat bergambar buah-buahan. Lalu tiba-tiba Gracia datang. Anak kecil putih gendut pipi merah. Mengobrak ngabrik semua mainan, termasuk si kartu buah buahan itu. Anaknya lucu. Bawel. Cerewet. Dia nyerocos dengan bahasa tidak jelas campur campur Indonesia Inggris. Mainlah kami bertiga bersama Gracia.Hahaha. Iya beneran. Ini tiga orang manusia kepala dua main sama anak kecil di tengah-tengah mall.

"This is pumpkin!!!" dia menunjuk gambar labu.

Gw langsung reflek bilang "Labu!!!"

"Noooooo!! Pumpkinnnn!!!"

"Labuuu tahuuuu!!! Labu!!!!"

"Pumpkiiinnnn!!!!"

"Labuuuuuu!!!"

Lalu dia diam sejenak. Terus tiba-tiba "Laaabbbbbuuuuuu" katanya riang sambil monyong. Beneran sambil monyong. Lucu banget.

Hahaha. Ada detik aneh yang gw rasakan setelah si Gracia bilang labu!
Yey yey yey!!!
Selamat untuk gw, Reka dan Putra. Kita sukses mengajari salah satu anak Indonesia calon penerus bangsa ini kosakata bahasa Indoensia : LABU!
Hahaha. Gw yakin ini anak Indonesia tulen, ga pake blasteran sini sana. Bukan bule gitu maksud gw. Ini lucu ga sih? Kok menurut gw lucu ya. Hahaha.

Gracia, oh Gracia. Selain belajar laaabbbuuuu, dia juga belajar jjjeeerrrruuukkk, ssseeemmmmaaannggggkkkaaa, dan pppiiiisaaaaannnggg! :D

Bahasa ibu. Bahasa Indonesia itu bahasa ibu. Kalo nanti gw punya anak, dia musti gape bahsa Indonesia, baru deh bahasa yang lain. Gw ga bilang orang tua yang membesarkan anaknya dengan bahasa selain bahasa Indonesia salah ya. Itu kan tergantung falsafah, prinsip dan tujuan hidup orang tua bersangkutan. Tapi bagi gw, bahasa Indonesia itu indah. Semangka dan pisang terdengar lebih menggugah ga sih daripada "watermelon" dan "banana" ??
:p

Sabtu, 17 April 2010

i found a reason

lagu yang terdengar waktu buka blog ini?
itu judul lagu yang dinyanyiin cat power.
ost-nya V for Vendetta.

tadi malam gw nonton Kick Andy.
ada tiga orang yang profesional di bidangnya, really do something for the humanity.
dan mereka semua orang super berada, tapi mau turun langsung.
and what i can see is that with all their wealth, their intellectual, and their heart they have this power to do all those grateful things: building a house, school...

and i found a reason..
i must be rich, i must be strong, to do the good one.

*ayo kerang kuning!!! cepat pekerjakan gue!!!!!! gw mau jadi ORANG KAYA kayak mereka, dengan hati seperti mereka juga....

Kamis, 15 April 2010

Kebenaran..........

"Kasihan tuh cewe... Clara Adelin Supit. Padahal foto bugil yg beredar beda jauh sama wajah asli dia. Ada 5 account FB yg pakai nama "Clara Adelin Supit" tapi cuma 1 yg bener2 asli. Yg lainnya palsu. Kasihan bener dia kena makelar kasus, padahal itu 4 foto bugil cewe jepang dan 1 foto bugil cewe philipines... Aneh kenapa media "blow up" berita bodong ya? Makin ngaco aja nih pemberitaan di Indonesia... ckckckckkckkk"

Itu status facebook salah satu temen gw, Frengky, yang baru saja gw baca.

Coba bandingkan dengan artikel kompasiana berjudul "Mahasiswi, Kog Mau Bugil Sih !" yang baru gw baca pagi ini..

Lalu kasus kerusuhan Koja dengan dua pemberitaan berbeda ala Satpo PP dan ala penduduk setempat.

Lalu mundur lagi, yang masih jadi mister,i kasus yang menimpa mantan ketua KPK Atashari Azhar dengan berbagai macam versi.

Dan entah masih berapa lagi isu isu yang muncul dengan berbagai macam versi dan setiap versi meyakinkan kita pembaca, bahwa inilah yang paling benar.

Bikin frustasi!! Yang begini ini nih yang mengingatkan gw kenapa dulu gw memilih berhenti mendengarkan TV dan membaca koran. Karena gw udah ga tahu mana yang harus gw percaya.

Ucapkanlah kebohongan berulang-ulang, maka itu akan menjadi kebenaran. Inikah yang sedang terjadi? Jadi apa kebenaran itu pada akhirnya?

Paham gw sekarang kenapa Pilatus dulu bilang "Kebenaran... Apa itu kebenaran?"... Karena ternyata saking seringnya tipu muslihat dan persengkokolan terjadi di sekitar kita, kebenaran akhirnya kehilangan makna dan nilainya sudah bukan sesuatu yang perlu dijaga lagi. Dan orang-orang yang menyerukan kebenaran akhirnya hanya menjadi kaum terpinggirkan yang lambat laun hilang dimakan waktu layaknya onggokan sampah berdebu. ..

Dengan segala kegilaan dunia masa kini, gw rasa kita semua benar-benar harus berusaha keras, benar-benar keras, untuk menjaga agar hati nurani ini tetap licin dan bening, sehingga mampu bersikap bijak dalam menghadapi berita-berita yang beredar di mana-mana. Apalagi orang-orang macam gw, yang sangat mudah terpengaruh dan percaya akan hal-hal baru...

Seperti tagline salah satu minuman bubuk kesukaaan nyokap gw:

Buka mata, buka hati, buka pikiran.

Jangan mudah terpancing. Jangan mudah terpengaruh. Jangan mudah menghakimi. Dan yang paling penting ini. Jangan malas mencari tahu.

Hffff...

Senin, 14 Desember 2009

Filipi 4 : 4-7


“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!
Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!
Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang.
Tuhan sudah dekat!
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”




Kalo baca Supernova-nya Dee, pasti tahu bagian di mana salah satu tokohnya, Rana, bernarasi bahwa Tuhan kerap berbicara dengannya melalui hal-hal di sekitarnya.
Gw pikir, kali ini Tuhan lagi bicara ke gw lewat ayat yang ini.


Kamis, 10 Desember 2009

lebih "dekat" dengan Tuhan

Itulah saya sebulan terakhir ini..
Sejak di rumah,
jadi bendahara natal,
ikut koor gereja..

Hahaha...
Rasanya menyenangkan..
Mungkin karena kali ini saya dengan kesadaran penuh melakukannya.
Setelah pencarian selama ini.

Memang masih banyak yang belum bisa dijawab.
Masih banyak yang aneh.
Masih banyak yang ga sreg.
Masih banyak hal yang ga saya setujui.

But I need something to thank The Force mamen.
Di tengah dunia yang menggila ini, ternyata masih ada keajaiban2 kecil.
Bahwa "dekat" dengan Tuhan ga ada hubungan mutlak dengan rajin ke gereja atau rajin berdoa.
Bahwa "dekat" dengan Tuhan itu tercermin dari sikap, perilaku, aksi nyata.
Yang bikin saya sadar bahwa ga semuanya sia-sia.
Yang ngingetin saya kalo hidup ini masih pantas dibilang indah.
Yang ngingetin saya kenapa saya ngasih kalimat "saya mau belajar mencintai hidup" di kepala blog saya.

Btw, dapat referensi grup musik OK asal Inggris dari Wiwit, namanya EDITOR.
Lyriknya bagus, musiknya tekno2 gitu. Ini salah satu yang bagus, judulnya "Let your good heart take you home".

Enjoy!



http://www.youtube.com/watch?v=GIYVK8UvNGQ

Senin, 12 Oktober 2009

in the middle of the night

gw tahu gw harus tidur sekarang karena besok gw berjanji pada diri gw sendiri untuk lari pagi. celana gw udah kesempitan. padahal gw merasa ga melakukan aktifitas memanjakan diri yang menyebabkan pantat gw membesar.

oh mamen... inikah hukuman menjadi wanita. begitu dipusingkan dengan hal remeh macam bertambahnya berat badan dan jerawat yang ada di mana2.

pernah gw bertanya-tanya. apakah dunia akan menjadi lebih baik tanpa teknologi. teknologi bikin orang serakah dan ga pikir panjang karena segalanya jadi lebih praktis. teknologi juga yang bikin sebagain besar wanita indonesia yang udah ditakdirkan dari sononya berkulit sawo matang ingin menjadi putih.

gw pernah merasa terintimidasi dengan warna kulit gw yang coklat, secara waktu sd gw orang paling hitam di antara temen2 gw yang batak putih, india putih dan cina putih. warna kulit gw membuat gw rendah diri dan merasa diri kelas dua. tapi apakah itu kenyataannya? tidak mamen.. there's nothing to do with your skin color..

jadi gw benci sama yang namanya iklan pemutih kulit!

f*ck marketing!

tapi setelah gw pikir2 marketing ini ga akan ada kalo ga ada yang namanya produksi masal kan?

damn.. itu adalah teknik industri mamen.. industri massive, marketing, dkk..

gw rasa warna kulit hanya sedikit dari banyak paradigma bodoh lain yang timbul karena teknologi.

waktu lebaran kemaren, gw denger cerita kalo ada pak tani yang jual sawah buat beli motor! menurut gw itu sama sekali ga imbang. the saddest part is they feel proud of it...
mereka lebih bangga punya motor daripada punya sawah.
..
rasanya kok ga pas ya..

hmm
ga mau mikirin ini dulu sekarang..
capek.

Minggu, 02 Agustus 2009

life and other..

sekarang jam setengah 2 pagi dan gw masih terjebak di depan komputer karena jetlag dudul ini..

Bokap masuk rumah sakit kemaren malam, dan draft TA gw harus dikumpulkan Kamis ini.
Gw uda beli tiket JavaRockinLand yang buat 3 hari, tapi ternyata temen gw cuman beli yang pas tanggal 9 doang jadinya gw ga ada temen nonton!

Hari ini gw pulang ke Bandung sore dan berharap di kosan banyak anak2. Tapi cuman ada novi ama tendi. terus langsung ke tempat sindy nginep di sana.

Sindy rencananya sidang Jumat ini, dan dari tadi pamer2 kalo cowoknya ganteng. Karena mantannya sindy dulu jelek, dan pacarnya yang sekarang suka beliin martabak, gw ga masalah.

Hahaha..

Dwi lagi senang, dan tampaknya sedang berusaha menikmati hidup. Gw belum pernah liat dwi sebingung dan seseang ini, dan untuk itu gw senang melihat dia senang.

Toil lagi melampiaskan kangen ke "tu me banque" nya, si beruang.. dia tidur cepet biar besok pagi bisa pacaran.. hahahah...

Tadi pas ketemu novi, seperti biasa dia lagi tidur.. hahaha.. ga lucu banget sih. pas gw pergi dia tidur, pas gw pulang dia juga tidur. Gw harus cepet nyelesein TA gw biar novi bisa cepet bikin programnya ke si Ais.

Ada saat-saat menakjubkan di mana gw bisa merasa senang karena orang lain senang, dan merasa sedih karena orang lain sedih. Dan gw merasa hidup gw sangat berarti.

Cacan tadi nanya ke gw, kenapa gw ga punya cowok. Pertanyaan penting yang harus dijawab dulu adalah: gw butuh pacar ga sih?

Sejauh ini gw menikmati setiap aktifitas gw, dan gw menyayangi teman-teman di samping gw, dan gw senang. Hampir ga pernah merasa sepi atau sendiri, karena gw merasa hidup ini sudah begitu indah dan hampir ga ada yang kurang...

Gw pikir gw uda sampai di satu titik yang nyaman bagi gw untuk memandang hidup. Suatu sore di biara di Itali waktu itu. Ini bukan soal gw semata, tapi gimana menjadikan diri ini media energi positif dari dan untuk orang lain. Ketika ada kebaikan datang, teruskan lah kebaikan itu. Dan itu sudah sepatutnya kita lakukan. Karena kebaikan alam berupa air, udara dan sinar matahari kita terima gratis setiap hari.

Selaras dengan konsep "Tuhan, pakailah saya sebagai alatMu...".
Karena memang akhirnya gw merasa gw ada untuk sesuatu, baik hal kecil maupun hal besar. Baik atau buruk hanyalah masalah persepsi memandang, tapi yang gw tahu, gw mau berbuat sesuatu untuk orang lain.

i get my spirit back.

:)

Selasa, 21 April 2009

pake rok hari ini ah.

hari ini hari Kartini..
Ibu Kartini adalah salah satu tokoh yang memperjuangkan pendidikan untuk kaum wanita. Konon katanya dahulu kala, bagi orang Jawa, wanita itu cucoknyha pintar di dapur saja. Ga boleh belajar baca seperti laki-laki.

Oleh karena itu, kalo Kartini ga nekat memperjuangkan hak perempuan untuk bisa belajar, tentu sekarang gw ga bisa nulis blog kayak gini, karena gw tentunya ga bisa baca tulis...

Dan oleh karena itu juga, hari ini gw make rok, untuk mengingatkan gw bahwa sebagai perempuan, gw harus bersyukur atas jasa-jasa Kartini, yang bisa bikin gw jadi pinter kayak gini.

Hidup Kartini!
Hidup Semangat Kartini!
Semangat untuk memperjuangkan apa yang diyakini benar!

Selamat hari Kartini kawan!!!

Rabu, 08 April 2009

beda

tadi malam ngobrol2 sama temen..:

a: eh mau bantu saya jodohin x dan y ga?
b: wah,, susah itu. beda agama.
a: arrgh,, benci sekali mendengar itu...
b: ya sama. tapi susah euy kalo lingkungannya kayak gini..


udah nonton ini belum???

iya.. bener banget...
agama itu adalah bahah provokasi paling murah dan efektif..
dan kalo kita ga tahu apa-apa, kita makin mudah diprovokasi.

Gw emang ga pernah dapet pacar yang sama-sama katolik, paling mentok protestan.
tapi ternyata agama yang sejalan itu bukan mutlak jaminan...

Karena ternyata, setelah gw merenung, yang paling penting dari sebuah hubungan itu adalah hubungan timbal balik yang sehat, kemauan dan kemampuan untuk mengerti, memahami dan berkembang bersama-sama.

Agama itu cuma sebuah terminologi untuk memfasilitasi kebutuhan manusia untuk berTuhan kan...??

Senin, 06 April 2009

MTI adik asuh

Kemaren, saya sempat ikut belajar dengan teman-teman dan Mahasiswa Teknik Industri - Adik Asuh ITB.

Beda dengan Taboo, ank-anak ini adalah anak-anak pinter yang cepat nangkap pelajaran..

Cuman, kemaren kan hari minggu. Kalo dari senin sampe sabtu mereka belajar terus, dan hari minggu masih harus belajar lagi, kasian kan ya?? Harusnya acaranya main2 aja tuh.. Hehehe...

Kan kasian belajar terus...
:p

Arti Nama Gabriella Kirana Anjani

Gabriella Kirana Anjani Anak kedua yang selalu dar der dor ada aja gebrakannya, ga bisa diem, banyk hobi, banyak mau, suka ngambek, tapi so ...