Tampilkan postingan dengan label Sumba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumba. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juni 2015

Catper Sumba Hari Ketiga : Gua Waikelo Sawah, Desa Adat Tarong, Savana Lapale dan Air Terjun Lapopu

Hai hai, akhirnya saya mengumpulkan niat untuk menyelesaikan catata perjalanan yang sudah berlalu satu tahun lamanya. Hahaha.

Hari Ketiga kami meninggalkan Tambolaka mengarah ke Sumba Tenagah. Hari ketiga ini kami masih ditemani oleh Markus dan si om supir. Mereka akan mengantar kami seharian sampai ke tujuan akhir : penginapan Sumba Nautil Resort, resort nomor paling ciamik di Sumba versi tripadvisor tahun 2014. Setelah itu untuk besok sampai nanti kami balik ke Denpasar, akan pakai supir dan kendaraan baru yang dicarikan oleh ownernya Suma Nautil Resort.

Kami mengawali hari dengan pergi ke SD Kristen Baliloura untuk memberikan buku-buku dan majalah yang sengaja dibawa dari Jakarta. Kenapa kami pergi ke sana? Karena salah satu guru di sana adalah juga penduduk desa adat Bondo Kapumbu. Menurut saya ada baiknya kalau jalan-jalan ke tempat baru yang memang terpencil, main ke salah satu sekolahnya. Lalu saya diajarin sama salah satu relawan Kelas Inspirasi Lombok. Katanya kalau jalan jalan, bawalah alat tulis barang 1-2 lusing atau juga majalah-majalah bekas, lalu sempatkan untuk main ke salah satu sekolah di sana. Supaya lebih berasa kalau sama-sama orang Indonesia. Supaya kita bukan cuma turis yang datang seperti tamu. Menurut saya sih itu baik dijalankan :)

Bersama para guru SDK BaliLoua. Sebagian guru-guru ini kayaknya seumuran saya.
Jam 10 pagi, kamu sudah selesai main ke SD dan melanjutkan perjalanan panjang kami berikutnya : Gua Waikelo Sawang dan desa adat Tarong.

Gua Waikelo Sawah

Saya lupa-lupa ingat dengan arti nama Waikelo Sawah ini, tapi intinya nama ini memiliki makna sumber air bagi sawah-sawah di sekitarnya. Jadi gua ini adalah gua yang di dalamnya terdapat mata air. Nah dari gua ini, mengalirlah sungai yang menjadi sumber air bagi sawah-sawah. Kalau tidak ada mata air ini, sawah-sawah ini tidak akan punya sumber air.

Jalan setapak menuju ke gua

Kondisi Dalam Gua. Agak susah mengambil foto bagian dalamnya. Oiya di dalamnya banyak kalelawarnya loh.
Di mulut gua

Pemandangan dari mulut gua

Desa Adat Tarong

Destinasi berikutnya adalah Desa Adat Tarong. Desa adat ini termasuk desa adat yang lebih dahulu populer dibandingkan Bondo Kapumbu ataupun Ratenggaro. Jadinya ya komersil banget. Ketika kita sampai, kita langsung disuguhi berbagai macam barang dagangan dan orang-orang sibuk menawarkan barang.

Baru sampai sudah disambut jualan kain >_<

Letak desa adat ini benar benar di atas puncak bukit. Konon katanya, ketika masih marak perang antar suku di Sumba, orang Tarong melempari batu dari puncak bukit ke musuh-musuhnya yang mendekat. Cara ini terbukti efektif karena sampai saat ini desa adat Tarong masih tegap berdiri. Hahaha.

Kami berkesempatan memasuki salah satu rumah ada dan mendapatkan beberapa penjelasan filosofi dari rumad adat Sumba. Seperti lambang taring babi dan taring kerbau yang mewakili banyaknya upacara. Lalu juga tungku memasak yang bentuknya segitiga, melambangkan organ reproduksi wanita, mengingatkan tugas istri untuk menyediakan masakan. Lalu setiap rumah juga harus memiliki tempat besar yang isinya air, karena air adalah sumber kehidupan. Harapannya supaya rumah tersebut selalu sejahtera dan mengalirkan kehidupan bagi sekitarnya. Dalem ya. Hehehe.

Tanduk kerbau pertanda bahwa keluarga ini pernah mengadakan upacara adat.

Tungku dengan pilar segitiga. 

Kendi yang selalu berisi air.

Rumah adat di Desa Adat Tarong hampir sama dengan rumah adat di Bondo Kapumbu. Hanya saja, di sini sebenarnya ada dua desa yang berbeda. Penduduk desa di sini juga masih melakukan kegiatan sehari-hari. Rumah disusun saling berhadap-hadapan, dan di antaranya ada kuburan batu dan juga tempat untuk melakukan upacara adat. Hanya saja, kalau di sini, kuburan tidak diperlakukan istimewa. Sebagian batu kubur dipakai untuk menjemur pakaian, menaruh kayu bakar atau menaruh barang-barang lain. Ohiya, di sini babi berkeliaran dengan bebas layaknya anjing atau kucing kalau di jakarta hehehe.

Kubur batu yang menjadi tempat jemuran dan menyimpan kayu bakar

halaman yang dipakai untuk menjemur kayu dan lihat ada babi jalan jalan!
Di sini kamu juga berkesempatan untuk berbicara dengan salah satu tokoh agama Marapu yang merupakan warga desa sini, orang memanggilnya Mama. Marapu adalah agama asli orang Sumba. Salah satu kekhasan agama ini adalah membaca kehendak yang kuasa melalui isi perut ayam atau kambing. Kemudian agama Kristen masuk, lalu Marapu berasimilasi dengan agama Kristen. Salah satu bentuknya adalah kalau melihat kubur batu orang Sumba, bagian tengahnya itu retak. Itu melambangkan kuburan Yesus yang terbuka di hari ketiga, harapannya supaya yang meninggal bangkit seperti Yesus.


Mama sedang bercerita tentang Marapu
Berbicara dengan Mama membuat saya menyadari betapa sangat berartinya kearifan lokal tiap-tiap daerah. Kata Mama, Marapu tidak punya kitab suci, semuanya dari hasil ajaran omongan ke omongan. Saya sungguh berharap, kearifan-kearifan agama Marapu bisa tetap terpelihara dari generasi ke generasi.

Siang itu langit Tarong sedang biru-birunya. Dan langit biru itu bagus untuk foto-foto. Jadilah akhirnya kita menutup kunjungan ke desa Tarong dengan foto-foto.

Desa Adat Tarong
Ini ga tau kenapa ga mau dirotate, Ya sudahlahya.
Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang. Belajar dari pengalaman kemarin, kali ini kami sudah lengkap membawa bekal makan siang. Jadi sambil makan di mobil, kami meninggalkan Sumba Barat menuju ke Sumba Tengah.

Savana Lapale

Tujuan berikutnya adalah air terjun Lapopu, namun di tengah perjalanan, kami melewati padang savana yang sangat-sangat cantik. Jadilah akhirnya kita memutuskan untuk berhenti dan foto-foto. Agak jauh naik ke atas bukitnya, butuh sekitar 30 menit. Tapi begitu sudah sampai ke atas... surga :)


Waktu itu agak mendung, jadi warna hijaunya kurang keluar, tapi itu pun juga juga bagus. Biarkan foto-foto yang bercerita deh kalau untuk Lapale ini hehehe.

Red between the green

Ini dia lapale :)

pose wajib tampak belakang hahaha

ada kerbaunyaaa

Inu sedang mengambil foto, Sedikit agak nyaru :p

Air Terjun Lapopu

Selesai menikmati indahnya Lapale, kami melanjutkan lagi perjalanan ke Air Terjun Lapopu. Air terjun letaknya agak jauh. Karena kurangnya pengetahuan dari supir dan guide, rute yang kami ambil itu agak muter-muter. Menurut si guide harusnya kita ke lapopu lebih awal. Jadi mungkin saran buat teman teman yang mau kesana, cek lagi di peta tujuannya gimana dan jalannya gimana biar ga muter muter.

Kami baru sampai di lokasi air terjun itu sekitar jam 4 sore dengan kondisi langit mendung. Jadi kita agak sedikit tergesa-gesa karena takut hujan.

Ait Terjun Lapopu terletak di kawasan hutan lindung. Untuk masuk, kita harus mendaftar terlebih dahulu di pos penjagaan. Setelah itu kita harus menempuh trek yang cukup seru sekitar 20-30 menit lah tergantung jalannya pake banyak foto-foto atau engga. Hehehe.

Air Terjun Lapopu dari kejauhan

Jembatan bambu yang terbuat dari bahan alami. Hanya bisa dilewati maksimal 2 orang.

Sungai yang berasal dari air terjun Lapopu

Yeay akhirnya sampai! Selfie duluuuu :p



The beauty of Lapopu

Simply beauty
Air terjun Lapopu ini masih sangat alami. Ga bisa berenang atau main air karena arusnya sangat kencang. Lalu tidak ada tempat duduk atau tempat untuk menunggu, yang ada cuma batu-batuan sebagai tempat duduk saja. Sejauh ini, ini air terjuan nomor dua paling cantik setelah air terjuan Mardikapura di Malang (eh bener ga si itu namanya?)

Perjalanan kami lanjutkan menuju penginapan Sumba Nautil. Seperti yang sudah dibilang sebelumnya, penginapan ini letaknya lumayan jauh. Kami baru sampai sekitar pukul 8 malam dalam keadaan kelaparan hahaha. Sayangnya, karena letaknya yang jauh dari mana-mana, kalau mau pesan makan ga bisa langsung ada, harus kasih tau dari pagi hari.

Penginapan ini BAGUS banget. Paling fancy dan paling trendy dari segi fasilitasnya. Isinya bule semua, sebagian besar om om surfer dan satu pasangan bule yang kayaknya lagi bulan madu.
Ga sia-sialah bayar hampir 2 juta per malam untuk satu kamar sudah lengkap dengan extra bed. Nyaman banget.

Karena hari ini lumayan lelah, saya tidur lebih dahulu. Sementara Inu dan Bita agak bimbang karena mereka ingin melihat pantai Walakiri di Sumba Timur sementara rencana esok hari adalah menjelajah Sumba Selatan, ke pantai Tarimbang. Jadi bagaimana? Jadi nantikan perjalanan kami hari ke empat di postingan saya selanjtnya yaaaa hehehe.

[ ]
*Foto-foto diambil dari koleksi pribadi Bita dan Inu.

Rabu, 25 Maret 2015

CatPer Sumba Hari Kedua : Menapaki Desa Adat Ratenggaro dan Pantai Pero

Jadi kawan kawan, ini adalah cerita perjalanan saya, Inu dan Bita ke pulau Sumba bulan Mei 2014 lalu Cerita hari pertama bisa dibaca di sini, cerita tentang Danau Wekuri dan Pantai Mandorak bisa dibaca di sini.

Menurut rencana perjalanan, hari ini kami masih bisa mengunjungi dua tempat lagi, yaitu desa adat Ratenggaro dan menikmati matahari tenggelam di Pantai Pero.

Desa Adat Ratenggaro

Kami sampai di desa adat Ratenggaro sekitar jam tiga sore. Desa adat Ratenggaro ini termasuk salah satu desa adat yang wajib dikunjungi di Sumba karena memiliki makam yang berasal dari jaman megalitikum, jaman pra sejarah di mana manusia masih menggunakan peralatan yang terbuat dari batu. Desa ini terletak di pinggir pantai Ratenggaro. Salah satu hal lain yang khas dari desa ini adalah atap rumah adatnya yang menjulang tinggi ke atas.




Oiya, asal nama desa ini sedikit agak menyeramkan sih. Rate itu artinya kuburan, sedangkan Garo artinya orang-orang Garo. Mengapa demikian? Jadi begini, ketika masih terjadi perang antar suku, suku dari orang yang sekarang menjadi penghuni desa ini berhasil merebut desa orang-orang Garo. Di jaman itu, kalau kalah perang ya dibunuh semua dan dikubur di situ juga. Jadilah ini tempat dikuburnya orang-orang Garo. pada jaman itu, katanya kalau menang perang, kepala orang-orang yang dikalahkan itu digantung di atap rumah loh. Serem ya.

Hampir sama seperti orang Flores dan orang Toraja, di rumah adatnya, ada rahang babi dan tanduk kerbau yang digantung sebagai simbol bahwa yang punya rumah pernah melaksanakan upacara adat. Lumayan mahal juga loh, kalau buat babi bertaring harganya itu 30 jutaan, kalau kerbau sekitar 35 jutaan.

Rumah adat Sumba memiliki 4 tingkat. Bentuknya adalah rumah panggung. Paling bawah adalah tempat hewan peliharaan. Lalu tingkat kedua adalah tempat manusia tinggal, setelah itu di atasnya ada tempat untuk menyimpan hasil panen, biasanya digantung. Kemudian di atas tempat memasak ada sebuah kotak yang merupakan tempat menyimpan benda keramat. Paling atas, di puncak rumah adat, diletakkan tanduk kerbau sebagai tanda kemuliaan.

Tempat Penyimpanan Benda Keramat
Rumah adat Sumba biasanya didirikan bersama-sama oleh beberapa keluarga. Bila ada rumah adat yang rubuh, dipercaya bahwa telah terjadi perselisihan antara keluarga yang tinggal didalamnya. Orang Sumba percaya bahwa rumah memerlukan pondasi yang kuat supaya tidak rubuh, dan pondasi yang paling kuat adalah keharmonisan antar keluarga yang tinggal di dalamnya. Sungguh dalam dan penuh makna.

Seperti yang sudah saya bilang di atas, Desa adat Ratenggaro ini memiliki kuburan yang berasal dari jaman megalitikum, atau sekitar tahun 900an. Kuburan ini dipercaya adalah kuburan milik seorang raja bernama Ratendalih (semoga bener nih gw baca tulisan tangan gw sendiri, hahaha). Ratendalih punya tiga istri. Istri pertsama diberi desa Ratenggaro, istri kedua diberikan desa yang lain, istri ketiga tidak punya anak, jadi ga dapet jatah desa. Ketika Ratendalih meninggal, dia memililh dikuburkan di desa Ratenggaro.


Di desa-desa adat yang ada di Sumba sendiri, bisa dilihat ada beberapa macam jenis kuburan. Ini menggambarkan perubahan bentuk kuburan adat sesuai dengan berjalannya waktu.
1. Kotak-kotak kecil, ini adalah kuburan yang paling tua, karena waktu itu jumlah orangnya masih sedikit.
2. Kotak dengan atap berbentuk bulat, tidak ada penjelasan lebih lanjutnya 
3. Kotak dengan ukuran yang lebih besar, ini karena jumlah orang semakin banyak,
4. Kotak dari beton, ini adalah kuburan yang palinf modern.
Bila ada ukiran seperti yang terlihat di foto kami di atas, ukiran ini menunjukan jumlah harta kekayaan yang dia miliki ketika masih hidup.


Desa adat Ratenggaro ini terletak di pinggir pantai, kerap juga disebut desa mengapung, karena bila air laut pasang, dari kejauhan desa ini seolah-olah mengapung di atas air.

Desa Ratenggaro dari kejauhan
Di desa ini, sistem pariwisatanya sudah berjalan dengan baik. Ketika kita datang, ada semacam guide yang tak lain adalah kepala desa dari desa Ratenggaro ini yang menyambut, mempersilakan mengisi buku tamu, dan memberikan penjelasan yang sangat rinci mengenai desa ini. Penduduknya juga cukup ramah dan fasih berbahasa Indonesia. Kami  menyempatkan diri mengobrol sambil melihat beberapa barang yang dijual oleh penduduk setempat. 


Tanda Mata dari Ratenggaro
Saya memutuskan membeli sebuah kalung dengan bentuk yang dinamai "mamoli". Waktu saya tanya, katanya ini adalah simbol untuk wanita dari keluarga bangsawan, simbol kecantikan. Belakangan saya baru tahu bahwa mamoli ini menyimbolkan rahim wanita :)

Mamoli

Waktu sudah menunjukan pukul empat lewat, kami lalu bergegas mengakhiri kunjungan. Oiya, sampai sekarang kadang-kadang saya masih SMSan sama kepala desanya. Hehehe.


Pantai Pero

Hari kedua ditutup dengan melihat matahari terbenam di Pantai Pero. Ini adalah pantai dengan pemandangan matahari terbenam paling cantik nomor dua setelah kepulauan Komodo. Cantiknya bukan main. Biar gambar saja yang bercerita ya.


selfie dulu

Pantai Pero di"pagari" oleh barisan karang

Air yang bning dan nelayan yang sedang mencari ikan yang terperangkap
Sunset di pantai ini dramatis!


Dramatis
Tak lupa kita juga merekam video 360 di sini. Hahaha.



Kiss the sun!
Oh iya. Jalan menuju pantai ini belum benar-benar bisa disebut jalan sih. Kita harus melewati hutan hutan dulu. Dan sepanjang jalan ke sini tidak ada lampu jalannya. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Tambolaka sebelum matahari terbenam. Daaaan kami kelaparan setengah mati, belum makan dari pagi karena tidak ada tempat makan sepanjang jalan.

Dan berakhirlah perjalanan hari kedua. Malam ini adalah malam terakhir kami di Tambolaka. Besok perjalanan dilanjutkan ke Sumba Tengah, rencananya kami akan menginap di Sumba Nautil Resort. Agenda besok lumayan padat, ada Kampung Adat Tarong, Wakelo Sawah, Air Terjun Lapopu dan Pantai Marosi! Jadi nantikan catper Sumba hari ketiga dalam waktu dekat ya ;)

[ ]

Minggu, 01 Februari 2015

Catatan Perjalanan Sumba Hari Kedua : Surga itu Bernama Wekuri dan Mandorak

Ini adalah cerita perjalanan saya, Inu dan Bita ke pulau Sumba bulan Mei lalu. Cerita hari pertama bisa dibaca di sini.

Hari kedua di Pulau Sumba dibuka dengan bangun kesiangan dan melewatkan sunrise. Padahal penginapan kita tepat berada di pinggir pantai. Tapi tidak mengapa, masih ada satu malam lagi di penginapan ini.

Sesuai janji dengan Markus tadi malam, pagi itu kita bertemu di persimpanagan dekat SPBU kota Tambolaka. Ternyata Markus membawa dua orang tamunya. Dia bilang kita bisa bersama-sama pergi ke beberapa tempat. Karena sopir dari mobil sewaan kami masih kurang familiar dengan jalan di Tambolaka, kami mengekor mobilnya Markus.

Tujuan pertama hari ini : Rumah Budaya Sumba

Museum Rumah Budaya Sumba
Di museum ini kita bisa mendapatkan beberapa informasi mengenai kebudayaan Sumba, karena ternyata di Sumba ini ada banyak suku dengan adat istiadat yang berbeda-beda.  Sayang di dalam museum ini kita tidak diperbolehkan mengambil foto.

Di dalam museum ini kita bisa melihat beberapa jenis kain tenun dari berbagai macam suku. Orang Sumba juga telah mengenal  perhiasan yang terbuat dari logam seperti gelang, kalung dan juga sisir. Kita juga bisa melihat beberapa alat musik, peralatan memasak yang dibuat dari tanah liat dan juga peralatan bertani seperti alat memeras tebu, alat berburu, palang gerbang rumah adat dan juga alat pacu untuk upacara Pasola.

Museum ini didirikan oleh Pastor Robert Ramon pada tahun 2010. Penanggung dananya adalah seorang wanita yang menduduki posisi cukup tinggi di produksi air mineral Aqua. Tapi kita tidak diberitahu siapa namanya. Salut saya untuk ibu manajer ini atas usahanya untuk melestarikan budaya Sumba lewat museum ini. Ohiya, di dekat museum ini juga ada sbeuah gereja katolik yang sedang direnovasi.

Setelah meninggalkan museum, kami menjemput dulu seorang teman Markus yang bernama Kitty. Kitty bergabung dengan mobil kami, tujuannya supaya mobil kami tidak terlalu bergantung dengan mobil Markus kalau-kalau ternyata nyasar.

Lanjut ke tujuan ke dua, tujuan yang paling dinanti-nantikan semua orang :

Danau Wekuri!

Perjalanan ke Danau Wekuri ini memakan waktu lebih lama dari yang kami kira : 2 jam saja sodara sodara! Padahal kalau lihat di peta, tempatnya harusnya ga jauh-jauh amat. Infrastruktur di Sumba Barat ini memang masih jauh dari ideal. Jalan yang harus ditempuh menuju ke Danau Wekuri masih berupa jalan setapak yang pas-pasan untuk dilewati mobil. Karena masih setapak, mobil tidak bisa melaju kencang. Maksimal 20 km/jam. Sepanjang jalan juga tidak ada petunjuk arah, sinyal GPS, ataupun lampu jalan. Saya pribadi sedikit agak parno kalau-kalau kita kesasar, karena sopir nya agak kurang meyakinkan. Huhuhu.

Kebayang ga menelusuri jalan seperti ini selama lebih dari 1,5 jam tanpa sinyal GPS
Waktu sudah menunjukan pukul setengah 12 ketika kami tiba di Danau Wekuri. Dan perjalanan dua jam yang sedikit menegangkan itu terbayar sudah.

Kalau katanya surga itu terpecah menyebar di penjuru dunia, maka Danau Wekuri adalah salah satu pecahannya.

Danau Wekuri


clear sky, clear water, i couldnt ask for more
Ketika kami sampai, ada empat orang asing yang juga sedang bersantai di pinggir danau. Ternyata salah satu dari mereka adalah orang yang menemukan danau ini! Jadi ceritanya, waktu mereka lagi naik pesawat terbang, dari atas mereka melihat ada danau. Lalu selama tiga hari dengan menggunakan kuda, mereka mencari tempat ini dan voila, di sinilah kami sekarang menikmati keindahan danau Wekuri :) Bule ini sempat menawarkan untuk main ke tempat mereka, katanya tidak jauh dari sini. Penasaran sih, karena seingatan saya, tidak ada apa-apa sepanjang perjalanan.

Air danaunya sangat jernih dan tenang, kita sampe bisa bikin video ini hahaha. 



Setelah sekitar satu jam bermain-main di Danau Wekuri, kami pindah tempat ke tujuan berikutnya, yaitu pantai.

Pantai Mandorak

Letaknya tidak jauh dari Danau Wekuri, tidak sampai 10 menit naik mobil. Dan begitu kami sampai dan melihat pantainya, saya langsung teriak teriak kegirangan. Ini adalah pantai terindah yang pernah saya datangi :')

itu saya, yang udah kegirangan main main di pasir

Pantai ini adalah pantai kecil yang dikelilingi oleh batu karang. Pasirnya haluuus banget. Airnya biru kehijauan. Dan, para nelayan juga menggunakan pantain ini sebagai tempat berangkat dan pulang melaut. Indah bangetlah pokoknya, udah ga tau harus ngomong apalagi.


I can spend my whole day just sitting here. Tapi habis itu gosong dan kulitnya kebakar sih. Hahaha.

my version of heaven
Pas kami bermain di situ, pas banget ada nelayan yang baru pulang melaut. Ini videonya :


Surga banget kan? Pantai ini dikelilingi bukit karang dan di sisi kiri pantai ini, tepatnya di atas bukit, ternyata ada semacam rumah. Sepertinya, ini adalah rumah yang dimaksud oleh bule yang kami temui di Danau Wekuri tadi. Tinggal di tepi pantai macam ini bagaimana rasanya ya..

Rumah di tepi bukit
Dan, pantai ini adalah cocok untuk pose pose kalender. Hahaha. Saya dan Bita langsung bereksperimen dengan berbagai macam gaya hahaha.

Pose kesukaan hahaha. Sok iya banget ya.

Our usual fail yoga pose hahaha
Dan tentu saja kami juga tidak lupa membuat video 360 :D


We are soooo happy!

Dan demikianlah kesimpulan saya sejauh ini, bahwa potongan surga itu ada di Sumba, namanya Wekuri dan Mandorak. Dan mungkin  potongan surga ini bisa tetap demikian karena keterbatasan akses ke sini. Coba bayangkan kalau sudah ada lapak-lapak indomie dan es kelapa di kiri kanannya, mungkin ga sesurga ini lagi.

Egois ga sih kalau Sumba dibiarkan seperti ini saja supaya tidak menjadi seperti Bali? Tapi kalau begitu, bagaimana dengan perkembangan sumber daya manusianya?

Jam sudah menunjukan pukul dua siang dan akhirnya kami memutuskan untuk bergerak ke tujuan selanjutnya, yaitu  Desa Adat Ratenggaro dan Pantai Pero. Kami belum makan siang, dan perjalanan dari Pantai Mandorak ke panti Pero sebelas dua belas dengan perjalanan sebelumnya. Kiri kanan isinya hanya pohon dan semak belukar. Belum lagi ditambah kepanikan ketika di jalan yang sesempit itu tiba-tiba ada mobil datang dari arah berlawanan. Hahaha. Namun karena memang sudah sangat bersemangat, kami semua bisa menahan lapar.

Ok, supaya ga terlalu panjang dan capek bacanya, sampai di sini dulu saya. Cerita tentang Desa Adat Ratenggaro dan Pantai Pero akan saya ceritakan terpisah di postingan berikutnya yes! Layaknya rumah makan Padang, mohon sabar menanti hehehe.

[ ]


Rabu, 03 September 2014

Catatan Perjalanan Sumba : Hari Pertama yang Penuh Kejutan


Yak akhirnya setelah mengumpulkan niat dan kemauan, hahaha, ini dia cerita perjalanan ke Pulau Sumba akhir Mei lalu :D



Pulau Sumba terletak di selatan Pulau Flores, masuk di dalam provinsi Nusa Tenggara Timur. Nusa berasal dari bahasa San Sekerta artinya pulau. Jadi Nusa Tenggara Timur secara harafiah artinya adalah pulau yang terletak di bagian Tenggara Timur. Ada tiga pulau besar yang termasuk dalam provinsi NTT, yaitu pulau Flores, pulau Sumba dan pulau Timor bagian Barat, karena bagian timurnya sudah jadi negara Timor Leste.

Keputusan untuk berlibur ke Pulau Sumba muncul ketika bulan November 2012, saya bersama Inu, Sapri, Bita berlibur ke Flores dan mendapat cerita tentang keindahan pulau Sumba. Sekitar pertengahan 2013 tiket PP Jakarta Denpasar dibeli dengan harga promo (thanks Inu si jago hunting tiket murah), namun baru sekitar bulan April kita mempersiapkan trip ini, termasuk membeli tiket berangkat Denpasar Tambolaka dan pulang vira Waingapu. Sumba memliki dua bandara, satu di bagian timur, satu di bagian barat. Kita akan menjelajah pulau Sumba dari barat ke timur.

Awalnya kita berniat memakai jasa @backpackseru dengan budget per orang sekitar IDR 3.5 mio. Namun karena Sapri tiba-tiba mundur dari trip  karena kesibukan kerjanya (hiks hiks why Sapri why), maka harga naik menjadi 4 jutaan. H- 2 minggu setelah browsing sana browsing sini, akhirnya kita memutuskan untuk mengatur trip kita sendiri dengan berbekal itinerary yang ditawarkan @backpackseru. Jatohnya lebih murah, per orang jadi sekitar IDR 2.6 mio untuk penginapan dan sewa mobil. Ditambah biaya makan dan tips ke guide, ya seorang kenanya 3 jutaanlah.

Lama perjalanan kita kali ini adalah 5 hari 4 malam. Harusnya sih 6 hari 5 malam, tapi Inu ga dapet cuti ( why Inu why..), akhirnya saya dan Bita menghabiskan sisa satu malamnya lagi di Denpasar. Dan karena pesawat baliknya adalah rute Denpasar - Bandung, satu malam lagi dihabiskan di Bandung. Total liburannya jadi 7 hari 6 malam .Hihihi.

Hari Pertama : Newa Sumba Resort, Bondo Kapumbu dan Pantai Mananga Aba

Hari pertama resmi dimulai ketika akhirnya kita mendarat di bandar udara Tambolaka. Bandara sederhana di bagian Timur Sumba.
selfie sekaligus ngetes tongsis

Bandara Tambolaka, Photo by Inu
Kami akan menginap selama 2 malam di Newa Sumba Resort dan resort ini menyediakan jasa penjemputan di Bandara. Untuk transportasi selama 3 hari di sekitar Tambolaka, kita menyewa mobil dan untuk pemesanannya dapat dibantu oleh pihak Newa Sumba Resort ini. Harga kamar per malam termasuk extrabed sekitar 800-900an, sedangkan ongkos sewa mobilnya 500an per hari.

Dan ternyata, Sumba ini jauh lebih terpencil dibandingkan Maumere apalagi Labuan Bajo. Sinyal langsung timbul tenggelam begitu meninggalkan area bandara, dan perjalanan ke resortnya itu lumayan jauh dari bandara. Jalan yang sepi, kiri kanan hutan kering, kalau malam tidak ada lampu, hahaha. Resortnya sendiri terletak di pinggir pantai.


Kita sampai di resort tepat saat jam makan siang. Setelah selesai unpacking, kita makan siang di resort sembari menunggu mobil sewaan datang. Kita sudah memiliki rencana untuk melihat beberapa tempat, tapi setelah berdiskusi lagi dengan karyawan resort, dia menyarankan beberapa tempat yang tidak ada di itinerary kita yang menurutnya lebih menarik untuk dikunjungi.

Oiya menu makan siangnya cukup unik. Ikan bakar yang enak dan sayuran yang namanya saya lupa, tapi rasanya enak dan segar. Makan di hotel ini ga semahal yang saya kira, per orang jatohnya 40ribuan. Okelah, kita semua bisa makan puas sampe kekenyangan.

Sayur enak yang lupa apa namanya, Photo by Bita

Perut kenyang, mobil sewaan datang. Tujuan pertama hari itu adalah kampung adat Bondo Kapumbu. Tadinya ini tidak ada di dalam itinerary kami, namun pemilik resort menyarankan kami pergi ke sini. Supir mobil sewaan kami rupanya bukan asli orang Sumba, melainkan orang Flores, sehingga dia kurang familiar dengan jalan di sekitar Tambolaka. Setelah perjalanan sekitar satu jam dan nyasar beberapa kali, akhirnya sampai juga di Bondo Kapumbu.Yeay!

Bondo Kapumbu. Photo by Inu

Kampung adat Bondo Kapumbu ini masih asri dan belum terlalu komersil. Ketika mobil kita berhenti di pinggir jalan, sekelompok lelaki dengan parang di pinggang dan muka seram mendekati mobil kami. Serius itu serem banget karena tampangnya galak, Inu aja yang brewokan takut, apalagi saya dan Bita. Tapi setelah dijelaskan kalau kami ingin berkunjung melihat kampung adat ini, barulah mereka menjadi lebih ramah. Fiuh. Hahaha.

Kami disambut oleh salah seorang penduduk yang bernama Pak Alex. Beliau mempersilakan kami duduk di semacam serambi rumah adatnya dan menyajikan sirih-pinang. Adalah suatu kebiasaan di Sumba untuk menyajikan sirih-pinang untuk tamu yang datang ke rumah. Mungkin semacam teh manis kalo budaya Jawa.
Saat ditawarkan untuk mencoba si sirih pinang ini, saya tertantang untuk mencoba. Hahaha.

Sirih Pinang. Photo by Inu.


Awalnya sih baik-baik aja. Beberapa orang berkomentar "Wah hebat ya tidak pusing. Biasa orang kalau makan ini pusing kepalanya." Saya ketawa aja, kenapa pula jadi pusing, sayuran doang. 10 menit kemudian saya berkunang-kunang, mual dan keringat dingin. Ini mah kayak minum shot tequila 3 gelas berturut-turut. Hahaha. Saya kemudian langsung diberi gula pasir. Iya, saya disuruh mengunyah gula pasir. Tak lama kemudian, saya sober dan kembali normal. Hahaha. Sampai sekarang masih menjadi misteri, bagaimana gula pasir bisa mengobati mual dan kepala berkunang-kunang.

Sama halnya dengan desa adat Bena di Flores, kampung adat Bondo Kapumbu juga memiliki kuburan leluhur di halaman rumahnya. Hanya saja bentuknya berupa kotak-kotak yang terbuat dari batu dengan tutupnya berupa lempengan batu datar menyerupai meja. Di sana makam-makam ini tidak terlalu dianggap keramat. Malah dijadikan tempat duduk-duduk loh. Lalu di sana juga banyak anjing berkeliaran. Dan juga kuda!

Kakek duduk-duduk di atas kubur 
Pak Alex banyak bercerita mengenai sejarah dan kebudayaan suku di Sumba. Pertama-tama, dia bercerita bahwa kebanyakan kampung adat di Sumba berada di atas perbukitan. Hal itu untuk mempermudah berperang melawan musuh. Kok bisa? Iya, jadi katanya dari atas mereka bisa melihat dari mana musuh datang dan untuk melumpuhkannya tinggal dilempar batu deh dari atas. Hihihi. Pada waktu masa peperangan dengan Belanda, banyak kampung adat yang pindah ke atas bukit untuk bisa bertahan, karena pada masa itu Belanda sudah menggunakan senjata api. Kalah juga ternyata kalo dilemparin batu dari atas :p

Dan lagi-lagi hampir sama seperti di Toraja atau Flores, lambang kemuliaan suku ini adalah tanduk kerbau dan juga gigi babi. Tanduk kerbau ini dipajang di beranda rumah. Rumah adatnya memiliki atap yang terbuat dari alang-alang.

Kami berkesempatan untuk diajak melihat ke dalam rumah adat. Bentuknya kotak dengan layout cukup sederhana : kamar, dapur dan tempat untuk berkumpul / makan baik keluarga. Lalu ada juga satu ruangan kecil yang digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka. Pak Alex adalah seorang guru, di dalam rumahnya terdapat meja belajar. Oiya, listrik adalah barang langka di sini, sebagian besar penerangan di dalam rumah ini menggunakan lampu templok.

Sebgain perabot  seperti meja dan lemari, terbuat dari bambu.
Pak Alex juga bercerita tentang agama asli orang Sumba, yaitu Marapu. Agama ini mempercayai satu Tuhan dan membaca masa depan melalui tanda-tanda di hati ayam atau hati babi. Ajaib sekali.

Puas melihat-lihat isi rumah adat, kita lalu berfoto-foto dan bercengkerama dengan penduduk setempat. Inu diberi kesempatan untuk berfoto menggunakan kain Sumba dan parang. Ternyata di sini, sangat lazim bila laki-laki membawa parang karena itu adalah simbol kejantanan. Layaknya perempuan memakai anting, pria Sumba itu ke mana-mana membawa parang. Bawa parang, muka galak. Jantan sih emang, tapi yaaaa kalo ga paham ya serem Pak, beneran.

Siapa yang ga takut ngeliat ini :3

Brewok tambah seram
Setelah puas berfoto-foto dan bertukar alamat dan nomor telpon dengan Pak Alex, kita pamit pulang. Ada janji mengirim foto di bawah ini ke mereka. Belum terkirim juga sampai sekarang. Minggu ini deh, janji saya pada diri sendiri.

Bersama warga Kampung Adat Bondo Kapumbu :)
Kunjungan yang menyenangkan, mungkin karena belum resmi jadi desa wisata, tidak ada paksaan untuk membeli ini itu sebagai suvenir yang kerap terjadi kalau kita mengunjungi kampung adat. Berkunjung ke sini seperti berkunjung ke rumah tetangga, semua orang memberikan sambutan yang hangat dan kita diperlakukan layaknya teman sendiri.

Nah, satu minggu setelah kunjungan ini, kampung adat Bondo Kapumbu diresmikan menjadi Kampung Wisata loh. Semoga suasananya tetap hangat dan menyenangkan ya.

Untuk menutup hari pertama yang seru ini, kita pergi ke pantai Mananga Aba, atau lebih sering disebut sebagai pantai Kita. Pantai ini lagi lagi adalah surga dunia yang tersembunyi. Beberapa nelayan tampak pulang melaut kita sampai. Tidak ada pohon kelapa seperti pantai pada umumnya, yang ada adalah pohon khas daerah tropis, pohon berkambium dengan cabang dan daun. Pasirnya juga lembut dan ombaknya besar. Sungguh ideal untuk sesi foto kalender. Hahaha.





Pantai ini tidak tepat menghadap ke barat dan sore it langit sedikit berawan, namun pantai ini benar-benar menghadap ke laut lepas. Benar-benar seperti berada entah di mana. Lost in time.

Hari semakin gelap, kita bergerak pulang ke Tambolaka. Resort tidak menyediakan makan malam, jadi kita mencari tempat makan di kota. Kita dibawa ke warung GG. Ini adalah tempat baru yang menyediakan makanan barat dan punya wifi! Langsung kita bertiga ngepath pamer foto di socmed masing-masing. Hahaha.

Oiya secara tidak sengaja kita bertemu dengan Markus. Markus ini adalah mahasiswa binaan komunitas kuliah ayah saya yang berdomisili di Sumba. Sesungguhnya dia kuliah di Kupang, tapi sekarang sedang pulang ke rumahnya di Tambolaka. Dia biasa menjadi guide. Nah berhubung sinyal di Tambolaka susah, saya tidak kunjung bisa menghubungi dia. Tapi malam itu ternyata kita dipertemukan tidak sengaja, hahaha, jadilah Markus berjanji akan menjadi guide untuk kita besok.

Yeay! Selesai sudah cerita hari pertama. Ga sabar untuk cerita hari kedua, karena dua spot paling bagus di Sumba menurut saya akan dikunjungi di hari kedua :) Sabat menanti yes. Hehehe

Arti Nama Gabriella Kirana Anjani

Gabriella Kirana Anjani Anak kedua yang selalu dar der dor ada aja gebrakannya, ga bisa diem, banyk hobi, banyak mau, suka ngambek, tapi so ...