Tampilkan postingan dengan label Capetown Trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Capetown Trip. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Juli 2012

#4 - Capetown : The Final Day! (Part 7 - END)

Day 8 : The Last Day!

Akhirnya kita sampai lagi ke hari Sabtu. Hari terakhir di Capetown. Minggu pagi besoknya kita sudah harus pulang kembali ke tanah air.

Pagi ini Benny bangun paling pagi dan dia mencoba buat latihan boxing di Boxing Club yang ada di lantai dasar hotel. Pas balik, saya baru bangun dan dia pamer pamer foto latihan ninju sama orang Afrika. Hahaha. Sombong amat deh pokoknya. Setelah kita bertiga mandi, kita sarapan di cafe lobby hotel. Kali ini kita benar-benar menikmati karena ini adalah sarapan terakhir kita di situ. Hehehehe. Sebelum pergi, kita menyempatkan diri foto sama si mbak waitres baik hati yang sabar banget melayani kita.



Rencana hari ini adalah menuju Cape of Good Hope! Kali ini full team, lengkap dengan mba Dina. Yeay yeay. Jam sepuluhan kita berangkat ke The Westin menjemput Dina dan Agung. Agak lama di The Westin karena nungguin Benny tibo dan dia lupa jalan balik menuju ke lobby hotel. Hahaha.

Nungguin Benny Tibo
Untunglah dengan rahmat alam semesta, Benny berhasil menemukan jalan kembali ke lobby dan kita akhirnya jalan ke Cape of Good Hope. Untuk sampai ke Cape of Good Hope, kita kembali melewati Chapman's Peak! Yeay. Tentu saja kita foto foto lagi di sana. Kali ini Agung bawa lensa fish-eye, jadi gambar-gambarnya lebih OK. Agung sama Dina berasa prewed lagi aja gitu. Hehehe.



 Setelah puas foto-foto, kita lanjut turun ke bawah menuju Cape Of Good Hope. Cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba jadi mendung. Sepanjang perjalanan, hujan lumayan deres.

Cape of Good Hope itu terletak di kawasan Cape Point, yang merupakan bagian dari Taman Nasional Table Mountain, kalau tidak salah.

Dengan menggunakan mobil, lama perjalanan dari CapeTown itu sekitar 45 - 60 menit. Pas berangkat kan hujan ya. Syukurlah pas nyampe kawasan Taman Nasionalnya, hujan reda. Yey yey.

Untuk masuk ke kawasan Taman Nasionalnya itu kita baya per orang, lupa berapa tapi kalau tidak salah jatuhnya per orang sekitar 50 ribuan. Pas masuk, di pos jaganya sudah ada penjelasan jam berapa taman akan ditutup dan ada hewan apa saja yang munkin bisa kita temui selama di sana. Ada peringatan keras bahwa kalau ketemu baboon, kita tidak boleh memberi dia makan. Baboon yang sudah berinteraksi dengan manusia akan menjadi agresif dan membahayakan lingkungan sekitar. Baboon yang seperti ini biasanya akan dibunuh supaya tidak menggannggu :(

 Sempat agak bingung karena begitu masuk cuma ada hamparan tanaman dan jalan raya dan laut. Tapi ada rumah yang berisi informasi apa-apa saja yang bisa dikunjungi. Ini cukup membantu. Uniknya, rumah ini kosong, tidak ada penjaganya. Cuma ada peta, brosur yang banyak, dan beberapa papan berisi informasi soal Cape Point yang semuanya diatur rapih. Walau tidak ada orang, tapi rapih loh rumahnya. Terawat. Pemandangannya juga bagus :)


Foto di atas saya upload karena ini yang paling jelas. Liat warna lautnya deh. Yang sebelah kiri agk biru hijau, yang sebelah kanan lebih biru. Sepanjang ngeliat ke arah laut, saya memang menyadari ada perbedaan warna laut, tapi saya pikir itu karena perbedaan kedalaman airnya. Ternyata eh ternyata setelah kita balik ke Capetown dan bertemu seorang teman, dia menjelaskan bahwa di Cape Point, kita bisa melihat pertemuan dua samudra, yaitu Samudra Atlantik dan Samudra Hindia. Pertemuan kedua arus itu bisa dilihat jelas, dan perbedaan warna antara air dari Samudra Atlantik dengan air dari Samudra Hindia. Hahahaha.

Dari rumah tempat informasi pariwisata tadi, diputuskan kita menuju ke Cape of Good Hope dulu, baru setelah itu ke Lighthouse nya. Berdasarkan artikel yang saya baca tentang Capetown, Cape Point Light House ini adalah salah satu tempat yang WAJIB dikunjungi kalau kita ke Cape Point.

Cape of Good Hope

Di perjalanan menuju Cape of Good Hope, kita ketemu sama burung unta loh! Namanya juga Taman Nasional, mereka ya dibiarin gitu lepas cari makan, kayak di Taman Dafari. Pemandangan menuju ke sana juga OK punya loh :)


Dan begitu smpai di Cape of Good Hope, kita semua sekali lagi terbengong bengong. Bagus banget. Cape of Good Hope adalah bagian dari benua Afrika yang terletak paling Barat Daya.

Selain papan yang memberi info bahwa daerah ini adalah "The Most South-Western Point of The African Continent", Cape of Good Hope memiliki pemandangan yang sangat sangat sangat cantik. Lihat bukit di latar foto di atas? Bukit itu bisa didaki loh. Jalurnya sudah dibuat sedemikian rupa sehingga cukup nyaman. Pemandangan dari atas sana adalah salah satu pemandangan paling cantik yang pernah saya lihat.


Langit itu bener-bener biru, air laut juga bener-bener biru. Berasa di negara antah berantah. Well, Afrika memang agak antah berantah si. Tapi sejujur-jujurnya saya pribadi tidak mengharapkan akan ketemu pemandangan semantap ini.

Setelah menikmati pemandangan di atas Cape Of Good Hope ini, kita turun ke bawah. Pemandangan dari bawah juga tidak kalah cantik loh. Ombak yang menabrak karang, orang memancing. Saya rasa saya sangat bisa bengong di tempat macam ini cuma untuk ngeliatin ombak selama berjam-jam. Hahaha. Itu mah namanya galau yak.



Pas kembali ke mobil, kita semua sudah kelaparan. Diputuskan untuk menuju lighthouse atau bahasa indonesianya mercusuar. Di dekat mercusuar itu ada tempat makan. Hampir mirip dengan tempat makan di Table Mountain, konsepnya itu restoran fine dining, dengan pemandangan laut lepas. Pelayanannya memuaskan, makanannya enak! Sebelum makan, saya sempat menggalau beberapa menit. Berdiri di balkon, memandangi lautan lepas, dengerin lagu dari BB. Hahahaha. Super galau di tempat mamen. Tapi entah kenapa waktu itu rasanya benar-benar butuh sekali buat bengong ngeliatin laut lepas. Rasanya surga. Hahahaha.


The Lighthouse

Setelah selesai makan, kita  menuju ke mercusuar. Letaknya cukup tinggi dan ada dua cara untuk menuju kesana : jalan kaki gratis, atau naik semacam kereta, bayar dua puluh ribuan. Kami ini kan orang asia yang kedinginan dan agak malas. Oleh karena itu, tanpa ada perdebatan yang berarti, kami memilih nomor dua! Hahaha. Menunggu kereta dan perjalanan sampai ker atas memakan waktu sekitar lima belas menit.


Dan akhirnya, sampailah kita di mercusuar Cape Point!


Langit yang biru cerah, dedaunan yang hijau, pemandagan yang asik, keren sekali lah tempat ini.


Ternyata lumayan capek juga jalan jalan di sektiar Cape Point. Waktu sudah menunjukan sekitar pukul empat. Kita tadinya mau mampir ke tempat Vasco Da Gamma pertama mendarat di Afrika. Tapi ketika masuk mobil, hujan turun lagi. Jadinya bubar jalan deh rencananya. Tapi lucu juga. Pas berangkat hujan, pas pulang hujan. Oiya, pas pulang kita sempet bertemu dengan satu keluarga baboon yang sedang menyebrang jalan! Sayangnya karena kita semua kaget tiba-tiba ada keluarga baboon nyebrang, kita bengong dulu, terus baru inget kalau punya kamera. Gampbarnya agak agak burem deh.


Di perjalanan pulang, kita melewati Chapman's Peak lagi, dan untuk kesekian kalinya kita berhenti lagi untuk foto-foto. Hahahaha.



Kita sampai kembali di Capeotwn sekitar jam enam sore. Malam ini kita ada janji untuk makan bersama teman kita Adhy, dialnjutkan dengan nonton final Liga Champion.

Cafe Royale

Tempat yang dipilih oleh adiknya Adhy untuk makan malam namanya Cafe Royale. Konon katanya ini adalah restoran yang menyajikan burger paling enak sekota Cape Town. Hahahaha. Lokasinya di jalan Long Street. Agak susah mencari karena penampilan luarnya tidak seperti restoran yang menjual burger. Vintage klasih gimana gitu. Hahahaha. Pas kita sudah sampai restorannya, ternyada Adhy belum sampai ke situ.


Porsinya besar seperti biasa. Tapi karena burger, rasanya agak aneh kalau harus sharing, jadilah kita memesan satu orang satu. Well, kebanyakan. Hahahaha. Saya tidak habis. Tapi rasanya memang benar enak loh. Pelayannya juga cantik. hahahaha.  Ketika kami sedang makan, Adhy dan adiknya akhirnya sampai juga ke restoran. Kita semua makan dengan bahagia. 

Cafe Mojito
Setelah semua selesai makan, agenda selanjutnya adalah nonton final Liga Champion. Setelah keliling ke sana, ke sini, akhirnya kami memutuskan untuk nonton di Cafe Mojito!

Tempatnya hommy banget. Kita datang agak awal jadi bisa langsung mendapat tempat paling strategis, di belakang yang ada senderannya semua. Hahahaha.

Sex On The Beach ;)
 



Malam itu ditutup dengan kemeangan Chelsea. Rendy dan Benny happy bener.  Secara malam sebelumnya saya diberi kuliah singkat oleh Rendy tentang betapa final ini meruapkan salah satu final bersejarah dalam dunia sepakbola. Hahahaha.

Begitu pulang sampai ke hotel, saya masih semangat menghabiskan botol wine yang tersisa di hotel. Tapi dua teman saya ini nampaknya sudah tidak mampu lagi. Ya sudah deh. Untuk terakhir kalinya saya ditinggal tidur lagi ketika saya masih hot-hotnya ingin bawel cerewek cerita ini itu. Saran terakhir dari mereka adalah sebaikya saya mencari teman baru. Hahahaha. Welll, hari terkahir di Capetown usai sudah. Besok pagi, kita harus sudah ada di bandara jam delapanan untuk menyelesaikan urusan penyewaan mobil. Hiks.. Indonesia, I'm coming..

Day 9 : Bye bye Capetown!

Pagi yang benar benar terkahir di Capetown. Pagi itu kami sudah sepakat janjian akan menggunakan seragam. Hahaha. Kami memakai baju dengan tulisan Capetown yang kami beli hari Jumat lalu. Yang cowok pakai baju warna oranye. Saya warna biru tua. Hahahaha.

Tidak ada masalah berarti ketika check out dari hotel. Ketika kami pergi, cafe tempat kami biasa sarapan belum buka sehingga tidak sempat berpamitan dengan mbak mbak pelayan baik hati. Dari Sea Point, kita segera menjemput Agung. Suasana pagi itu gloomy. Pada sedih musti pulang ke Jakarta. Hahahaha.

Sempat berputar beberapa kali di bandara karena Benny seperti biasa salah jalan, hahahaha, tapi kami berhasil sampai di bandara dengan selamat. Proses pengembalian mobil sewaan tidak seruwet yang kita kira. Tidak sampai sepuluh menit, sudah beres. Tagihan ongkos tol yang kami gunakan selama di Capetown akan dibebankan ke kartu kredit yang dipakai untuk membayar sewa. Begitu juga dengan denda bila ternyata setelah dicek kami melakukan pelanggaran lalu lintas. Hahahaha.

Ngomong-ngomong, airportnya Capetown itu lumayan OK. Mirip sama Changhi tata letak dan konsepnya.


Sebelum boarding, tentu saja kita belanja dulu. Hahahaha.Untuk belanja, peraturannya sangat ketat. Yang boleh dibawa itu kalau engga dua botol wine, atau satu wine dan maksimal tiga jenis liquor. Saya membawa pulang satu botol wine dan satu botol Amarula (liquor khas Afrika Selatan). Botol wine saya berikan untuk teman baik saya, sedangkan Amarula saya buka ketika ulang tahun saya minggu lalu. Amarula rasanya sama seperti wine :)


Bye bye Capetown!! Sembilan hari yang menyenangkan di benua Afrika! Perjalanan kali ini memberikan banyak inspirasi kepada saya. Bahwa saya HARUS mengelilingi dunia. Saya harus tahu bagaimana kehidupan di belahan bumi yang lain. Saya juga ingin sekolah lagi :D

Sekali lagi, bye bye Capetown! Thank you for the inspiration! :)

___________________

Fun facts after the trip :
1. Pesawat baru sampai di Jakarta jam dua belas siang di Jakarta dan akhirnya saya bolos ngantor. Hahaha.
2. Bulan Juni lalu, kartu kredit Agung mendapat charge sekitar dua ratus ribu rupiah dari jasa penyewaan mobil. Itu adalah ongkos karena melanggar peraturan lalu lintas. Tidak ada rinciannya, tapi kemungkinan terbesar melanggar limit kecepatan. Hehehehe.

Jumat, 06 Juli 2012

Another fun day at #4 - Capetown - Part 7

Day 7 : More FUN!

Bangun pagi di benua Afrika hari ke tujuh. Rasanya masih tidak percaya. Hahaha. Pagi itu saya bangun cukup siang karena tidur paling akhir malam sebelumnya. Waktu saya bangun, Benny sudah lari pagi. Pagi itu kami bersantai-santai. Mandi, lalu sarapan di cafetaria bawah.

Nama cafetaria nya itu "KOS". Pas check di trip advisor, termasuk salah satu tempat makan yang lagi happening loh di Sea Point. Hahaha. Suasananya rumahan, makanannya lumayan lah. Kita bertiga selalu mesen menu yang sama selama tiga hari di sana soalnya, jadi kurang mengexplore menu menu lain selain menu sarapan. Hahaha.


Jam sepuluh kita berangkat menjemput Agung ke Westin. Rencana hari ini adalah pergi ke Castle of Good Hope, setelah itu menjemput mba Dina , lalu kita lanjut ke Cape of Good Hope!

Castle of Good Hope

Pertama  sampai di Castle of Good Hope, yang paling mencolok buat saya adalah bendera yang berkibar di atas dinding benteng kastil ini.


Jadi itu kan ada enam bendera, Saya berasumsi bahwa itu adalah urutan pemerintahan di Afrika Selatan. Awalnya dijajah Belanda, terus Inggris, terus Belanda lagi, terus Inggris lagi, sampai akhirnya merdeka sebagi Afrika Selatan. Hahaha.

Yippie! Ternyata hari itu, 25 May 2012, adalah hari Museum Internasional. Oleh karena itu, kita berempat tidak perlu bayar tiket untuk masuk ke Castle of Good Hopeini.

Waktu pertama kali masuk ke dalam, yang paling mencolok itu adalah ada kuda gede banget di halaman kastilnya. Gede banget. Terus bulunya lembut.

 Kastil ini dulu adalah pusat pemerintahan kota Capetown. Dibangun di masa penjajahan Belanda, entah tahun berapa, hahaha, gedung ini masih dipakai buat beberapa kegiatan pemerintahan. Sebagian dijadikan museum, sebagian lagi bisa disewa untuk pameran, atau acara-acara lain seperti gathering dinner.

Seperti peraturan museum pada umumnya, kita ga boleh ambil foto di dalam situ. Yang paling gw kagumi kalo pergi ke museum-museum gitu adalah kalau ada peta-peta jaman dahulu. Oiya, karena pernah dijajah Belanda juga, di dalam museumnya ada beberapa barang dengan label VOC. Oiya, satu lagi yang menarik di area kastil ini adalah ada jam mataharinya.



Kita beruntung, karena tepat jam dua belas, ada upacara pergantian petgas penjaga kastil. Seru loh, jadi di akhir seremoni, pasukan ini menembakan semacam mesiu dari sebuah meriam kecil seukuran botol aqua satu liter. Kecil sih, tapi suaranya manstap. Kenceng bikin kaget seRT.


Setelah menyaksikan prosesi pertukaran penjaga, seharusnya kita jemput mba Dina untuk lanjut ke Cape of Good Hope. Tapi ternyata mba Dina masih ada kerjaan. Agenda pun dirubah. Hari ini kita belanja oleh oleh. Cape of Good Hope dipindah ke besok.

V&A Waterfront

Dari Castle of Good Hope, kita langsung menuju ke V&A Waterfront. Ada dua agenda penting : makan siang dan cari oleh-oleh. Berhubung waktu sudah menunjukan pukul satu lewat, kita memutuskan untuk cari makan dulu. Setelah keliling kiri dan kanan, muter sana muter sini, pilihan jatuh ke Quay Four.

Quay Four adalah restoran yang cukup menyenangkan. Ada indoor dan outdoornya, terus di sana banyak burung-burungnya juga. Jadi mereka makanin rempah-rempah kecil dari makanan kita.


Selesai makan, kita belanja. belanja, belanja, belanja. Hahahaha. Saya membeli baju, magnet, gantungan kunci, tas. Habis cukup banyak, tapi barang-barangnya cukup banyak. Belakangan baru tahu, kalau mau cari oleh-oleh harga murah, jangan di waterfront, tapi di tempat lain yang saya lupa namanya apa. Hahaha. Semacam pasar gitu, tapi cuma ada sampai jam dua siang..

Salah satu kejadian unik adalah pas kita lagi belanja belanja gitu tiba-tiba ada orang nyamperin. "Mas, dari Indonesia ya?" Hahahaha. Kita ketemua sama satu orang Indonesia. Dia lagi ikut training Navy Perancis, dan kapalnya lagi singgih di Capetown. That's cool! Kita sempat tukar pin BBM, tapi karena BB saya hilang, saya lupa siapa nama si mas ini. Anggap saja si mas Navy. Kita ngobrol cukup lama sama si mas navy ini. Seru banget hidupnya. Sebelum dari Capetown dia baru dari Paris, dan setelah dari Capetown dia mau ke Rio! Aaaaaaa. Envy to the max!


Habis belanja kita sempat jalan-jalan keliling kiri kanan dulu. Menikmati Waterfront karena kita ga bakal ke sana lagi. Hiks..


Setelah puas belanja-belanja. Kita pulang ke Westin, jemput mbak Dina. Lalu pergi balik ke Amalfi, browsing cari tempat makan, terus pergi makan malam. Padat ya jadwal kami. Hahahah.

Pencarian lokasi makan malam kali ini agak sedikit lebih ribet karena kita pingin makan di tempat yang happening di Capetown dong. Dalam perjalanan ini, saya memang punya tugas untuk mencari tempat makan berdasarkan informasi di internet. Biasanya saya cari di tripadvisor.com atau ke mydestination.com/
Lima hari di sini, saya belajar bahwa hampir semua restoran yang kami kunjungi selalu memberikan pelayanan yang memuaskan dan semua masakannya enak. Jadi tidak usah takut pergi ke sembarang restoran dan makanan ga enak, jamin pasti enak.

Malam ini pilihan jatuh ke Cascades on the Promenade, di daerah Sea Point, dekat dengan hotel kita.

Cascades on the Promenade

Cascades on the Promenade sebenarnya adalah bagian dari hotel the Promenade. Malam itu tampaknya cuma kami satu-satunya tamu di restoran itu. Suhu di kota Capetown saat itu sedang dingin-dinginnya. Kita memilih duduk di dalam. Malam itu kita makan enak seperti biasa. Ada babinya. Hahahaha.


Kalo di gambar, yang paling kanan itu babinya. Enak deh. Hahaha. Itu yang paling saya inget.

Setelah makan, kita janjian buat ketemu temen kita yang lain lagi. Tempat pertemuan disepakati. The Power and The Glory.

The Power and The Glory

Jadi ini semacam kafe gitu. Karena itu malam sabtu, rame banget. Ada bartender cewek yang OK banget, suka ngeliat gayanya. Semua bartendernya cewek lo ngomong-ngomong. Musiknya OK, tapi buat nyari tempat duduk agak susah.

Nah, di situ kan bulenya tinggi-tinggi ya. Susah banget lo mesen di situ. Harus jinjit-jinjit. Hahahaha. Harga minuman tetap murah. Tapi saya lebih suka tempat yang kami datangi malam sebelumnya sih.


Overall, hari ini kita semua happy. Good food, nice shopping, ditutup dengan cool behave hangout. Hahaha.
Kita ga pulang terlalu malam karena besok pagi seharian, kita mendedikasikan waktu untuk Cape of Good Hope. Dan kali ini full team, mba Dina sudah free dari kerjaan kantornya. So excited :)

Rabu, 04 Juli 2012

Back to #4 - Capetown (Part 6)

Day 6 : Explore Capetown!

Berangkat jam lima sore dari Knysna, kita berhasil sampai ke Capetown jam satu pagi. Setelah mengantar Agung ke hotel The Westin, tidak sampai setengah jam kita berhasil sampai ke hotel tempat kita menginap sampai hari Minggu nanti : Amalfi Suites Hotel.

Amalfi Suites Hotel cukup recommended. Tarif 200 Rand per orang per malam, sekitar 240 ribu rupiah. Kita mendapat satu kamar yang luas. Satu kamar tidur dengan ranjang queen size, satu ruang tamu dengan tempat tidur single dan sofa yang panjang dan empuk, cukup untuk tidur dua orang, satu kamar mandi, satu meja makan, satu tivi, satu balkon, satu kulkas, satu toaster, satu termos, satu microwave, satu coffe maker, dan ada microwave nya juga. Peralatan dapur lengkap, ada piring, gelas, pembuka botol. Hahaha. Di situ juga ada tempat parkir khusus penghuni hotelnya. Kita diberikan kunci parkirannya, jadi tidak usah khawatir kalau pulang malam. Kuncinya canggih lo, yang tinggal dipencet terus pagernya kebuka sendiri *kampung*. Hahahaha.

Hotel Amalfi ini terletak di daerah Sea Point. Seperti namanya, Sea Point, hotel ini terletak di dekat laut. Cukup jalan kaki sekitar dua menit, kita sudah sampai ke pinggir pantai. Pinggir pantainya itu ditembok sedemikian rupa sehingga orang-orang bisa nyaman berjalan kaki menyusuri pinggir pantai. Sebelum tidur, ada wacana untuk lari pagi menyusuri pantai Sea Point. Benny yang paling semangat.


Walau tidur jam satu pagi, jam enam pagi Benny sudah bangun ngajakin lari pagi. OK Challeng accepted. Kita bertiga keluar  untuk nemenin Benny lari. Yang lari Benny doang kok. Saya dan Rendy jalan kaki cantik saja. Suhunya dingin. Sekitar 15 derajat kali ya. Tapi banyak juga yang lari pagi, dingin-dingin kayak begitu. Oiya, di sepanjang jalan ini masih banyak burung camar loh. Terus ada juga yang lari pagi sambil bawa anjing. Menyenangkan sekali.


Cerita Tolol 1

Yang akan saya ceritakan setelah ini adalah cerita yang agak tolol. Seperti yang saya bilang, yang lari beneran cuma Benny, sedangkan saya dan Rendy cuma jalan kaki. Jadi Benny lari mendahului, saya dan Rendy jalan santai. Lima belas menit berlalu, Rendy sakit perut ingin boker. Dia memutuskan untuk balik ke hotel. Karena kunci kamar hanya satu, kunci saya berikan ke Rendy. Kita sepakan untuk bertemu di cafetaria lantai bawah hotel setelah ini. Rendy pergi, saya lalu lari-lari kecil menyusul Benny. Setelah Benny selesai satu putaran, saya dan Benny berjalan-jalan sebentar lalu memutuskan kembali ke hotel.

Sesampainya di hotel, jeng jeng, Rendy tidak ada di lantai bawah. Kami mulai panik. BB-nya Rendy habis batere, dia tidak bisa dihubungi. Benny akhirnya entah bagaimana ceritanya bisa mendapat akses untuk masuk ke kamar. Jeng jeng.. Di kamar, Rendy juga tidak ada. Petugas yang membantu Benny masuk ke kamar berusaha membantu. "Kalau teman kamu hilang, kamu ada fotonya ga? Kita bisa lapor ke Polisi." Hahahaha. Serem amat. Lagian foto Rendy yang ada di BB-nya Benny ya foto Rendy sama gajah atau burung camar. Hahahaha. Tapi tentu saja waktu dengar saran dari si petugas Hotel, Benny panik. Ga lucu banget ya, cuma gara-gara misah buat boker, doi hilang gitu. Saya juga panik karena menurut review yang saya baca, daerah Sea Point ini agak rawan kejahatan. Haduh. Mules deh pokoknya mikirin kemungkinan itu.

Setelah hampir sekian belas menit saya dan Benny panik, tiba-tiba Rendy muncul dari pintu masuk tanpa merasa bersalah. "Gw tadi nyasar balik ke sini." GUBRAKS! "Terus lo udah boker?" saya tanya. "Ya belum, ini baru nyampe." Hahahaha. Muka datar, nada bicara datar, kas Rendy. Tahu dia ga hafal jalan, mending nungguin saya dan Benny lari pagi. -______-"


Chapman's Peak

Setelah kami bertiga bisa berkumpul lagi dengan selamat, kami sarapan di cafetaria lantai bawah hotel, lalu bersiap-siap mandi, menjemput Agung. Ada banyak rencana untuk menhabiskan waktu di Capetown. Naik sepeda keliling Capetown, pergi ke Chapmans's Peak, pergi ke Cape of Good Hope, cari oleh-oleh, dan tentu saja mencoba tempat-tempat hangout asik di Long Street.

Untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah gerak kami, sekali lagi saya tampilkan gambar Capetown, kali ini dengan petunjuk yang lebih jelas. Hahahaha.


Agenda hari ini adalah menuju ke Chapman's Peak. Dari Amalfi Hotel, kita menjemput Agung di The Westin.
Kita berencana untuk naik sepeda keliling Capetown. Salah satu rekomendasi adalah ke Bookap. Tapi begitu sampai sana, kita agak kebingungan. Akhirnya diputuskan untuk mencari nomor telfon rental sepeda.

Cerita Tolol 2
Ini percakapan paling tolol yang pernah saya lakukan. Malu sendiri kalau mengingat-ngingat.
Gita : Hi, is this a bike rental?
X : Yes.
Gita : I wan to rent bikes for four people.
X: OK. When do you want to bike?
Gita : Err.. Today?
X: Hmmm. I should check first. How you gonna take the bike? Do you want us to delivery the bike to your place?
Gita: Err.. OK. I think that's better.
X: So How many are you?
Gita: Four
X: How many male? Female?
Gita: 3 male, 1 female
X: How tall your male friends?
Gita: Hmmm 170 cm I guess.
X : And you?
Gita around 150 cm.
X: What is your address?
Gita: Errr,, Jeans and T shirt..
X :.... No I mean where do you live?
Gita :*ziiiiiiiiiing*
GUBRAKS...

Hahahaha, Entahlah mengapa saat itu yang saya dengar adalah "What is your dress?" yang artinya "Apa gaun yang kamu kenakan?" Hahahaha. Ini tolol level dewa. Satu mobil udah ngetawain saya. Saya berusaha nahan ketawa ngomong saya si rental sepeda. Sialan.

Sepeda baru bisa ada jam dua siang sedangkan sekarang baru jam sepuluhan.Terlalu lama menunggu. Kami memutuskan untuk ke Chapman's Peak. Sepertinya ke Chapman's Peak tidak mungkin selesai jam dua siang. Akahirnya rencana sepeda dibatalkan. Syukurlah. Saya malu juga ketemu sama si orang rental sepedanya. Hahahaha.


Well, Capetown itu memang kota yang penuh kejutan. Di tengah perjalanan menuju Chapman's Peak, kita melewati pantai yang menggoda sekali untuk disinggahi. Infrastruktur Capetown mengerti hal ini, sudah disediakan tempat parkir untuk orang-orang yag ingin main ke pantai. Kita parkir lalu turun ke bawah. Pantainya itu pantai bebatuan, tapi suara ombak dan warna - warnany begitu menyenangkan untuk dilihat. Dengan latar belakang Lion's head, enak betul dipandang mata.  Oiya, ada juga sepasang orang tua di usia senja yang sedang piknik di situ loh.

Puas memanjakan mata, kami melanjutkan perjalanan ke arah Chapman's peak.

Chapman's peak itu apa sih? Itu adalah jalan raya yang terletak di pinggir tebing. Jadi sepanjang jalan itu bener-bener samping kita laut, sampingnya tebing. Di beberapa titik, kita bisa berhenti dan menimati pemandangan. Bukan cuma untuk kendaraan, di sini juga diperbolehkan orang-orang untuk melakukan tracking, sepedaan, bahkan ada yang lari. Busyet dah.  Chapman's Peak ini merupakan bagian dari Taman Nasional Tabel Mountain. Oiya, ini salah satu lokasi shooting film James Bond loh. Inget ga adegan yang ada mobil kejar2an di gua pinggir tebing. Ya di Chapman's Peak ini.

Jadi untuk masuk ke daerah Chapman's peak, kita harus bayar uang masuknya dulu. Sekitar tiga puluh ribu rupiah. Lalu sebelum masuk ke jalur pinggir tebingnya, ada orang yang mengecek tiket kendaraan dan juga keselamatan penumpang mobilnya. Pas kita diperiksa, si petugasnya ngomong. "I'm checking your safety." Terus Agung jawab "Yes, We will drive safely." "No you're not." Kata petugasnya. Kita bingung. "She's not wearing safety belt" Si Petugas nunjuk ke arah saya yang duduk di kursi belakang. Doeng doeng doeng. Bikin malu emang ini si Gita. Biasanya pakek kok Om Petugas, tadi karena sibuk foto ini foto itu jadinya dilepas sabuk pengamannya.

Betul-betul deh, di saat kita pikir kita sudah mendapatkan the bestnya Capetown, begitu masuk ke area Chapman's peak kita semua langsung terbengong-bengong lagi. BAGUS BANGET!


Setelah melewati Chapman's Peak, kalau diteruskan bisa sampai ke Cape of Good Hope. Tapi Cape of Good Hope disimpan untuk akhir pekan supaya kita bisa bareng sama mbak Dina. Perut keroncongan,  sudah waktunya makan siang. Kita memutuskan untuk makan di The Chapman's Peak Restaurant.


The Chapman's Peak Restaurant and Hout Bay Beach

Restoran ini mendapatkan rating yang lumayan tinggi di tripadvisor.com. Yang paling direkomendasikan adalah Calamarinya. Dan memang betul, calamarinya enaaaaaaaaaaak banget. Oiya, restoran ini juga termasuk restoran tertua di Capetown. Restoran ini sudah berdiri sejak jaman masih dijajah lah istilahnya.

Maafkan, karena kami lapar, tidak satu pun makanan sempat difoto. Hahahaha. Oiya, ini adalah restoran di mana kita bisa makan kenyang dengan harga paling murah. Kalau tidak salah cuma tiga ratus ribu rupiah, sudah dapat dua main course, dua pencuci mulut, satu gelas wine dan satu pan calamary.  Kenyang dan bahagia :)

Sebelum kembali ke kota Capetown, tepat di seberang restoran ini, ada pantai namanya "Hout Bay Beach". Kita memutuskan untuk main main sebentar di situ.


Balik ke Capetown, tadinya kita mau main ke Castle of Good Hope, tapi ternyata sudah tutup. Jadi kami memutuskan untuk foto-foto saja di sekitar Castle dan di alun-alun kota. Ya kayak turis gitu lah, dikit-dikit foto. Hahahaha.

Hari mulai gelap, kita nganter Agung ke Westin, sekalian kita ngambil koper yang kita titip di kamar Agung dan Dina selama kita ke Knysna. Dari situ kita kembali ke Amalfi Hotel, mandi dan siap-siap berangkat makan malam. Setelah debat kana kiri sana sini, malam ini kita putuskan untuk makan di rumah makan khas Afrika Selatan. Rekomendasi terbaik yang didapat dari internet adalah Mama Africa.

Mama Africa

Restoran Mama Africa ini terletak di Long Street. Agak ribet kalau bawa mobil karena jalannya satu arah dan parkirnya susah, jadi kita sempat muter muter beberapa kali. Tempatnya lucu, dekornya unik dan niat.

Kita cuma pesen dikit. Wine tentunya, nasi Kari kesukaan Rendy, dan daging - daging hewan buruan. Game Meat. Jadi itu satu piring isinya daging buaya, kudu, burung unta sama beberapa sayur-sayuran khas dari sana. Saya suka sekali dagin buayanya. Yummy.

Selesai makan, ternyata ada live music di bagian belakang restoran ini. Musiknya dinamis, dan suaranya bagus Kalau ngeliat para pemainnya bernyanyi dan main musik, jadi pingin ikut goyang. Hahahaha. Tapi kan saya pemalu, jadi goyang-goyang jempol kaki saja. Hehehehe.


Selesai makan, kami menghabiskan waktu cukup lama untuk berkeliling mencari bar yang cukup OK buat bersenang-senang. Sempat berhenti sekitar hampir satu jam di tempat namanya Capello.

Tapi ga terlalu berkesan sih. Kami cuma minum satu botol wine. Setelah habis, kamu putuskan untuk pergi mencari tempat yang lebih happening. Hahahaha.


The Slug and Lettuce

Tadaaaa.. Sampailah kami di bar The Slug and Lettuce. Saya kurang ingat apa yang menjadi faktor kami memilih bar ini dari sekian banyak bar di Long Street, tapi ini jelas bukan pilihan yang salah.

Harga minuman di sini murah. Whiskey cola cuma skitar tiga puluh ribuan satu gelas. Rendy sampe jedotin kepala ke tembok saking murahnya. Lalu mereka punya campuran lokal, harganya sekitar dua puluh empat ribu rupiah, bisa untuk 8 shots. Warna biru kayak spiritus. ITU MURAH BANGET.

Selain minuman yang murah, suasananya juga enak. Tidak terlalu ramai. Musiknya bagus. Tiba-tiba pas saya lagi asik minum, si bartendernya nanyain saya. "Hey, may I see your passport?" Hahahaha. Langsung semua ketawa. "Noo.. Just kidding.." Kata dia. Tapi saya yakin dia serius. Saya keluarin aja passport saya. Hahahaha.

Tak lama setelah itu, ada bule ngehampirin kita. "Hey, I bet with my friends that you all guys are not American. Tell me you're not American." Hahahaha. Ini lebih dodol lagi. Kita sempat ngobrol-ngobrol sama si bule itu. Dia heran, ngapain ini orang Asia jauh jauh datang ke Afrika Selatan pas mau masuk winter. Hahahaha.

Si bartender yang nanyain passport saya sangat baik dan OK pelayanannya. Mungkin dia ga enak hati udah nanya-nanya passport ke saya. Hahahaha. Kita semua seneng deh sama dia.



Jam sudah menunjukan pukul satu malam. Kita memutuskan untuk pulang karena besok masih ada banyak hal yang ingin dilakukan. Sampai ke hotel, saya langsung tepar. Hahahaha. Tidur nyenyak, siap-siap untuk besok. :)

Minggu, 24 Juni 2012

#5 - Knysna and Plettenberg (Part 5)

Day 5 : Meet our new pet!


Hari ke lima. Masih di Knysna, kami bangun pagi hari ini karena berencana untuk bersepeda! Kalau kamu berselancar di internet mencari tahu tentang apa-apa saja yang harus dilakukan di Afrika Selatan, bersepeda termasuk salah satu di antaranya.Berdasarkan hasil tanya-tanya ke Knysna Torism Information, ada beberapa trek sepedaan yang direkomendasikan, dan ada satu tempat yang menyediakan rental sepeda, sekitar 5 kilo meter dari pusat kota Knysna. Ke sanalah tujuan kami pagi itu.

Pagi itu suhunya 9 derajat celcius. Waktu kita sampai ke tempat sepedaannya, orang yang mengurus tempat itu bilang bahwa saat ini sedang masuk ke winter dan trek sepedaan yang ada itu levelnya untuk yang advance. Jadi dia tidak merekomendasikan kami untuk pergi bersepeda. Well, dari kami berempat, cuma saya yang tidak main sepeda. Agung, Benny dan Rendy, mereka bertiga suka main sepeda, biasanya ke puncak.

Garden of Eden

Akhirnya diputuskan, kita tidak jadi sepedaan, tapi pergi trekking ke hutan yang ada di pinggir jalan waktu kita menuju ke tempat sepedaan. Nama tempatnya "Garden of Eden". Untuk masuk ke sini, kita harus bayar, tapi murah banget kok. Kalau ga salah setara dengan lima belas ribuan apa ya. Lupa saya. Tapi kalo di sini, saya yakin sih uang yang kita bayar itu memang untuk perawatan Garden of Eden. Pas masuk ke dalamnya, bagus banget.


Jadi Garden of Eden ini adalah bagian dari Knysna Forest, salah satu hutan lindung yang ada di Afrika Selatan. Kayaknya di sini kita bisa memilih, mau treking sendiri, atau ngikutin jalur kayu yang dibuat dengan rapih memutari taman ini. Tentu saja kita pakai jalur yang kayu. Hahaha. Jalur ini aman buat penyandang cacat, dan kayaknya kalau musim panas banyak yang main ke sini buat piknik, soalnya di tengah-tengah hutan tiba-tiba ada meja kursi gitu.

Tempat ini dulunya benar-benar ga tersentuh manusia, kondisinya alami dan ada beberapa papan keterangan tentang tanaman di sekitar situ. Kita ga ketemu sama binatang yang aneh-aneh sih. Oiya, karena itu dingin banget, jadilah saya sempat push up satu seri dan laril-lari di situ.

Rute jalur kayunya ternyata ga terlalu luas. Kurang dari tiga puluh menit kita sudah selesai mengeliling Garden of Eden. Pas balik, sempat ngobrol sama petugas tiket dan kita cerita kalau kita ga jadi sepedaan karena bla bla bla. Eh dia jawab dengan enteng "Ya kalau ternyata jalurnya susah, kamu kan tinggal turun nenteng sepeda kamu.." Jeng jeng.. Hahahaha. Iya juga ya. Tiga teman saya langsung menyesal di tempat.

Knysna Elephant Park : No Food No Friendship

Dari Garden of Eden, kita masih ga rela balik ke hotel. Pagi ini alokasi waktunya kan untuk sepedaan. Hahaha. Sepanjang jalan dari Knysna ke Plettenberg ada beberapa tempat di pinggir jalan untuk melakukan aktifitas alam. Kita sempat mampir ke salah satunya, tapi sayang tempatnya tutup karena sudah mau masuk winter. Agung mengusulkanuntuk pergi ke Knysna Elephant Park. Usul diterima. Kemarin pas safari kita belum ketemu gajah soalnya.

Ini fotonya diambil dari google, soalnya entah kenapa ga nemu foto ini di folder foto.

Tadaaaa... Sampailah kita di Knysna Elephant Park. Untuk ikut tur selama satu jam, kita harus bayar 120 Rand, sekitar 120 ribu rupiah dan kalau mau ikut kasih makan gajah, kita beli buah2annya namah 30 rand.

Sambil menunggu waktu tur dimulai, kita disuruh menunggu di loungenya. Ga ngebosenin karena di ruang tunggunya ada banyak informasi tentang sejarah gajah, artiker tentang perkembangan piano yang mengancam populasi gajah, dan beberapa cerita tentang gajah yang pernah diasuh di Knysna Elephant Park.

Setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya tur dimulai. Pertama kita masuk ke ruang audio visual, diberikan video pengantar singkat mengenai sejarah Knysna Elephant Park dan beberapa peraturan keselamatan dasar ketika berinteraksi dengan si Gajah.

Dari ruang audio visual, kita diantar ke kandang gajah! Kandangnya besar. Hahaha, ya iyalah secara gajah emang besar. Ada sembilan gajah yang saat ini tinggal di Knysna Elephan Park. Kandang ini cuma ditinggali oleh gajah-gajah kalau malam. Kalau siang, gajahnya main di luar. Sementara si gajah main di luar, para petugas sibuk mengisi tiap kandang dengan makanan. Menurut tour guidenya, dari 24 jam dalam sehari, 20 jam dihabiskan oleh gajah untuk makan. Makanya di setiap kandang gajah, walaupun sudah malam, tetap harus tersedia makanan.



Oiya, di sini juga tersedia penginapan loh. Balkon kamarnya nyambung dengan kandang si gajah ini. Jadi kalau pingin tahu gimana rasanya tidur sama gajah, nah bisa tuh nginep di sini. Hihihi.

Setelah melihat kandang, ini dia bagian paling menariknya: bertemu gajah! Kita semua naik mobil bak terbuka, menuju ke tempat gajah-gajahnya yang sedang asyik bercengkrama. Begitu sampai di TKP, kita turun dan tiap-tiap rombongan dipandu oleh satu tour guide. Tour guide ini ngasih tahu gimana caranya kita ngasih makan si gajah. Ada aturannya. Kalau ke gajah dewasa, kita bisa sodorin makanan ke belalainya. Tapi kalau anak gajah, cukup dilempar ke dekat dia saja, karena kalau kita mencoba mendekati anak gajah, induknya akan marah dan mengusir kita. Seru loh ngasih makan gajah. Geli-geli serem gimana gitu. Hihihi...

Setelah kita ngasih makan gajah-gajah ini, guide kita memberi pengarahan bagiamana caranya menyentuh gajah. Kalau mau megang gajah, dari samping saja. Kalu dia jalan, kita juga ikut jalan. Jangan berada di belakang gajah dan jangan lari-lari di dekat gajah. OK. Kita siap menyentuh si gajah. Mulai dari yang kecil-kecil sih kalau saya. Yang kecil itu lebih tinggi dari saya loh. Dan bener, si gajah ini emang kerjanya makan melulu dan dia gerak ke sana, gerak ke sini. Susah dapet foto yang OK sama si gajah ini. Hahahaha.


Gajah-gajah ini menggemaskan sekali. Mereka sangat bersahabat dan tidak semenakutkan yang saya pikir. Sangat mudah untuk meneyentuh dan bermain di dekat mereka. Menurut guidenya, karena si gajah ini suka sekali makan, mereka itu prinsipnya "No Food, No Friendship". Makanya pas kita ngasih mereka makan dan makanannya habis, gajah-gajah ini otomatis langsung pergi meninggalkan area tempat ngasih makan untuk nyari cemilan mereka di padang rumput. Hahahahaha. Kita juga sempat menyaksikan gajah - gajah ini minum dan berbicara. Mereka menggunakan belalai mereka untuk saling ngobrol. Lucu deh.

Benny yang kemarin pas safari pingin punya pet jerapah, sekarang berubah jadi pingin melihara gajah. Hahahaha. Setelah satu jam puas bermain dengan gajah, waktu tour pun habis. Entah mengapa saya sedikit agak melankolis harus meninggalkan gajah-gajah ini. Walau cuma sesaat perjumpaan, tapi kesan yang ditinggalkan sungguh mendalam. Hahaha. Lebay. But anyway, we do enjoy our time in Knysna Elephant Park. Meet our new pets : Gajah. Hahahaha.


Dari Knysna Elephant Park, kita pulang kembali ke hotel untuk checkout. Penyesalan karena tidak jadi sepedaan terbayar dengan gajah-gajah Afrika ini. Happy :)

Sekitar pukul satu siang lewat, kita sudah selesai mandi, packing, dan berpamitan dengan pemilik hotel. Kebetulan ketika kita berpamitan, kedua orang tua pemilik hotel tempat kita menginap ada di tempat. Mereka sangat ramah dan kita sempat ngobrol sebelum kita pergi.

Dari Knysna, kita menuju ke Plettenberg dan berencana untuk makan siang di Lemon Grass. Jeng jeng, waktu sampai ke sana, restorannya tutup karena sedang direnovasi. Dari situ, kita memutuskan untuk menuju Ristorante Enrico, salah satu restoran yang banyak direkomendasikan oleh pelancong di internet. Sayangnya lagi lagi waktu kita sudah sampai di sana restorannya tutup. Emang ya ini orang-orang Afrika Selatan punya restoran buat hobi kali ya, buka tutup sesuka hati. Hahahaha.

Ristorante Enrico letaknya ini di pinggir pantai. Dan pantainya bagus. Ga bisa engga, saya pingin main air melihat pantainya. Yang terjadi adalah, kala itu saya pakai tight. Saya bela-belain ngelepas tight saya biar bisa main air. Hahaha. Kita menghabiskan waktu sekitar 20 menit menikmati pantai yang airnya dingin banget itu.

Balik ke mobil, kita mengalami krisi nasional. Makan siang di mana? Hahahaha. Di saat saat begini, memang portable modemnya Agung sangat berguna. Kita browsing ke tripadvisor dan mydestination untuk cari another recommended restaurant. Terpilihlah satu nama. "Emily Moon" River Lodge Restaurant.

Emily Moon - River Lodge\

Berbeda dengan Ristorante Enrico, Lookout Deck, dan Lemon Grass yang terletak di pinggir pantai, Emily Moon terletak di balik bukit. Sesuai dengan namanya, restoran ini menyajikan pemandangan sungai. Cantik banget. Hiks. Tempat ini benar-benar nyaman, dengan pemandangan cantik yang khas Afrika. :)
Sesuai namanya, Emily Moon adalah restoran Prancis. Eh bener kan ya Emily itu identik dengan Prancis. Hahahaha. Makanannya enak. Restoran ini menurut saya adalah restoran yang menyajikan makanan paling enak selama saya di Capetown! Dan lagi lagi dengan wine yang murah, tentu saja kita memesan sebotol wine. Hahaha.


Kenyang makan di Emily Moon, kita menuju ke pusat kota Plettenberg. Tujuan: mencari magnet dan beli stock logistik untuk hotel di Captown. Selama belanja itu, saya teler. Sepertinya kebanyakan minum wine, jalan berasa susah banget. Hahahaha.

Ternyata di Plettenberg susah nyari toko souvenir. Di Tourism Info Plettenberg, kita malah disarankan untuk mencari ke Knysna. Hehehehe. Sebelum kita kembali ke Knysna, sekalian jalan pulang ke Capetown, kita menyempatkan diri jalan-jalan keliling Plettenberg. Nice cit. Udara bersih, langit bir, pasangan kakek nenek yang berjalan di trotoar. Manis.

 Puas jalan-jalan, kita cabut menuju ke Knysna. Tepatnya ke Knysna waterfront. Di sana ada beberapa toko souvenir. Agung sebenarnya yang ngebet mencari magnet kulkas. Dapet. Di situ harga oleh oleh lumayan mahal, tapi barangnya bagus. Puas belanja, kita menyempatkan diri menikmati waterfront-nya Knysna. Kalu di foto ga kayak di Afrika, tapi kayak di Belanda. Hehehehe.

Selesai goto-foto dan belanja, jam sudah menunjukan pukul lima. Kita segera jalan pulang menuju ke Capetown. Itu udah pasti banget kita bakal nyampe Capetown tengah malam. Saya menelfon hotel tempat menginap di Capetown, memberitahukan bahwa kita akan datang lewat tengah malam.

Sepanjang perjalanan awalnya saya tidur, tapi setengah sisanya, saya melek, berusaha berkontribusi nemenin yang nyetir. Dari berempat, cuam saya doang yang ga nyetir. Hehehe. Jam paling kritis itu jam setengah 12 malam. Tiba-tiba kabut turun dan jarak pandang cuma sekitar 2 meter ke depan. Itu serem banget. Saya berdoa sepanjang perjalanan saking takutnya. Hahahaha.

Jam setengah satu pagi akhirnya sampai deh ke Capetown. Tidak ada masalah berarti  untuk kita mengantar Agung ke hotel mba Dina, dan kita sendiri lalu nyari hotel tempat kita menginap. Namanya Amalfi Hotel, di Sea Point. Hotel ini lebh tepatnya sebenarnya apartemen dengan satu kamar dan satu tempat tidur + satu sofa bed di ruang TV. Fasilitasnya juga lengkap. Ada kulkas, toaster, microwave. Lengkap lah. Begitu badan menyentuh kasur, enak banget. Semua langsung istirahat setelah beberes. Benny mengajak bangun pagi untuk lari esok hari. Saya mengiyakan saja, yang penting tidur dulu. Hahahaha. Hari ini melelahkan, tapi juga menyenangkan. Tidur saya lelap. Tidak sabar untuk explore Capetown!


Arti Nama Gabriella Kirana Anjani

Gabriella Kirana Anjani Anak kedua yang selalu dar der dor ada aja gebrakannya, ga bisa diem, banyk hobi, banyak mau, suka ngambek, tapi so ...