Cool - SpaceAstronout (The Milo cover)

Minggu, 24 Agustus 2014

Kehilangan (Lagi)

Iya. Kehilangan lagi. Handphone yang baru dibeli tanggal 8 Agustus 2014, Nexus 5 LG yang kecenya luar biasa itu. Yang belinya nyicil 6 bulan bung 0% pake kartu kreditnya Tendy.

Saya suka banget sama handphone itu. Seneng pas pertama make hpnya itu lebih kurang sama rasanya kayak pas jadian sama cowok idaman. Ok, mungkin agak lebay, tapi sungguh itu rasanya menyenangkan. Makanya begitu ilang (dan ilangnya bukan karena kesalahan sendiri ) rasanya kayak putus! Mellow :(

Tapi kan itu barang duniawi ya. Barang duniawi yang hilang bisa diganti. Pembelajaran untuk ga terlalu terikata sama sesuatu, karena layaknya perasaan dan rejeki, hidup sudah mengatur datang dan perginyal, disesuaikan dengan kesiapan kondisi kita masing-masing.]

Sedih sedih sedih :(

Selasa, 19 Agustus 2014

Resensi Buku : Absurdity, (Iya, dengan koma)


Kalau ada yang bilang hidup itu tidak hitam putih, buku ini mungkin bisa membantu kamu untuk mengerti kenapa. Lihat saja nama pengarangnya : Fatihatul Insan Kamil Ramadhani Imama. Panggilannya? Silakan jejerkan inisial dari tiap kata namanya. Hihihi.

Sesuai dengan judulnya, "absurdity," (iya, itu belakangnya pake koma), buku ini berisi sembilan tulisan tentang rangkaian kejadian absurd tapi nyata yang dialami penulis. Mulai dari kecengan yang diberi nama julukan ubur-ubur dan tukang es batu, bapak kos mata duitan, ujian yang selalu dapat B, teman kos Intel, kuntilanak, ular kobra, pokoknya absurd. Saya pribadi sudah lama membaca cerita cerita ini karena sebelumnya sudah dipublikasikan di blog pribadi penulis. Dan kadang sehabis membaca cerita-ceritanya saya suka mikir "perasaan gw kuliah ga gini gini amat, ni orang kenapa aneh-aneh banget sih hidupnya".

Satu hal yang menonjol dari buku ini adalah ejaan dan pemilihan katanya yang serius walaupun ceritanya kurang begitu penting. Semua kata asing ditulis miring dan gaya ceritanya macam mau cerita kisah roman ala ala novel. Coba, kapan terakhir kamu membaca kata bersungut-sungut? Kalau masih penasaran dengan tulisan Fikri yang lain, silakan kunjungi kompasiana.com/fikrifikri atau fikrifikri.wordpress.com yah, terutama tulisan doi periode 2010 - 2011. Hihihi.

Katanya sih, seri absurdity, ini akan ada bagian keduanya, pokoknya sampai penulisnya lulus kuliah dan dapat gelar sarjana. Kalau sudah baca yang ini pasti penasaran gimana si penulis akhirnya lulus S1. Hahaha.
Keren Fik! Ayo cepetan terbitin bagian keduanya yak ;)

*Fikri saat ini berdomisili di Cirebon, coba-coba bertani bawang sembari jadi content-writer salah satu perusahaan kreativ di Jakarta. Sekali-kali dia main ke Jakarta untuk setor muka ke kantornya, atau kalau lagi kangen dengan kawan-kawannya, atau kalau ingin menghirup satu dua teguk alkohol di salah satu tempat ngebir murah meriah di bilangan Kemang.

[ ]

Senin, 18 Agustus 2014

Tanah Air


Tetapi kampung dan rumahku, di sanalah ku mrasa senang..

Hampir tidak ingat kalau pernah nyanyi Tanah Air pas perjalanan dari Pulau Komodo ke Pulau RInca di trip flores November 2012 yang lalu. Begitu indahnya bumi Indonesia, Flores pada khusunya, sampai-sampai saya nyanyinya itu rasanya benar-benar pakai hati. Thanks Sapri for recorded this :)

Dirgahayu Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke 69!

Rabu, 13 Agustus 2014

Kabar Gembira yang Bukan Mastin Ekstrak Kulit Manggis

Iya beneran kabar gembira. Hehehe.

Setelah tahun lalu sahabat-sahabat wanita saya berderet-deret menikah, tahun ini giliran sahabat-sahabat pria saya menikah setelah tahun lalu jomblo berjamaah. Selain menikah, beberapa yang galau menahun juga akhirnya punya pacar.

Seingat saya, tahun lalu saya itu nelangsa berat Semacam "Ini kenapa temen-temen gw nikah gw masih gini-gini aja". Untuk sekarang, hmmmm, saya sunggung senang untuk sahabat-sahabat saya. Tapi sesungguh-sungguhnya juga jadi semakin gentar sih, semacam "Ini kenapa temen-temen gw yang lain juga pada nikah gw terus aja begini".

At some point, I feel so pathetic. Iya. Galau akut di path. Tapi musti gimana?

Mungkin awalnya ini aja. Jangan denial. Bahwa harus jujur sama diri sendiri kalau memang takut. Takut sendiri terus, takut ga punya pasangan. Pertanyaan berikutnya : apakah saya sudah menjadi orang yang tepat untuk dijadikan pasangan oleh orang yang saya anggap tepat?

Soal kayak gini endingnya emang harus pake iman sih. Be a good woman, and the right man will finally find me. I do believe. And how to definde good? Still not sure about that actually, tapi mungkin "good woman" harusnya adalah wanita yang bisa membawa kebaikan untuk sekelilingnya.

Mungkin, entahlah. Terlalu umum. Hehehe.

Pagi-pagi galau, gimana kalau sekarang cepet mandi terus ngantor? Okesip.