Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 April 2010

Jek (Cerpen)

Aku sering melihatnya di terminal. Kulitnya hitam legam, badannya kurus berotot, mukanya penuh jerawat tapi sorot matanya tajam. Kali pertama aku memperhatikannya adalah ketika dia menjadi kenek bis yang aku tumpangi. Waktu itu dia hampir berkelahi dengan sopir bis yang lain karena rebutan penumpang. Bicaranya kasar dan suaranya keras. Aku kurang paham duduk perkaranya apa, tapi kejadian itu akhirnya berakhir dengan kami semua pindah ke bis yang lain. Aku ingat dia bersumpah serapah dengan kata-kata kasar dan jorok. Teriakannya menggelegar namun nyaring dan khas.

Kali kedua aku memperhatikannya adalah ketika dia sedang nongkrong di bawah jembatan penyebarangan tempat bis yang aku tumpangi ngetem. Dia sedang merokok dan tangannya asik bermain handphone. Aku langsung mengenali karena secara tidak sengaja kami beradu pandang. Aku segera ingat tatapan matanya yang dingin ketika dia hampir berkelahi tempo hari. Waktu itu aku bertanya-tanya. Apa ya yang dia pikirkan? Apakah dia sudah menikah? Apakah dia punya keluarga? Apakah dia hidup di jalanan? Apakah dia preman? Aku memperhatikan dia memakai kaos bergambar Harry Roesly. Apakah dia bisa bernyanyi atau main gitar atau main biola?

Tiba-tiba dia berdiri dan menuju ke pojokan. Dia buang air di pojokan itu. Aku perhatikan lagi celana jinsnya yang ketat dan ikat pinggang besarnya itu. Celana itu melorot di pantat dan aku bisa melihat boxernya berwana hijau kusam. Aku juga memperhatikan rambutnya yang dipotong dengan model asimetris. Inikah gaya alay yang dibicarakan adikku tadi pagi di rumah? Jadi dia termasuk golongan alay? Sesampainya aku di rumah, sesekali aku teringat dengan kenek itu. Tatapan mata dinginnya seolah menusukku sampai ke hati.

Kali ketiga aku memperhatikannya adalah ketika dia sedang menjadi kenek untuk bis dengan rute yang lain. Waktu itu aku sedang menunggu bis di depan kantorku. Tiba-tiba dia turun dari bis yang bukan rute biasanya. Dia turun untuk memberikan setoran ke preman setempat, membeli rokok dan segera pergi. Kemunculannya menarik perhatian orang di sekitar karena bis yang membawanya berhenti sembarangan dan mendapat klakson dari mobil-mobil lain. Dia memaki dengan kata-kata kasar. Suaranya menggelegar khas, berteriak sambil menggebrak badan bisnya. Sikapnya sungguh-sunguh bar-bar. Kalau tidak salah dengar, si penjual rokok sempat memanggilnya dengan sebutan Jek.Jadi itu mungkin namanya.

Setelah itu, lama aku tidak melihatnya lagi. Barulah awal tahun ini, ketika bis yang aku tumpangi ngetem di terminal menunggu penumpang, aku tak sengaja melihatnya di sebuah warung bersama seorang wanita yang tengah hamil dan mereka bergandengan tangan. Itukah istrinya? Apakah mereka menikah resmi? Apakah itu sebabnya dia tidak pernah ngenek lagi? Apa dia sekarang sudah jadi preman terminal ini? Selama bis yang kutumpangi ngetem, selama itu pula aku memperhatikannya. Dia terus menerus merokok di samping wanita hamil itu. Sekali-kali meludah dan berbicara dengan telfon genggamnya. Gayanya cocok benar jadi kepala preman terminal ini. Ketika aku asik mengamatinya, mata kami tiba-tiba beradu pandang. Rasanya dingin.

Sekitar sebulan kemudian ketika aku turun di terminal, ada gerombolan ramai orang berkumpul.

“Ada copet digebukin!”.

“Bego sih, nyopet di sini.”

Aku langsung merasa ngeri, tapi tetap saja ikut berkerumun berusaha melihat apa yang ada di tengah-tengah kerumunan itu. Walau tidak jelas, aku melihat ada orang yang sedang memukuli dan menendang orang yang satunya lagi. Orang yang ditendangi mengaduh-ngaduh memegang kepalanya yang berdarah . Suara mengaduhnya makin lama makin pelan, dan akhirnya hilang. Entah kenapa orang-orang yang berkerumun ini malah asik menonton saja.

“An***g lu t**k! Ng****t aja kerja lo b***!”

Teriakan itu terdengar begitu nyaring dan aku mengenali suara itu. Itu suara Jek.

Aku merinding. Jek ngapain? Apa dia yang menggebuki orang itu? Apa orang yang digebuki itu mati? Kapan perkelahian ini berhenti? Tiba-tiba ada suara lain lagi.

“Ada Polisi!”

Kerumunan tertib itu langsung panik. Sekonyong-konyong memang ada suara sirine polisi. Aku segera berjalan menjauhi kerumunan menuju arah rumah sambil beberapa kali menengok kembali ke arah kerumunan itu. Di tengah kekacauan itu, aku sekilas melihat Jek masih memegangi kerah baju si copet dan walau sesaat aku yakin, entah bagaimana caranya, bahwa kami sempat saling tatap. Rasanya masih dingin.

Setelah kejadian itu aku tidak pernah lagi melihat Jek. Sesekali di terminal aku kadang melihat wanita hamil yang bersama Jek waktu itu. Kadang dia bergandengan dengan orang lain, kadang sendiri. Oiya, anaknya sudah lahir. Sore ini aku melihat wanita itu dan anaknya duduk di warung terminal. Aku sengaja mampir hanya untuk melihat wajah anak itu. Dan berhasil. AKu berhasil menatap mata anak itu. Rasanya dingin.

***

Jakarta, 10042010

Rabu, 10 Desember 2008

beginilah teman-teman saya 2

eh.. eh. si reda teman gw yang lucu itu odong2 lagi pagi ini.

r: git, kamu kuliah anabi kan?

g: iya

r: kamu banguinin saya ya...

( setelah dibangunin)

g: da, anabi kan?

r: iya

g: ntat ketemu di depan atau gimana?

r: ntar saya samperin kamu de

(15 menit berlalu dan reda tak kunjung nyamperin saya)
(saya memutuskan nyamperin reda)

g: da... kuliah ayo..

r: ga jadi git. ada jablay ..

*jablay itu temen plo-nya reda yang juga harusnya kuliah anabi

j: (senyum2 saja)

toengtoengtoeng....

Selasa, 15 Juli 2008

cerpen:

"ini duitnya, 500rb. tapi sebelum gw kasih, lo harus bilang ini buat apa."
"please. kan tadi uda kita omongin dan lu janji gangungkit-ngungkit lagi"
"sini deh,,"

[gelap nyawang - teh - hujan]

"lo jarang minjem2 ama gw. apalagi minjem duit. dan lo ga mau bilang ada apa? terus gw diem aja? gw mikirn lo terus. kalau ternyata lo ada masalah dan gw bisa bantu lebih gimana.. "
"gw ga mau cerita. gw harus bilang berapa kali? dan kalo gara2 gw ga mau cerita gw ga bisa minjem, gw ga masalah. banyak alternatif kok."
"apa?"
"gadein laptop kek. jual kalung kek. apa kek."
"ya udah. kalo gitu kenapa lo minjem ama gw?"
"terserah deh.."

[dia pergi. hujan-hujanan. yang ditinggal kesal.]

[5 hari kemudian-masih hujan-gelap nyawang-teh]

"ok, gw cuma mau tahu ini buat apa."
"beli obat."
"obat apa?"
"kan lo cuma pingin tahu buat apa dan gw udah bilang. please. just give me the money.."
"(menyebut sebuah nama dengan lengkap)!"
"obat buat gw"
"obatnya maha banget, lo sakit apa?"
" please...."
"......"
"lo jangan marah ya kalo gw cerita."
"ayolah... kenapa pula harus marah?"
"ok. jangan potong gw, jangan memberi respon berlebihan. dan silakan lakukan apa yangingin lo lakukan kalo gw udah bilang selesai."
"setuju."
"lo tahu kan isu soal angkot caheum ledeng itu? kasus kayak gitu bukan cuma sekali. gw juga ngalamin. di saat yang kayaknya hampir sama. tapi yang diomongin orang2, itu bukan gw. Masalahnya adalah, gw belumd atang bulkan ampe sekarang dan gw ngecek. positif. gw nyari obat buat gugurin. Ada, tapi gw ga ada duit. Akhirnya karena minggu lalu lo ga mau minjemin duit, gw ngegadein kalung dan anting gw, gw juga ngegadein hi-fi gw. Tapi gw ditipu sama orangnya. Duit uda dikasih tapi barangnya ga datang. Akhirnya gw nyari-nyari lagi, dan dapet. Barangnya dua ada, tapi gw ga ada duit buat bayar. Makanya gw hubungin lo. Lo boleh nampar gw kalo mau."

[plak]

"lo boong kan??"

[hening-lembaran biru itu berpindah tangan]

"gw pikir lo akan mencintai kehidupan."
"gw ga mau menyerah. gw punya mimpi. gw pingin lulus ga lebih dari 4,5 tahun. gw pingin kerja.. dan apa lo pikir orang-prang di sini cukup waras untuk tetap menghargai gw kalo gw membiarkan semua terjadi?"
"tapi kalo cara ini ga aman, gimana kesehatan lo? kanker rahim?? taruhannya hidup lo sendiri...."
"posisi gw itu ga nguntungin sama sekali. lo aja belum tentu percaya ama gw, apalgi orang lain. dan lo tahun gw lah. lo tahu gw ansos. ya lo pikir sendirilah gimana kalau gw melapor... terus gw menghilang? dikasihani? dan membiarkan sebuah lagi jiwa baru menambah sesaknya dunia? membiarkan dia tumbuh tanpa tahu siapa bapaknya? mendapat dia hanyalah sebuah kecelakaan yang dibentuk tanpa rasa kasih sayang????"
"iya sih.. gw denger2 anak yang itu emang disarankan untuik ngundurin diri oleh pihak kampus.."
"lo ngerti kan maksud gw.."
"tapi.... abosrsi itu kan dosa..."
"dosa itu konsep manusia, karena Tuhan itu juga konsep manusia.."
"jangan mulai lagi lah....."
"gw juga takut.. tapi ini hidup gw. gw yang memutuskan hidup gw.. gw berhak ga sih?? toh gw kayak gini karena hak gw dirampas..."

[rasanya sesak..]

"lo yakin dengan ini?"
"yakin."
"butuh ditemenin?"
"enggak."
"gw sayang sama lo.."
"shut up... it's over.."
"hati2 ya.."
"terimakasih banyak..."

[sosok itu cuma bisa duduk terdiam. apa lagi yang bisa dilakukan untuk wanita ini?? dia toh tidak punya solusi lebih baik. melahirkan berarti uang. dengan kondisi ekonomi macam itu, siapa yang bisa membayar?? belum lagi omongan orang.. terlalu kejam.. sudah terlalu banyak penderitaan yang dialami... sosok itu hanya berusaha mencintai dengan sepenuh hati.. begitu kan?]

Jumat, 30 Mei 2008

Cerita Pendek Di Kala Hujan

[sedang hujan gerimis, ada kopi dan rokok, tanpa teh manis hangat,tapi ada kecap kok]

"gw suka sama lo"
"lo tahu kan kalo gw udah punya (menyebut sebuah nama).."
"gw tetap suka sama lo. karena gw memang suka sama lo yang punya pacar."
"terus ngapain lo bilang2 ke gw. toh ga bakal ada apa2."
"dengerin.gw punya masalah ama lo.masalahnya gw suka sama lo.soal lo suka ama gw ato enggak, itu bukan urusan gw.."
"ok."
"ok juga."

[hening. hening. hening..]

"gw tetep penasaran kenapa lo bilang itu ke gw."
"kenapa? apa yang salah?"
"hmm, gw memang seneng berada di deket lo. mungkin itu bikin sikap gw jadi lebih gimana ke elo. tapi lo jangan salah sangka, gw ga ada maksud apa-apa."
"lah,, kan tadi gw bilang , itu bukan urusan gw."

[hening.hening.hening..]

"kok lo ga seneng sih? gw kan ternyata juga senang kalo bareng sama lo."
"hehe.. ya gimana,, lo ga usah seneng ama gw, gw juga uda seneng kok. ngobrol ama lo gw seneng. ketemu ama lo gw seneng. ngegaring bareng gw seneng. ngeliat lo pacaran aja gw seneng."
"lo itu... munafik. masak sih ga mau lebih, cuma bisa suka doang."
"mungkin gw munafik. ga ada masalah dengan itu."
"uda berapa orang lo giniin?"
"diginiin?"
"iya, lo giniin. lo bikin gantung."
"apanya yang gantung? gw cuma bilang gw suka."
"uda berapa lama lo suka gw"
"hahaha,, emangnya kantor ada waktu buka ama tutup."

[hening..hening..garing..]

"gw sayang banget sama (menyebut sebuah nama)!"
"gw tahu."
"gw ga bisa mutusin dia dan membuka pintu buat lo."
"emang kantor, ada pintunya..."
"gih sana ke kantor, belum tutup nih, belum jam 4.."
"ayok.. hahahahaha"
" hahahahahaha"
" goblok..."
"gw serius."
"gw (menyebut nama diri)"
"dasar garing!! capek de."

[beberapa orang datang. suasana jadi ramai, pembicaraan terputus dan tidak pernah berlanjut sampai beberapa bulan ke depan]

"gw lagi berantem sama (menyebut sebuah nama)"
"katanya sayang, kok berantem. payah."
"lo kan ga puya pacar,, kalo gw ceritain paling lo juga nyela2 gw, lo mana ngerti.."
[diam sesaat]
"duh.. jadi sedih nih."
"gara2 gw berantem sama pacar gw ya. ga usah kok. gw hargai empati lo. hehehe"
".. gw berharap lo putus, dan itu jahat. makanya gw sedih. padahal kan gw (menyebut nama diri)"
-pletak (gelas akua dilempar)-
"gw pikir serius, sialan lo.."
"serius sedihnya"

[hening lagi. lama sekali.]

[kehidupan berjalan seperti biasa, kerap bertemu, tapi ya sudah itu saja,, bulan berlalu, sebulan, dua bulan, empat bulan, sampai akhirnya ada momen buat ngobrol berdua]

"capek ya?"
"ngantuk gw. lo ga balik?"
"ga, tidur sini, besok subuh kan musti kerja lagi, lo ga balik?"
"bentar lagi"
"btw, gmana lo ama (menyebut sebuah nama). gw dpt shift bareng dia melulu nih. anaknya menyenangkan. Dan.. dia sayang banget ama lo"
"jangan bilang lo belum tahu."
"eh?"
"(menyebut nama lawan bicara)! selama ini kita ngapa2in bareng-bareng dan lo ga tahu. ampun de.."
"gw bener2 ga tahu"
"gw udah ga sama dia lagi. uda 2 bulanan ini.."
"wow,, gw sampe2 ga tahu, mejik bgt. pantesan kalo ngomongin lo mukan jadi mellow gitu. goblok banget gw!"
"bukannya mustinya lo up to date soal gw?? hohohoho"
"sejak kapan lo narsis begini,,"

[ tiba-tiba menjadi hening. hangat rasanya]

"ini pertanyaan aneh, tapi,, lo masih suka ama gw? hehehe..."
"enggak, gw (menyebut nama diri)"
"buset... uda jaman kapan sekarang,,, masih ngetren ya begituan??"

[memang benar2 garing]

"ya, menurut lo sendiri gimana? gw masih suka ama lo?"
"menurut gw, lo itu (menyebut nama lawan bicara)"
"hahahahahahaha.. ngikut2"
"hahahahahahaha.."
"ngomong2, siapa yang mutusin? tak pa2 kan nanya2?"
"ga usah dibahaslah,,, itu sudah basi"
".... karena?"
"ye,, ngotot.."
"iya, jadi kenapa putus"
"cerita ga ya.. cerita ga ya..."
"yasuw,, kalo ga mau"
"gw pikir, apa yang ada antara gw dan dia semakin absurd. gw menikmati kegiatan gw, dan dia ga bisa ngerti kenapa gw lebih memilih menghabiskan waktu buat ini itu daripada buat dia."
"geblek,, malah cerita,, hahaha...lagian gw ga ngerti juga soal begituan, gw kan ga punya pacar,,,"

-pluk, pulpen dilemar-

"ni orang, mau dengerin apa enggak??"
"ampun.. lanjut,,"
"masalahnya bukan cumaa itu. gw juga berpikir, mungkin karena .. hmmm,,, karena obrolan waktu itu ama lo."
"bagian mananya?"
"ga tahu, mungkin bagian lo-nya dan bagian perasaan gwnya"

-pletak (botol dilempar)-

-plak (sepatu balas dilempar)-

[diam lama banget..]

"lo kok bodoh gitu sih"
" gw (menyebut nama diri)"
"hahahahahaha"
"hahahahahahaha.."

[hening.hening.hening..]

"trus sekarang lo mau ngapain?'
" merenung, menata hidup gw lagi. gw butuh di upgrade"
"hahahaha, secara lo dari dulu pentium 1/4... ya iyalah musti di upgrade,,,"
"cela aja terus,,,"
"tapi lo masih SAYANG sama dia ga?"
"gw tahu dia berhak akan sesuatu yang lebih baik."
" hiyah... alasan buat putus yang penuh kepalsuan, bilang aja pingin yang baru. ckckckck.."
"berisik."

[bintang bintang semakin terang, tumben ga hujan]

"gw udah puas dengan hubungan kita yang kayak sekarang kok"
"heh, jangan gr lo.. siapa bilang gw putus semata2 buat macarin lo?"
"ye.. lo juga yang jangan gr,, siapa juga yang ngiyain kalo lo mau macarin gw,,,"
"loh,, kan lo dulu suka ama gw, mustinya iya dong."
"lah, lo bukannya juga seneng sama gw."
"hahahahaha..."
"hahahahaha..."

[hening.hening. semakin garing]

"lo mau nunggu gw?"
"hahaha.. gw baru tahu kalo lo itu tukang pos, harus ditunggu"
"emang tukang pos musti ditunggu?"
"hahahahahaha"
"hahahahahaha"

[hening.hening.hening..]

"masih panjang,, ya gw emang suka ama lo. ga tahu sampai kapan. orang datang dan pergi dalam kehidupan gw dan juga lo. mungkin suatu ketika lo akan nemuin the one buat lo... tapi gw rasa untuk soal kita itu engga sekarang."
"...."
"gw yakin lo sayang sama (menyebut sebuah nama), bentar lagijuga balik.."
"sebenernya gw ga bisa ngerti. gw nunggu momen ini, buat ngomongin hal ini ama lo sejak gw putus. tau ga? ketika lo datang dan tiba2 bilang lo suka ama gw, itu ngengganggu gw banget. gw udah ngerasa kayak selingkuh! begitu gw akhirnya memilih, lo malah ga ngasih respon apa-apa ke gw. lo itu,, aneh banget. gw juga ga bermaksud jadiin lo pacar gw, cuma kata2 lo barusan itu bikin gw merasa gw sudah melakukan kesalahan besar sama (menyebut sebuah nama).”
“lo maunya gimana?”
“ ini semua bukan karena akhir-akhir ini lo kerja ama dia kan..?"
" ya, kita liat aja nanti de. gw juga ga ngerti.”
“ terlalu cepet ya?”
“mustinya kayak lagunya john legend aja. We should take it slow. We’re just ordinary people. We don’t know which way to go. Cause we’re ordinary people, baby we should take it slow.."
"baby we should take it slow…..”
"hahahaha.. uda lama ga nyanyi bareng"
"hoahem.. iya.. kurang gitar.."
"ya, mungkin kita bakal bareng, mungkin enggak, ga masalah kok. hal ini ga seserius dan seberat yang lo kira. lo kan tahu gw ga nunggu apa-apa dari lo, gw ga minta apa-apa dari lo. I enjoy myself for being your admirer. I'm a weirdo. gw ga yakin lo bakal lebih enjoy ama gw kalo akhirnya ada apa-apa. I’m not your type, I guess. Menurut lo gimana?"
".."
"yah, ni anak, tidur lagi. katanya mau balik?"
"gw ga kuat. ngantuk. sekalian nemenin lo deh."

[percakapan berhenti. malam itu mereka tidur berdekatan, di antara yang lain yang juga pada kecapekan, di atas lantai dingin, dengan bantal tas masing-masing. Besoknya, salah satu sudah pergi duluan. Dan karena kesibukan masing-masing, jarang bertemu].

"hoi, ke mana aja?? ga pernah keliatan?"
"kerja!"
"halah.."
"sorry ya soal yang waktu itu."
"ga pa2"
"gimana lo ama (menyebut sebuah nama)?"
"baik kok. ya standard orang pacaran de."
"baguslah. masih seneng deket-deket gw tapi?"
"lah, elo, masih suka ga ama gw?"
"hahaha,, ga gw sangka gw bakal ngomongin soal beginian sama lo."
"dia juga tahu soal elo kok, gw ceritain semua."
"dia cemburu ga?"
"jelas enggak, lo sama dia ga bisa dibandingin, dia tahu itu. buang-buang waktu cemburu ama orang aneh kayak lo"
"jadi?"
"kita tetep temenan kan?"
"ya enggak. gw (menyebut nama diri) dan lo (menyebut nama lawan bicara). bukan temenan"
"hahahaha....."
"hahahahaha....."

(hatiku selembar daun, melayang jatuh di rumput. Nanti dulu, ada yagn masih ingin kupandang yang selama ini senantiasa luput. Sesaat adalah abadi, sebelum kau sapu tamanmu setiap hari. Sapardi)

Bandung 22 April 2007, waktu lagi hujan deres bgt,Gitaditya.


*udah pernah gw post di seribulaut.blogs.friendster.com sethaun yang lalu. Waktu baca2 lagi, jadi pingin ngepost di sini juga :D

Arti Nama Gabriella Kirana Anjani

Gabriella Kirana Anjani Anak kedua yang selalu dar der dor ada aja gebrakannya, ga bisa diem, banyk hobi, banyak mau, suka ngambek, tapi so ...