Cool - SpaceAstronout (The Milo cover)

Sabtu, 29 Mei 2010

Main Ayo Main ke Sungai!

ayo mbak!
ayo kita main ke sungai.
ayo lari lari turun ke bawah.
ayo itu kiri ada sawah itu ilalang.
ayo itu di sana namanya pohon jagung.

ayo mbak!
ayo lari lari di pinggir sungai.
ayo lihat itu ada orang mandi.
ayo dengar suaranya gemuruh.
ayo terus sampai ke situ.
ayo lihat itu pintu air tua.

ayo mbak!
ayo duduk melihat air sungai.
ayo lihat lebih dekat.
ayo lihat itu sandal jepit siapa.
ayo sambil main main dengan rumput.
ayo duduk di sini saja.
ayo difoto mbak.

ayo mbak!
ayo sekarang main di parit.
ayo kita cari keong.
ayo kalo itu kepiting.
ayo turun main air.
ayo mbak!

iya iya iya!

ayo ayo ayo ayo!!

hahahaha...! senang!!

[suatu siang waktu main ke sungai bersama Bimo dan Pebi di desa Tugu, Kecamatan Sendang, Tulungagung. Baru sadar betapa saya si anak kota masa kecilnya agak kurang bahagia. Hihihi..]

Rabu, 19 Mei 2010

pagi ini seperti pagi kemarin dan semoga juga pagi seterusnya: sensasi elektrik

mendengarkan melancholic bitch dan memikirkan lo.
ah.
apa istilahnya?
orgasmik.
haha.



tentang cinta
yang menjadi rasa takutmu;
yang mengejan dalam mimpimu;
yang sengit dan selalu menikammu;
yang setajam kebencianku padamu;
yang tlah memaksamu membunuh;
yang mengejar dan terus mengikatmu:

jika saja ada jendela dan jika saja ada jendela:

tentang cinta
yang membusuk di lagu-lagu;
yang “betapa ku merindukanmu”;
yang dengki dan kelam membisu;
yang tak juga habis-habis, tak kan juga habis-habis.

jika saja ada jendela dan jika saja ada jendela:

kau akan mengerti dan tetap mengerti;
ku akan mengerti dan tetap mengerti.
kau akan di sini dan tetap di sini,
ku akan di sini dan tetap di sini.

jika saja ada jendela dan jika saja ada segelas soda.

*terimakasih melbi
**smurf lo, absurdity!

[jakarta, 19 mei 2010, 9.06 am.]

Senin, 17 Mei 2010

Main ke Rumah Pak Ratijo :)

Desa Geger. Letaknya itu kurang lebih tujuh sampai delapan kilometer dari Desa Sendang. Desa Sendang itu desa tempat kakek saya tinggal, di lereng gunung Wilis. Sekitar tiga puluh menit dari kota Tulung Agung kalau naik mobil.

Sore itu saya pergi ke Desa Geger mencari rumah Pak Ratijo, orang Katolik yang tinggal di sana. Rumahnya dijadikan tempat ibadah setiap hari Minggu. Namun karena letaknya memang sangat jauh dari kota, maka perayaan Ekaristi hanya diadakan setiap minggu ke empat. Ada sekitar lima puluh orang umat Katolik gunung Wilis ini. Tempat tinggal mereka menyebar. Tiap hari minggu, mereka datang berkumpul di rumah Pak Ratijo. Sebagian besar dari mereka harus berjalan kaki berkilo-kilo meter. Perjalanan jauh untuk beribadah kawan. Yang jauh itu pasti melelahkan. Oleh karena itu, setiap hari minggu, Pak Ratijo dan istrinya selain menyediakan rumahnya sebagai tempat ibadah, juga memasak untuk mereka. Seadanya saja, semampu mereka.

Misi saya sore itu adalah mengantarkan bahan makanan ke rumah Pak Ratijo. Perjalanan dimulai! Saya, oom War, dan dua sepupu saya yang masih kelas satu SD, Raka dan Bimo, pergi ke sana. Cuacanya hujan sedari pagi. Bahan makanan tidak mungkin dibawa dengan mobil pickup karena nanti basah. Jadi dipakailah mobil sedan. Setelah perjalanan berkelok kelok selama setengah jam, sampailah akhirnya di jalan utama depan jalan kecil menuju rumah Pak Ratijo. Mobil sempat mogok waktu memutar. Jadi perlu maju mundur dengan kekuatan otot di jalan yang menanjak.

Bayangkan itu mobil sedan di dorong-dorong oleh dua anak kecil, satu gadis kece dan satu oom oom. Udah hampir nyerah karena berat banget. Tiba-tiba datang mbak mbak berbadan besar lewat dan membantu. Wusss, tenaganya mantap. Macam malaikat dia datang menyelamatkan. Baik sekali :) Mobil akhirnya bisa berputar dan menyala lagi.

Dari jalan utama, masih harus berjalan lagi sekitar tiga menit menyusuri jalan setapak. Dan akhirnya sampai! Yey yey!!

Inilah rumah sederhana Pak Ratijo. Masih berdinding kayu. Lantainya masih semen, lampunya remang-remang.

Di belakangnya ada kandang sapi.

Ada semacam gubug juga, untuk memasak, menjemur baju, menyimpan hasil kebun.

Pemandangan dari depan rumah adalah sawah dan lembah yang hijau. Tapi karena hujan waktu kami datang, jadinya tidak bisa menikmati soalnya tertutup kabut.

Sederhana. Suasana yang sangat nyaman. Meditatif. Dan mungkin itu juga yang dirasakan umat lain yang datang tiap minggu ke sini untuk bersama berdoa. Saya menyaksikan sendiri. Kenyamanan kadang adalah hal yang tidak berbanding lurus dengan nominal rupiah. Kemampuan hidup bahagia dalam kesederhanaan tiba-tiba menjadi semacam hal berharga di mata saya. Bapak Ibu Ratijo terlihat sangat bahagia. Kami disuguhkan teh, keripik pisang dan keripik singkong. Enak dan gurih. Raka dan Bimo sampai rebutan.

Lalu ini kamar anak anaknya, Ayu dan Titi. Mereka sedang belajar waktu saya datang. Saya ajak mereka kenalan, mereka lari, ngumpet di bawah meja belajarnya.

Misi selesai. Bahan makanan berhasil dibawa ke lokasi dengan selamat. Kabut turun waktu kami mau pulang.

Perjalanan pulang menuju jalan utama sudah macam petualangan di dunia fantasi saja. Tidak, ini bukan fantasi. Kabut tebal di jalan setapak itu adalah kenyataan.

Ibu dan Bapak Ratijo mengantar sampai di jalan utama. Kami pamit lalu pulang. Ada janji saya tertinggal di situ. Janji untuk live in di sana. Janji harus ditepati. Entah kapan tapi nanti pasti. Ada yang mau ikutan? Ini tawaran serius kawan. Kabar-kabari ya :)

Jumat, 14 Mei 2010

suatu pagi

Dan ini saya bangun dalam bau bau yang begitu asing di sebuah pagi. Kapan terakhir saya yakin ini adalah hal benar yang saya lakukan? Saya lupa. Itu sudah terlalu lama sekali. Kapan terakhir saya begitu percaya diri dan tidak takut akan omong kosong? Tidak pernah sepercaya saat ini.

Ada hal hal yang bisa dipilih untuk dihadapi. Ada hal hal absurd yang tidak terhindarkan. Ada pilihan yang hanya muncul sebatas formalitas. Ada hidup yang sudah digariskan. Lalu kebebasan itu semacam durian mungkin. Ada yang suka ada yang tidak. Baunya enak buat yang suka. Bagi yang tidak: hoek, bikin muntah.

Saya masih memandang setiap jengkal visual yang tertangkap dan terproyeksi di bola mata saya. Mereka menyusun pecahan gambar, fragmen kecil kecil itu lalu berkumpul menjadi entah ilusi entah kenyataan. Bagaimana kalau semua ini hampa saja dan hidup bukan buat suatu apa. Hanya sebuah kebetulan indah yang tidak atau mungkin belum mampu dijelaskan oleh siapa pun. Masih jawaban yang butuh iman seluas samudra. Kalau tidak maka itu mitos belaka sayang.

Apa yang kita cari mungkin sudah ada sedari tadi. Ketika mandi pagi dan menyabuni diri. Kenapa harus mandi jika nanti kotor lagi? Pledoi orang malas tapi bukan berarti terjawab tuntas. Bersyukur bila kurang dihayatai dan dilakui akan kemudian membawa pada galau yang datar. Sangat datar akan arti nafas itu paru paru. Tapi bersyukur kadang klise dan sungguh egois. Gila hormat yang membuat muak di titik tertentu. Bagaimana supaya bisa jadi Sai Baba atau bunda Teresa? Kenapa semua orang tidak bisa seperti itu saja. Tidak melulu pencarian pengakuan lewat lembaran uamg atau konstruksi estetika tanpa kompromi.

Suatu pagi itu rutinitas yang mengerikan. Sekali lagi kita adalah titik kecil dari kelerng kelereng berjejer di hampa udara yang berputar bahagia. Hanya bagian dari skenario ledakan bintang bintang angkasa yang mungkin sedang mabuk berjalan sempoyongan yang kemudian bisa saja tiba-tiba duduk menyenggol keseimbangan grafitas lalu BIG BANG. Aw. Dari kecil diajar untuk berdoa untuk pagi yang baru karena artinya masih disayang. Boleh lihat itu benda kuning bulat datang lagi. Ya ya ya. Hidup mengandalkan belas kasihan kadang terlihat begitu menyedihkan.

Entah saya menulis apa tapi saya pikir saya menemukan lagi itu keyakinan akan apa yang sedang saya jalani. Sekali lagi setelah hilang sekian lama. Saya percaya reinkarnasi. Saya percaya tri tunggal maha kudus. Saya percaya cinta. Saya percaya big bang. Saya percaya karma. Dan terakhir. Saya percaya dia. Ya. Kita hanya butuh percaya akan sesuatu. Lalu hidup. Itu saja cukup. Selamat pagi.

Minggu, 09 Mei 2010

Gw Ga Suka Iklan Pemutih Wajah

Mbak, saya cuma pingin bilang bahwa saya sungguh prihatin dengan hubungan yang sekarang sedang Mbak jalani. Dia itu cowok dangkal yang ga ngerti konsep inner beauty

Mbak. Dia cuma melihat Mbak dari luarnya doang. Dari fisik. Dari bintik bintik hitam yang hilang dari muka Mbak. Dari kulit pucat tapi bersih bersinar sepanjang tangan dan kaki Mbak.

Nanti gimana dong kalau kita mau liburan ke Bali dan kulit Mbak tambah hitam sedikit. Mbak rela dia nanti berpindah ke cewek lain yang ga main-main ke pantai, yang diam aja di rumah, yang kulitnya jadi lebih putih?

Atau nanti gimana kalau Mbak sudah bertambah tua dan itu krim pemutih tidak mampu lagi menutupi noda hitam di wajahmu? Mbak siap melepaskan dia berpindah ke lain hati, ke orang yang wajahnya lebih cling dan lebih putih dari Mbak?

Mbak, yakin deh. Dia bukan yang terbaik buat Mbak. Bila dia memang benar benar pria sejati, harusnya dia bisa melihat Mbak itu super kece keren pintar walaupun Mbak tidak memakai itu krim pemutih. Dia seharusnya bisa jatuh hati sejatuh-jatuhnya tanpa harus menunggu kulit Mbak jadi lebih cling dan lebih putih. Cowok dangkal dia Mbak!

Jadi Mbak ayo keluar dari konstruksi kecantikan sialan itu Mbak. Ayo bersenang-senang menikmati hidup dengan kulit sawo matang sehat bahagia atau dengan flek flek hitam samar di wajahmu itu. Jangan sedih kalau akhirnya dia ga mau jadi pacarmu lagi. Saya akan ngenalin Mbak ke orang orang hebat yang lebih bisa mengahargai Mbak apa adanya. Sungguh deh Mbak, hidup ini sungguh terlalu berharga untuk dijustifikasi berdasarkan warna kulit semata.

[Sumpah gw males banget ngeliat iklan pemutih wajah berbagai macam merek di layar kaca. F*ck marketing! Tapi ya gimana? Angka pembelian itu krim-krim pemutih adalah sumber penghasilan ribuan sodara gw yang kerja di pabrik-pabrik kosmetik. Lingkaran setan sialaaaaan...]

Sabtu, 08 Mei 2010

Dystopia

Berdua semesta kita, bersama kereta kita.
Kereta mengantar kita menuju semesta berdua.
Bersama-sama kita, bersama selama-lamanya, bersama sama selamanya

___

Ini lagunya Melancholic Bitch dari album Balada Joni dan Susi.
Dan janji jari kelinging kan?
m/\m

Selasa, 04 Mei 2010

ayo kita terbang ke sana ke sini ke mana mana

Ayo pakai sepatu rodamu, kita jalan-jalan keliling kota.

Loh, bukannya kalo keliling kota sampai binaria harusnya pakai vespa?

Iya sih, tapi itu kan lagu naif. Ini kita yang tidak naif jadi pakai sepatu roda saja.

Engga, jangan. Jangan sepatu roda. Pakai ini saja baling baling bambu dari doraemon.

Doraemon tapi kan kucing.

Terus kenapa?

Aku alergi bulu kucing.

Ya udah. Kalo gitu pake awan kinton.

Ga bisa.

Kenapa?

Kan awan kinton cuma bisa dipanggil sama orang yang jujur.

Kamu enggak.

Iya, kamu juga.

Juga apa.

Juga enggak.

Enggak apa.

Apa aja.

Apa ya.

Iya. Apa ya.

Sudah ayo sini.

Sini apa.

Terbang ke sana ke sini ke mana mana. Terbang pakai kekuatan pikiran.

Emang bisa?

Bisa. Kalau mau. Mau ga?

Mau apa?

Itu. Terbang ke sana ke sini ke mana mana.

Mau. Tapi hati hati.

Kenapa?

Di sana banyak monster terus ada ular naga yang suka makan anak kecil. Terus katanya lagi ada perangkap lumpur berpasir yang bisa menghisap manusia hidup-hidup.

Ini udah ada pedang.

Tapi pedangnya kenapa cuma satu?

Nanti pake kekuatan pikiran bisa jadi dua, tiga, empat, lima.

Tapi kan kita tadinya cuma mau keliling kota.

Ga usah lah. Ini udah bukan tahun tujuh dua.

Okeh.

Okeh.

Ayo kita terbang ke sana ke sini ke mana mana.

Ayo.

Wusssss...

Terbang deh...

[hahaha.. cuma luapan gejolak impulsif yang sangat sangat sangat menggoda]