Cool - SpaceAstronout (The Milo cover)

Kamis, 05 Oktober 2017

Cerita Lahirannya Bob - Stanislaus Banyu Mahadri :)



Stanislaus Banyu “Bob” Mahadri, lahir pada 11 April 2017, 16.02 WIB, lewat proses gentle C-section. Banyak yang ngira saya lahiran normal loh hahaha, mungkin akibat pencitraan persiapan lahiran mulai dari kelas hypnobirthing, kelas privat, prenatal yoga, karena emang rencananya pingin lahiran normal. Tapi seperti biasa, pada akhirnya manusia bisa berencana, Tuhan yang menentukan :)

Kenapa saya bilang gentle C-section? Karena gentle birth itu bukan masalah lahir normal atau cesar, tapi bagaimana proses kelahiran bisa dijalani dengan trauma seminim mungkin. Setelah saya menjalani proses kelahiran dan menyusui selama hampir enam bulan ini, saya menyadari bahwa soal trauma itu tidak hanya trauma rasa sakit, tapi juga trauma secara mental, ketika hal yang kita rencanakan tidak sesuai dengan kenyataan. Memahami konsep gentle birth membantu saya untuk selalu ikhlas dan pasrah dengan apapun proses yang saya alami sehingga bisa selalu positif dan membantu proses bonding antara saya dengan Bob setelah dia lahir.

Saya menjalani pembukaan 2 selama 5 hari dan pembukaan 3 selama 2 hari, karena pembukaan macet di 3 dan usia kehamilan sudah masuk week 40, akhirnya dokter obsgyn saya, dokter Agung memutuskan untuk induksi. Padahal pinginnya kan bisa melahirkan tanpa ada intervensi apapun, pinginnya sealami mungkin. Tapi setelah diskusi panjang lebar dengan suami dan mempertimbangkan kondisi fisik saya yang mulai drop karena hampir seminggu tidur kurang gara-gara kontraksi hebat yang datang dan pergi, maka kami setuju untuk induksi.

Induksinya sakit ga? Well, jauh lebih sakit kontraksi alami yang saya rasakan selama seminggu terakhir. Kontraksi yang gara-gara induksinya mah gitu-gitu aja. Hahaha

Selama induksi dibantu doula mba Mila saya ceria dan positif, ga sabar ketemu dedek bayi. Masih bisa main gymball, rebozzo, makan siang, jalan-jalan, ketawa bercanda. Tiga jam kemudian, ketuban pecah, tapi ternyata pembukaannya ga nambah, masih di 3, dan kemudian denyut jantung dedek drop – masuk kondisi gawat janin. Sedih dan agak down sebenar-benarnya begitu tau pembukaan ga nambah, apalagi ketika dokter bilang harus cesar karena gawat janin. Mungkin karena down, saya yang sebelumnya merasa santai jadi tegang dan shock. Setiap kontraksi datang rasanya sakit banget. Walau sesaat kecewa karena haru C-section, tapi saya ingat afirmasi yang selalu saya bilang tiap malam :  Bisa bertemu dengan dedek janin dalam keadaan sehat. Jadi bila memang haru C-section maka ikhlas dijalani.

Operasi C-section bukan berarti bebas rasa sakit untuk kasus saya. Berhubung tindakan cesarnya mendadak, maka saya harus menunggu satu jam untuk persiapan operasi. Itu satu jam paling lama yang saya rasakan karena kontraksi sudah intens dan sakitnya pas mantap. Hehehe. Nah kepake deh itu ilmu yoga dan hypnobirhthing. Segala cara nafas yang diajarkan di kelas yoga saya coba semua. Dan ilmu hypnobirthing lewat afirmasi kepake untuk bisa mengatasi rasa sakit selama satu jam. Mba Mila membantu memberi afirmasi positif supaya nafas saya tetap stabil. Karena setiap nafas saya memendek karena kesakitan, denyut jantung bayinya drop. Air mata menetes dikit sih, tapi bukan karena sakitnya, lebih karena sebuah kesadaran penuh bahwa Bob butuh oksigen dan semua itu tergantung saya untuk terus bisa bernafas dengan baik.

Sebenarnya sudah ada plan kalo harus cesar ada musiklah, ini lah , itu lah. Tapi ya karena keputusan tindakannya dadakan, yang keinget sebelum masuk kamar operasi cuma ngasih minyak lavender ke tangan, itu pun mba Mila yang ngasih. Hahaha. Dan akhirnya pukul 16.02 Bob lahir dengan suara tangisan keras berat badan 3,6 kg - lebih berat dari perkiraan usg yang 3,2 kg dan panjang 51 cm. Bob besar kayak bapaknya hahaha. Ga sia-sia saya nambah berat badannya banyak banget, anaknya ternyata emang gede hehehe.

Begitu Bob lahir, sayangnya momen sayang-sayangan bertiga bareng suami sambil IMD 30  menit lagi-lagi hanyalah rencana. Berhubung operasinya dadakan, saya ga pake puasa. Jadi begitu Bob lahir dan ditaroh di atas dada saya, ga lama kemudian saya muntah. Langsung deh Bob diambil dari saya Hahaha. Udahlah muntah, terus menggigil kedinginan, terus akhirnya ketiduran. Bangun-bangun udah di ruang recovery. Hahaha.

Walaupun tanpa IMD,  dan kolostrum saya ga keluar, saya ga panik karena saya tahu apa yang harus dilakukan – skin to skin sama Bob. Begitu masuk kamar, saya langsung skin to skin dengan Bob selama yang saya mau. Itu saya yang proaktif minta, hihi. Foto yang saya taro di atas itu foro skin to skinnya saya dengan Bob. Liat deh mukanya Bob, damai kan ya. Lalu berkat militansi dari dokter-dokter laktasi dan juga perawat KMC, Bob sudah bisa nyusu keesokan harinya. KMC ini sistemnya room-in, dokter laktasi visit setiap hari untuk cek pelekatan dan perawat yang ngecek tiap shift selalu bantu saya menyusui dengan memberi tips atau membetulkan posisi menyusui. Ohiya tambahan. Nipple saya itu agak datar jadi sejak bulan ke 8 saya sudah pakai nipple former sehingga pas hari H –nya, nipple saya sudah kenyal, jadi walaupun datar Bob lebih mudah menyusui. Ohiya untuk nipple yang flat ada tips2 tersendirinya buat menyusui dan ini saya dapatkan dari para perawat dan dokter laktasi KMC.

Menyusui sendiri menurut saya adalah seni, ga ada pakem yang saklek, harus pake trial and error, karena tiap bayi punya karakternya sendiri-sendiri. Hihihi. Tapi saya percaya, koneksi antara saya dan Bob yang sudah saya coba bangun dari sejak kehamilanlah yang juga membantu proses menyusui ini. Walau tanpa IMD, selama skin to skin saya merasakan bahwa Bob bisa mengerti apa yang ada di kepala saya. Proses belajar menyusui berjalan dengan lancar tanpa drama walaupun ASI saya baru keluar di hari ke 2. Bob juga cenderung tidak rewel, ketika bayi lain terdengar menangis meraung-raung dari kamar sebelah, saya bisa tidur cukup selama di rumah sakit. Proses lahiran mungkin ga sesuai rencana, tapi soal menyusui, saya masih punya kesempatan untuk sesuai rencana, memberi ASI ke Bob sampai 2 tahun.

Ohiya satu lagi, pas baru lahir, kepala Bob munjung karena uda ndusel-ndusel ke arah rahim, jadi sering dikira kalo  Bob lahirnya normal hahaha. Well, di hari terkahir sebelum kami pulang dari rumah sakir dr Agung bilang bahwa kepala bob dan rahim saya bentuknya agak beda, sehingga kalaupun pembukaan saya lancar sampai 10 proses lahirannya akan sulit dan menyakitkan, jadi menurut dia C-section adalah option terbaik. Saya jadi inget salah satu hal yang saya ingat dari kelas Hypnobirthing - bayi kita juga akan memilih bagaimana cara dia dilahirkan. So I believe this is how Bob want it to be hihihi dan yang pasti terbaik karena sampai detik ini baik saya dan Bob dalam keadaan sehat tanpa kurang satu apapun.

Sempat baby blues kah? Well, so far manageable sih :) Ga sempet ngalamin nangis-nangis tapi seringnya marah-marah haha itu termasuk baby blues ga sih? Faktor penting lainnya juga adalah saya punya supporting sistem yang sangat-sangat baik. Suami yang standby 24 jam di samping saya dan Mama Papa Tony Paskal Mama Papa Mertua semuanya yang sangat sigap selama proses lahiran sampai setelah lahiran dalam membantu dan mensupport saya.

Demikianlah cerita proses lahiran saya yang walau jauh dari rencana awal terasa sangat menyenangkan, syahdu dan indah. Seperti yang sudah saya share di atas tadi, karena sudah belajar mengenai konsep gentle birth dan hypnobirthing, walau banyak hal-hal yang tidak sesuai ekspetasi, saya merasa bisa melaluinya dengan baik tanpa rasa kesal atau sedih, tapi lebih fokus ke solusi dan langkah perbaikan ke depannya.

Terimakasih untuk Mba Fonda, Bu Lanny atas kelas Hynobirthing Hypnobreastfeedingnya, mba Yessie @bidankita untu kelas privatnya, Nujuhbulan studio untuk kelas yoga di trimester ke 2 dan mba Mila, doula serta instruktur yoga di trimester terakhir.

Demikian cerita proses kelahirannya BOB. Semoga sharing ini berguna ya buat yang lagi mau lahiran atau sedang mempersiapkan kelahiran yaaaa :)

Kamis, 23 Maret 2017

My Prenatal Yoga Journey

Sejak hamil, bawaannya itu emang jadi males termasuk males olahraga.
Plus karena pas minggu ke 10 sempet ngeflek dan harus bedrest, makin maleslah buat gerak.
Sampai kemudian pas minggu ke 20, saya dan maskoko ikut kelas Hypnobirthing, dan di situ dibilang bahwa olahraga itu wajib untuk tetap positif, sehat dan siap menghadapi kelahiran. Baru deh dari situ nyari-nyari kelas prenatal yoga.

Kenapa prenatal yoga? Kenapa ga yang lain? Ya karena dulu banget waktu saya masih muda belia aka umur awal 20an, sempat ikut kelas yoga dan merasa enjoy, tapi setelah itu kenal sama yang namanya lari, jadi deh sok sok runner dan bye bye yoga hahaha.

Nah nyari kelas prenatal yoga yang jadwalnya bersahabat dengan pegawai kantoran itu agak ribet. Di Pro-V clinic itu ada kelas yoga, tapi nyoba dua kali booking, jadwalnya ga match terus -___- Sampai akhirnya temen ngasih referensi Nujuhbulan yoga studio. Nah yang ini ternyata jadwalnya cocok karena ada yang hari Sabtu siang. 

Setelah email-emailan, pilih paket, bayar deh. Kalo di Nujuhbulan, sebelum ikut prenatal yoganya harus ikut introduction classnya dulu. Baru habis itu ikut kelas prenatal yoga yang reguler. Di sini ketemua dua guru yoga, mba Tia yang juga adalah ownernya, dan mba Sinta yang juga merupakan doula. Trik supaya rajin ikut yoga adalah bayar yang paket! Hahaha, supaya ga sayang duitnya hehehe.

Nujuhbulan ini rame banget cin.. Kelas yang kapasitas 10 kadang sampe isinya 12 karena banyak banget ya yang hamil di sekitaran Bintaro hahaha. Kemudian mba Tia akhirnya nambah jam kelasnya yang tadinya cuma Sabtu doang jadi Sabtu dan Minggu. Nah habis itu jadi lumayan deh lega.

Nujuhbulan punya kelas Childbirth Educationnya, sayangnya ini kelas uda fully book sampe duedatenya si Bob, jadi ya ga apa-apa deh. Lagian kan uda ikut kelas Hypnobirthing nya bu Lanny juga. (menghibur diri aja sih ini hahaha)

Kemudian, memasuki minggu ke 30, saya dan suami memutuskan bahwa kita mau pake doula aja waktu melahirkan karena kalo menurut saya doula adalah orang ketiga terbaik yang bisa dipercaya dalam situasi panik. Saya langsung kontak mba Mila yang ikut ngasih materi pas kelas Hypnobirthing, eh ternyata jadwalnya cocok. Nah mba Mila ini ngajar yoga di proV clinic. Jadi setelah ngabisin pake di nujuhbulan, saya memutuskan untuk ikut kelas yoganya mba Mila.

Kalo di proV clinic, jadwal yoganya juga rebutan karena satu kelas cuma isi 6 orang aja dan harus reservasi, Akhirnya saya kesampaian juga yoga di pro V clinic pas week 35. Nah karena uda week 35, walaupun gerakan lebih dikit tapi capek banget hahaha.

Plus minusnya ya :

Kalo di nujuhbulan, kalo belum pernah yoga, ini kelasnya enak karena gerakannya walaupun banyak tapi ga gitu sulit sih. Terus ga harus booking, jadi dulu-duluan dateng aja buat dapet seat yang enak. Terus mba Tia atau mba Sinta nya santai orangnya. Kalau ada keluhan tinggal bilang, nanti dikasih tau gerakan yang bisa bantu ngurangin sakitnya. Minusnya hmmm paling jadi kurang privat, karena kan ada banyak orang jadi saya sih suka malu kalo mau berkeluh kesah hahaha. Tapi sejak kelas dibagi dua jadi lebih enak.

Kalo di proV clinic, karena bener2 cuma 6 orang, jadi treatmentnya lebih private. Sama doulanya kita ditanyain satu-satu apa keluhannya, terus di akhir sesi dikasih PR gerakan yang harus dipraktekin sesuai keluhan. Terus gerakan lebih dikit dari yang di nujuhbulan tapi bener-bener dicekin satu-satu huhuhu. 

Nah menurut saya sih kalo masih trimester 2 ikut kelas di proV clinic mungkin jadinya kurang seru karena kesannya "gitu doang", lebih enak di nujuhbulan karena lebih "keringetan", Tapi  begitu udah masuk week 30, kayaknya lebih cocok di proV soalnya lebih private dan mba Milanya juag sering ngasih teori-terori tiap gerakan, jadi gerakan emang lebih dikit tapi kita ngerti kenapa kita musti ngelakuin itu.


Demikian review saya soal dua kelas prenatal yoga yang saya ikuti. Semoga berguna :)