Cool - SpaceAstronout (The Milo cover)

Rabu, 13 Oktober 2010

Bastian

Sore ini dapat sms bahwa teman sebangku saya waktu smp kelas dua meninggal dunia. Bastian namanya.

Membaca sms itu saya langsung merinding. Waktu kelas tiga smp atau satu sma, saya lupa tepatnya, Bastian divonis gegar otak. Setelah itu, menurut kabar dari teman-teman yang masih tinggal di Medan, dia sakit-sakitan dan sempat cuti satu tahun untuk pengobatan dan operasi. Gegar otak yang dialami Bastian disebabkan benturan keras. Walau tidak pasti, tapi saya dan teman-teman kelas dua saya yakin, penyebabnya adalah pukul keras dengan penggaris kayu papan tulis yang diterima Bastian dua kali berturut-turut dalam satu hari yang sama oleh dua guru yang berbeda waktu kelas dua smp.

Iya. Saya kurang begitu mengingat kejadian detilnya. Yang saya ingat, ada suatu hari di mana Bastian dipukul kepalanya dengan penggaris kayu oleh guru fisika, Pak Simarmata, lalu setelah itu di jam pelajaran yang berbeda oleh guru elektronika, Pak Bangun. Kalau ditanya penyebabnya apa, saya bahkan lupa kenapa. Yang jelas ketika pemukulan terjadi, suasana begitu mencekam. Suara nyaring persentuhan kayu dan tengkorak begitu menyakitkan. Kejadian itu tepat di samping saya. Kata salah satu teman saya, saya sampai menangis.

Saya bertanya-tanya, bagaimanakah reaksi kedua guru saya kalau tahu bagaimana dampak dari pukulan mereka ke Bastian? Dan kalau mengingat masa-masa smp dulu, begitu banyak hukuman fisik yang dianggap "wajar" diterima oleh anak-anak sekolah.

Sms ini memaksa saya untuk mengingat-ngingat lagi apa penyebab dua guru saya itu memukul Bastian. Ingatan yang muncul kemudian membuat kepala saya sakit. Saya bongkar lemari saya dan saya buka kotak "ajaib" berisi surat-surat cinta yang pernah saya terima waktu smp. (Gini-gini waktu smp saya laku :|) Surat Bastian ada di situ.

Ya, dulu di jaman-jaman satu bangku dengan Bastian, dia pernah "nembak" saya. Tapi secara saya tidak suka, saya jadi sewot sama dia. Pernah liat anak perempuan centil yang disenggol dikit udah misuh misuh ga karuan. Itulah saya dulu. Dan seingatan saya, dari dua pukulan di kepala yang diterima Bastian, satu di antaranya adalah karena saya misah misuh gara-gara hal tidak penting yang Bastian lakukan, entah itu apa. Misah misuh saya terdengar si guru, sang guru datang, marah marah, dan "plak...". Pukulan terjadi.

Saya yakin tidur saya tidak tenang malam ini. Akan sangat tidak tenang. Waktu smp, saya bukan orang baik. Saya bawel, jutek, nyebelin deh pokoknya. Terhadap Bastian, sejauh yang saya ingat, bisa dibilang saya bersikap tidak terlalu menyenangkan : jutek, cerewet, kerjanya marah-marah melulu. Dan kalau mau dicari siapa yang salah akan kematian Bastian ini, saya akan dengan sukarela mengajukan diri. Kalau saja saya tidak misah misuh ga penting, mungkin ga begini. Mungkin.

***
Kekerasan dalam pendidikan mungkin semacam seleksi alam. Ada yang kuat menerimanya, ada yang tidak. Sebagian beranggapan kekerasan menjadi semacam "alat" untuk menciptakan ketertiban dan kepatuhan. Tapi di lain sisi, ada berapa banyak korban macam "Bastian"? Saya cerita ke ibu saya soal ini, ibu saya balik bertanya "Kenapa kamu ga ngadu sih waktu itu?". Saya diam.

Mungkin karena waktu itu kami cukup berhasil terkungkung tirani pendidikan dan percaya bahwa kami dihukum karena kami salah. Mungkin karena kami tidak mengerti bahwa dipukul oleh guru adalah bentuk kekerasan yang bisa saja melanggar hukum. Mungkin karena kami tidak mengerti bahwa berbicara, tertawa ngakak, mengeluarkan pendapat dan menjadi diri sendiri adalah HAK kami sebagai anak, bukan sesuatu yang salah atau pun nakal.

Oiya, lupa bilang. Smp saya ini konon katanya adalah salah satu smp terbaik di kota saya tinggal.

***

Bastian, saya cuma bisa berdoa supaya kamu menerima yang terbaik. Apa pun itu. Saya minta maaf. Maaf karena jadi teman sebangku yang cerewet jutek dan sentimen.
Selamat jalan Bastian.

[ ]

1 komentar:

Willy mengatakan...

Git... lw serius??
hmmmm.. jadi teringat kembali masa smp dulu..
Semoga di tenang disana Git..