Cool - SpaceAstronout (The Milo cover)

Selasa, 15 Juli 2008

kaum cerdik pandai.. gw akan bikin! hahahaha...

Baca Kompas kemaren ga?
Di halaman depan, paling atas, paragraf pertama, kalimat pertama. [gw kayak ibu guru..:p]

"Tidak gampang menemukan rumpun kaum intelektual Indonesia yang duduk gelisah karen tergetar oleh momentum peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Benar-benar mati angin!"

yang nulis Rikard Bagun, wartawan senior Kompas.

Ada yang meraa tersinggung ga??
hohohoho...

saya diajar oleh dosen-dosen hebat, ternyata mereka ga masuk hitungan.
saya juga punya senior2 yang garang di lapangan. ga msuk hitungan juga.
saya punya teman-teman yang aktif bergerak di bidang ini itu ke sana kemari. ga masuk itungan juga.

Kemaren baru aja wawancana presiden KM ITB, Shana. Dia cerita soal pertemuan BEM seluruh Indonesia. Yang jadi tuan rumah tahun ini kebetulan ITB. KM ITB membawa soal kemandirian bangsa. Tapi mainframe orang-orang luar masihlah berkisar di aksi-aksi.
Apakah ini juga ga masuk hitungan?
:p

oom Rikard bilang, salah satu gejala memblenya kaum intelektual kita adalah kesulitan menghadapi perubahan. Kalo gitu sih, pantes-pantes aja mahasiswa ga masuk hitungan. OS ditiadain aja jadi ribut setengah mati. :p

Gw baca di kompas minggu lalu. Soal kebijakan pangan kita yang ga jelas arahnya. Dan gw pikir, itu yang ga bisa dimengerti kita-kita para mahasiswa, dan para pejabat, dan mungkin presiden. Soa l perut. Seberapa banyak dari kita yang pernah kelaparan? Seberapa banyak dari kita yang ga bisa makan? Seberapa banyak dari kita yang pernah tidur di tenda darurat? ?

Mahasiswa ga progresif karena yang kita omongin banyak abstraknya. Kita bilang soal karakter bangsa, kita bilang soal kebangsaan. Do we really mean it?

Kita tetep naek mobil walau BBM menggila harganya, bukannya mempraktikan hemat BBM. Kita bahkan ga nyari tahu apakah bibik kosan kita udah pindah ke kompor gas apa belom.
Kita membanggaan bacaan kita yang berbau psikologi modern, atau kisah-kisah inspirasional tentang kemanusiaan. Tapi itu ga bikin kita lebih peka. Bahkan milah sampah aja ga bisa. oops.. jangankan milah sampah. BUANG sampah aja ga tahu caranya.
Kita marah-marah sama junior kita soal konsistensi, soal ketepatan waktu, soal apa pun. tapi kita adalah kakak kelas yang suka cabut, suka NYONTEK..

It sucks! Kita mahasiswa NATO. Dan sistem pendidikan mendukung itu. Karena kita meniru. Meniru mungkin orang tua, mungkin dosen..

Kaum intelektual adalah mereka yang memiliki pengetahuan. Agar memiliki pengetahuan, orang harus belajar, baik secara lisan maupun tulisan. Dan karena begitu banyak pengetahuan disajikan secara tertulis, ya orang yang bisa belajar secara tulisan adalah mereka yang bisa membaca. Kita bisa baca kan?? :(

Gw punya gerakan sendiri untuk semester ini. Dan gw pikir, kalo ada yang tertarik silakan gabung. . .
1. Terhitung sejak kuliah di ITB semester ini dimulai, sesibuk apapun, gw akan meluangkan 90 menit waktu gw untuk diskusi dan merenung. Tempatnya di PSIK. Setiap hari senin jam 8 malam. Ada atau tidak ada orang. Targetnya, gw harus mengeluarkan satu bentuk ide perbuatan selama seminggu. Misal: minggu ini gw ga akan make kantong plastik sama sekali, atau minggu ini gw akan mungutin semua sampah di sekitar gw. Atau yang ekstrim, minggu ini gw pingin puasa,, Apa kek... :p
2. Setiap 2 minggu, gw harus nulis soal pemikiran gw terhadap kejadian di negara ini dengna acuan Kompas. :)

Udah ah, itu dulu. Dengan disiplin kayak gitu, gw harap gw bisa melatih diri gw lebih peka dan bisa lebih responsif terhadap perubahan. sipo!

[Ketawain aja kalo mau.. namanya juga usaha. hehehehe...]

3 komentar:

elisasirait mengatakan...

kan uksu deket tuh ama psik.. ntar aku samperin deh kl lagi lewat..

diskusi ttg apa?? apa ajakan?? curhat termasuk diskusi ga?? hahaha..

tp emg ada jg sih yg mw didiskusiin amamu..
ntar aja ya.. abis sluruh perKPan ini selesai...
hehe.

miss u guys...

mayadunia mengatakan...

Waw, smangat dan berapi-api skali git.. Again, gw tersentil sama kaum intelektual yg gita maksud. Teman saya pernah ngomong :"Pak S****** dari lab P*** itu idenya bagus banget, mendobrak, dan implementable. Padahal dia sering lo ikut proyek di departemen2. Tapi kenapa dia gak milih terjun langsung di birokrasi karena dia terlalu idealis, orang Indonesia apalagi birokrat lamanya belum bisa menerima keidealisannya".
Pasti tahu kan kisah Pak Faisal, ekonom asal UI yang sempat mendaftar menjadi cagub DKI Jakarta jalur independen? Calon yang katanya berasal dari kalangan ilmuwan/pmikir ini bahkan tidak mendapat dukungan banyak dari koleganya. Gimana ya, mungkin masyarakat (atau lebih tepatnya penggerak di masyarakat) cukup pesimis ide-ide yg bersifat breakthrough yang biasanya dikeluarkan oleh kaum intelektual dapat dilaksanakan di kehidupan sehari-hari.
Mungkin ini kali ya, yang jadi penyebab banyak cendekiawan/ilmuwan/pemikir Indonesia yang sangat terbuka dengan perubahan malah mengungsikan diri ke negeri lain. Sayang, memang.

PS: ide untuk gerakannya oke, tuh. Kalau boleh saran, spread the virus to people surround biar gerakannya lebih kerasa, git.

nopi cantik mengatakan...

gw suka target ide bentuk kegiatan selama seminggu
gw ikutan dong
kabar2i minggu ini dan seterusnya mo ngapain
hohoho

dari hal kecil
dari sedikit orang
bisa jadi gerakan besar
semoga perubahan menuju yang lebih baik
hehehe