Cool - SpaceAstronout (The Milo cover)

Jumat, 25 Desember 2009

titik itu untuk memulai kalimat baru.

Kalau mengingat-ngingat pelajaran bahasa dulu, untuk memulai kalimat baru, kita harus membubuhkan tanda titik di akhir kalimat sebelumnya. Selain itu, bila kita membaca, tanda titik merupakan tanda di mana kita harus mengatur nada suara kita sedemikian rupa sehingga orang tahu bahwa kalimat baru akan diucapkan.

Saya pikir, masalah "tanda titik" ini juga berlaku dalam hidup.

Maksudnya gini.

1. Kadang-kadang kita begitu enggan untuk membubuhkan tanda titik dalam salah satu cerita hidup kita.

Walaupun kita sudah tahu bahwa ini adalah akhirnya, tapi rasanya ga mau berakhir. Ga pingin titik, ga pingin selesai, ga pingin pulang. Padahal ini udah akhirnya. Terus yang ada, kita ga mau membubuhkan tanda titik sehinnga kalimat yang harusnya berakhir itu malah jadi tambah berantakan karena kata yang tertulis selanjutnya ga keruan. Ketika hidup kita terpaku dengan masa lalu, yang ada hidup jadi berantakan kan?

Ato kalo kita lagi suka sama orang nih, tiba2 orangnya pacaran sama orang lain. Itu kan sebenernya isyarat kalo kita harus ngasih tanda titik di cerita kita. Ato kalo orangnya udah ngasih tanda-tanda "i'm not in to you..". Itu artinya segera kasih tanda titik. Ayo.. ayo.. udahan..Cuma kok rasanya ga rela... Kalo uda demen emang susah si.. hahaha... Tapi apa manfaatnya coba? Malah nyiksa diri sendiri..

2. Kadang-kadang kita enggan membaca tanda titik yang sudah dibubuhkan di kalimat yang sedang kita baca.

Yang ada, apa yang kita baca jadi ga jelas, ga nyambung dan berantakan. Misalnya nih, kita udah lulus nih ya dari kuliah. Berarti kan udah titik tuh ya segala macam attitude kuliahan kita yang ga bertanggung jawab. Yang malas-malasan, yang sembarangan, yang ga komit. Kita begitu enggan menghadapi realita bahwa hidup itu berat. Jadi tanda titiknya ga kita baca. Ga mau berubah, tetep gitu-gitu aja..

Atau kalau udah putus dari pacar tapi masih pingin banget kembali lagi, padahal kan uda selesai tuh. Kita ga mau baca titiknya, kita tetep nyambung ke kalimat selanjutnya. Berantakan kan? Kayaknya kalo hidup dengan dibayang-bayangi masa lalu ga enak deh.. Berantakan..

3. Kadang-kadang kita akhirnya bisa menerima bahwa tanda titik itu ada di situ dan membacanya. Tapi masalahnya, kita ga bisa memulai awal yang baru.

Ini merujuk pada dua poin sebelumnya..
Kita menolak adanya tanda titik karena kita ga tahu bagaimana cara memulai awal yang baru. Ketika akhirnya titik itu bisa diterima, kalimat baru tidak pernah mncul lagi. Stop aja di situ..
Ga mau bangkit lagi, ga mau semangat lagi..

Saya baru membubuhkan tanda titik di salah satu cerita hidup saya, dan juga baru saja mendapatkan sabuah tanda titik pada cerita lain yang sedang saya baca. Sementara di lembaran cerita saya yang lain, kalimatnya mandeg. Titik dan ga lanjut-lanjut lagi.

Tanda titik itu untuk memulai kalimat baru. Dan hidup saya harus tetap berlanjut untuk sebuah kalimat baru, sebuah edisi baru.

Ga usah nunggu tahun baru lah.. Hari ini saya mau memulai hidup saya dengan sebuah kalimat baru!!

Jadi inget sebuah tag blog temen baik saya, Hanna. Intinya.. cuma hidup yang bermakna yang pantas dijalani.. I'll make it.
:)

SEMANGAT!

2 komentar:

oknum berinisial depan "a" dan berinisial belakang "ul" mengatakan...

wow.cool..keren..goyang dangdut biar semangat git...

Ikra Amesta mengatakan...

nice piece!